Rupiah Rabu pagi menguat 15 poin

IMF: Konflik Rusia-Ukraina akan dorong inflasi tinggi lebih lama

IMF: G20 harus dongkrak upaya bantu negara-negara pangkas risiko utang

IMF pangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2022 jadi 4,4 persen

Euro jatuh ke terendah satu bulan, investor lari ke dolar

Yuan turun tipis tujuh basis poin menjadi 6,3418 terhadap dolar AS

Emas datar, kehati-hatian jelang pertemuan Fed imbangi risiko Ukraina

Rupiah Selasa pagi melemah 16 poin

Korsel pertimbangkan perluasan perdagangan won ke pasar internasional

Bank sentral Singapura perketat kebijakan moneter terkait inflasi

Yuan terangkat 81 basis poin menjadi 6,3411 terhadap dolar AS

Rupiah Senin pagi menguat 24 poin

PNM buka kantor layanan baru di Maluku Tengah dan SBB

BNI salurkan bantuan untuk keluarga Pekerja Migran Indonesia

Kesenjangan di Indonesia menyempit

KPR BRI Virtual Expo sukses catatkan 4.000 pengajuan

Peruri siap arungi 2022 dengan mematangkan transformasi digital

Tito Karnavian apresiasi realisasi APBD Riau nomor 4 nasional

Dolar turun bersama “yields” obligasi AS, namun naik untuk minggu ini

Dirjen Pajak dorong masyarakat manfaatkan pengungkapan harta sukarela

Pertemuan Kelompok Kerja Infrastruktur G20 dorong pemulihan global

UNCTAD: FDI global “rebound” kuat tetapi pemulihan sangat tidak merata

Rupiah Kamis pagi menguat 22 poin

Pelaku fintech nilai pandemi percepat akselerasi digital

BRI dapat penghargaan sebagai Bank Umum Penyalur KUR Terbaik 2021

Prudential dorong peningkatan literasi keuangan untuk anak-anak

Trenggono keluarkan 44 instruksi, tindak lanjuti rekomendasi BPK

Rupiah Rabu pagi melemah 27 poin

Nilai tukar dolar AS naik dipicu lonjakan imbal hasil obligasi

2015-2021, penduduk miskin di Kalteng menurun

Dolar AS menguat dipicu ketidakpastian atas krisis utang Evergrande

Kami berada dalam salah satu situasi, dan ini tidak selalu terjadi, di mana dolar diuntungkan oleh banyak gagasan.

New York () – Dolar AS menguat pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), bersiap untuk kenaikan minggu ketiga berturut-turut terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya, karena ketidakpastian atas pengembang properti China Evergrande yang terlilit utang membantu greenback bangkit kembali dari penurunan tajam di sesi sebelumnya.

China Evergrande Group berutang 305 miliar dolar AS dan kekurangan uang tunai, melewatkan tenggat waktu Kamis (23/9/2021) untuk membayar 83,5 juta dolar AS kupon bunga dan membuat investor mempertanyakan apakah mereka akan melakukan pembayaran sebelum masa tenggang 30 hari berakhir.

Runtuhnya perusahaan tersebut dapat menciptakan risiko sistemik terhadap sistem keuangan China.

Mata uang aman dolar mengalami persentase penurunan satu hari terbesar dalam sekitar satu bulan pada Kamis (23/9/2021) setelah Beijing menyuntikkan uang tunai baru ke dalam sistem keuangan dan Evergrande mengumumkan akan melakukan pembayaran bunga pada obligasi dalam negeri, sehingga meningkatkan sentimen risiko.

Yuan China di pasar luar negeri melemah terhadap greenback pada 6,4641 per dolar.

Penurunan terjadi sehari setelah greenback terangkat oleh pengumuman Federal Reserve AS pada Rabu (22/9/2021) bahwa kemungkinan akan mulai memangkas pembelian obligasi bulanan segera setelah November dan kenaikan suku bunga mungkin mengikuti lebih cepat dari yang diperkirakan ketika bank sentral menjauh dari kebijakan krisis pandemi.

Baca juga: Rupiah ditutup terkoreksi masih dipengaruhi sinyal tapering The Fed

“Kami berada dalam salah satu situasi, dan ini tidak selalu terjadi, di mana dolar diuntungkan oleh banyak gagasan,” kata Joseph Trevisani, analis senior di FXStreet.com.

“Ekonomi AS memang terlihat lebih baik daripada sebagian besar pesaingnya, ada ketakutan yang tersisa di luar sana atas Evergrande dan apa lagi yang ada di luar sana dalam sistem ekonomi dan politik China yang agak tidak transparan, ditambah The Fed tampaknya akhirnya siap.”

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya naik 0,237 persen, dengan euro turun 0,2 persen menjadi 1,1713 dolar.

Presiden Fed Kansas City, Esther George mengatakan pasar tenaga kerja AS telah memenuhi ujian bank sentral untuk mengurangi pembelian obligasi bulanannya, dan diskusi sekarang harus beralih ke bagaimana kepemilikan obligasi besar-besarannya dapat memperumit keputusan kapan harus menaikkan suku bunga.

Presiden Fed Cleveland, Loretta Mester menggemakan sentimen untuk tapering tahun ini, dan mengatakan bank sentral dapat mulai menaikkan suku bunga pada akhir tahun depan jika pasar kerja terus membaik seperti yang diharapkan.

Baca juga: Emas naik ditopang pelemahan dolar dan berlanjutnya risiko Evergrande

Dalam sambutan yang disiapkan dalam sesi mendengarkan bersama sejumlah besar pemain ekonomi, Ketua Fed Jerome Powell tidak menguraikan prospek kebijakan ekonomi atau moneternya sendiri, yang telah ia uraikan pada penutupan pertemuan Fed dua hari pada Rabu (22/9/2021).

Sterling melemah sehari setelah komentar hawkish dari bank sentral Inggris (Bank of England) pada Kamis (23/9/2021) mendorong pound ke persentase kenaikan satu hari terbesar sejak 23 Agustus.

Yen Jepang melemah 0,43 persen versus greenback di 110,77 per dolar, sementara sterling terakhir diperdagangkan di 1,3666 dolar, turun 0,36 persen.

Mata uang kripto merosot setelah regulator China yang paling kuat meningkatkan tindakan keras negara itu terhadap aset digital, dengan larangan menyeluruh pada semua transaksi kripto dan penambangan kripto.

Bitcoin, mata uang kripto terbesar di dunia, terakhir turun 5,89 persen menjadi 42.256,47 dolar.

Uang kripto yang lebih kecil, yang umumnya bergerak seiring dengan penurunan Bitcoin. Ether terakhir turun 8,08 persen menjadi 2.899,10 dolar, sementara XRP terakhir turun 7,28 persen menjadi 0,93 dolar.

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © 2021