Mengenal porang, tanaman liar yang semakin jadi primadona petani

Reporter: Noverius Laoli, SS. Kurniawan | Editor: S.S. Kurniawan

– Porang semakin jadi primadona petani di Indonesia. Padahal, dulu tanaman ini hanya dianggap sebagai tumbuhan liar di pekarangan rumah dan perkebunan. 

Kini, semakin banyak petani di sejumlah daerah yang membudidayakan porang. Maklum, di pasar ekspor, umbi porang yang diolah jadi tepung banyak dicari.

Ketut Sukarya, misalnya. Petani kopi asal Tabanan, Bali, ini sekarang juga membudidayakan porang. “Dulu memang banyak tumbuh liar di kebun,” katanya kepada , Senin (5/4).

Menurut dia, saat ini banyak petani kopi di daerahnya yang membudidayakan porang. Sebab, petani tidak perlu merawat apalagi memberi pupuk tanaman umbi-umbian dengan nama latin Amorphophallus muelleri itu.

Baca Juga: Pernah Jadi Pemulung, Kini Paidi Sukses Menjadi Miliarder Porang

Yang punya duit berlebih, Ketut mengungkapkan, menyewa lahan berhektare-hektare untuk ditanami porang. “Harga jualnya saat ini Rp 8.000-10.000 per kilogram,” ujarnya yang juga menjual bibit porang. 

Di beberapa daerah di Jawa, tanaman porang dikenal dengan nama iles-iles. Porang biasanya dimanfaatkan dengan diolah menjadi tepung yang dipakai untuk bahan baku industri untuk kosmetik, pengental, lem, hingga mie ramen.

“Umbi porang dapat diolah dan dimanfaat sebagai bahan baku pembuatan beras porang, konyaku, dan tepung porang. Petani harus paham syarat tumbuh dan cara budidaya porang untuk mendapatkan hasil panen yang baik,” ungkap Muhajie, praktisi agribisnis porang.

Meningkatkan kesejahteraan petani 

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, porang merupakan komoditas pertanian yang sangat berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan berpotensi meningkatkan kesejahteraan petani. 

Baca Juga: Kementan dukung pengolahan dan pemasaran porang di Banyumas

Selanjutnya


  • INDEKS BERITA

Tag
  • porang
  • petani
  • Kementerian Pertanian