Toyota Yaris WRC Returns to Home Roads for an Autumn Rally Finland

Xilinx and NEC Accelerate Next-Generation 5G Radio Units for Global Deployment

Mitsui Chemicals Teams up With NEC and dotData to Trial AI-based Price Change Forecasting for Market-Sensitive Products

Gradiant Mencapai Pertumbuhan Yang Kuat Di Seluruh Asia di Pengolahan Air Cleantech selama Pandemi

Moonstake Joins Hyper Protect Accelerator, A Startup Incubator Program of IBM

Justin Sun: Preserve the Blockchain Spirit of Compliance and Transparency

Fujitsu Sources 100% of Energy Needs for Global HQ from Renewables

Kemenperin: Kawasan Peruntukan Industri dorong ekonomi daerah

Chengxin China akan berinvestasi dalam proyek lithium di Indonesia

Agilex Biolabs Announced as Citeline Award Finalist for COVID-19 Vaccine Toxicology Preclinical Research

Animoca Brands uses Blockpass’ On-chain KYC(TM) to verify NFT prize winners

Pelumas ECSTAR punya varian baru untuk motor dan mesin kapal

Honda and Google Collaborate on In-vehicle Connected Services

LPEI danai Rp50 Miliar ke PT Sarinah dukung UMKM Go Global

Produksi baja global anjlok pada Agustus, pertama kali dalam setahun

StanChart sebut krisis Evergrande tidak kurangi antusiasme untuk China

ACROMEC’s associated Life Science Incubator launches Co-working Labspace

Dolar AS tergelincir terseret meningkatnya sentimen risiko global

FBS Trader App Shows a Perfect Example of Economic Calendar

Perbankan diminta lindungi nasabah dari serangan siber

LPS: Transformasi digital bisa jadi pemicu kebangkitan BPD

Airlangga minta pelaku usaha manfaatkan kredit murah, pulihkan usaha

APOLLO FUTURE MOBILITY GROUP announces key executive appointments and ramping up of AFMG German innovation hub to reinforce its ESO presence

Gala Games Joins World Esports and Gaming Summit – Asia as Headline Sponsor

First Time in the World, Honda Launches the All-New Honda BR-V in Indonesia with Totally New Design and More Advanced Features

PT KCIC lakukan langkah mitigasi untuk cegah banjir

Corinium Presents: CISO Online ASEAN

Nissan uji daur ulang motor kendaraan listrik

Pendapatan Hyundai – Kia turun imbas krisis chip

Evergrande terlilit masalah finansial, Hengchi 7 sulit diproduksi

Dolar kehilangan arah, pelaku pasar tunggu Fed tetapkan kebijakan

Agar dolar melemah lagi, kita harus memiliki sejumlah besar aliran masuk ke pasar negara berkembang, dan saya tidak dapat melihat itu terjadi dalam waktu dekat

Bengaluru () – Arah dolar berada dalam ketidakpastian karena pasar keuangan menunggu jalur yang lebih jelas dari kebijakan Federal Reserve (Fed) AS, menurut jajak pendapat Reuters terhadap para analis valas yang terpecah di mana mereka memperkirakan mata uang itu akan diperdagangkan selama tiga bulan ke depan.

Pada posisi kurang menguntungkan bahkan sebelum komentar Ketua Fed Jerome Powell Jumat lalu (27/8/2021) di Jackson Hole, greenback telah kehilangan hampir 1,4 persen sejak mencapai tertinggi sembilan bulan sekitar dua minggu lalu. Tapi masih naik sekitar 3,0 persen untuk tahun ini.

Sementara para analis dalam jajak pendapat pada 30 Agustus – 2 September terhadap hampir 60 ahli strategi valas memperkirakan greenback akan menyerahkan sebagian besar kenaikan tersebut selama tahun mendatang, mereka semakin tidak yakin tentang prospek jangka pendek dan menengah.

“Ada dua kekuatan penting ketika kita melihat arah dolar. Yang pertama adalah pemulihan global dan momentum yang kita lihat baru-baru ini dan poin kedua jelas merupakan respons bank sentral terhadap hal itu,” kata Ahli Strategi Pasar Global JP Morgan Asset Management, Kerry Craig, di Melbourne.

“Karena kedua kekuatan itu bersaing saat ini, kami relatif netral tentang arah dolar AS.”

Boleh jadi Fed akan mengurangi pembelian obligasi bulanan senilai 120 miliar AS, yang diperkirakan oleh mayoritas lebih dari 75 persen dari 51 analis, akan diumumkan oleh bank sentral pada kuartal terakhir tahun ini, akan membantu imbal hasil obligasi pemerintah AS bergerak lebih tinggi.

"Pada akhirnya, kami berpikir di dunia di mana imbal hasil riil akan terus meningkat selama beberapa bulan mendatang, kemungkinan dolar positif," kata Kepala Strategi Valas Morgan Stanley, David Adams, di Amerika Utara.

"Kami terus menjadikan dolar bullish, terutama versus mata uang pendanaan dengan imbal hasil rendah – yaitu yen Jepang dan euro."

Data dari Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS yang dirilis pada 27 Agustus menunjukkan spekulan sekali lagi meningkatkan posisi net long dolar AS mereka.

Tetapi menggarisbawahi ketidakpastian yang kuat, tidak ada konsensus di para analis yang menjawab pertanyaan tambahan tentang bagaimana dolar akan diperdagangkan selama tiga bulan ke depan.

Meskipun 23 dari 60 ahli strategi mengatakan mereka memperkirakan mata uang akan diperdagangkan di sekitar level saat ini, 25 mengatakan secara umum lebih tinggi dan 12 sisanya memilih secara luas lebih rendah.

Sementara berpegang teguh pada pandangan lama mereka tentang melemahnya dolar selama 12 bulan, para analis menjadi skeptis.

Baca juga: Harga emas jatuh 4,5 dolar, investor tunggu laporan pekerjaan AS

Ditanya seberapa yakin mereka dalam pandangan itu, 62 persen ahli strategi atau 36 dari 58, mengatakan mereka tidak percaya atau tidak percaya sama sekali. Dua puluh dua memilih percaya.

Dengan sebagian besar mata uang utama diperkirakan akan menguat terhadap dolar dalam 12 bulan ke depan, euro diperkirakan naik sedikit di atas 2,0 persen untuk periode yang sama. Mata uang bersama itu turun 3,0 persen sejauh tahun ini.

Sebagian besar mata uang pasar negara berkembang juga diperkirakan melemah atau paling baik bertahan pada kisaran selama tiga hingga enam bulan ke depan, karena penarikan stimulus AS dapat mendorong investor menghindari mata uang yang disebut "lima rapuh" (fragile five) – Turki, Afrika Selatan, Brazil, India dan Indonesia – seperti yang mereka lakukan pada tahun 2013.

"Dolar cenderung melemah ketika kita memiliki banyak selera risiko, menarik uang ke pasar negara berkembang dan apa yang kita lihat baru-baru ini adalah varian Delta benar-benar mengguncang pasar Asia dan tingkat ketidakpastian itu telah diperkuat oleh perdebatan tapering," kata Kepala Strategi Valas Rabobank, Jane Foley, di London.

“Ini adalah kombinasi dari dua faktor yang telah melihat aliran ditarik kembali ke dolar. Agar dolar melemah lagi, kita harus memiliki sejumlah besar aliran masuk ke pasar negara berkembang, dan saya tidak dapat melihat itu terjadi dalam waktu dekat.”

Baca juga: Wall Street menguat, S&P dan Nasdaq pertahankan rekor penutupan

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © 2021