Menkop: Produk UMKM harus mengarah pada custom product

Menkop: Produk UMKM harus mengarah pada custom product

Reporter: Ratih Waseso | Editor: Handoyo .

– JAKARTA. Menteri Koperasi dan UKM (MenkopUKM) Teten Masduki menegaskan, perlu ada perubahan strategi yang besar dalam membangun ekosistem ekonomi yang terintegrasi. Untuk itu perlu ada gerakan transformasi usaha informal yang kebanyakan usaha mikro, dimana jumlahnya mencapai 98% dari 64 juta pelaku usaha, menjadi usaha formal atau usaha kecil. Juga, perlu transformasi dari usaha kecil menjadi usaha menengah.

“Digitalisasi disertai pendampingan menjadi salah satu alat yang efektif dalam usaha menaikkelaskan mereka. Selain itu, mungkin juga harus mulai dipikirkan akan fokus usaha dimana mereka itu,” tutur Teten dalam siaran pers yang diterima pada Minggu (8/11).

Semua negara di dunia sekarang juga melirik apa saja kemudahan dalam ekonomi domestik masing-masing, maka fokus usaha bagi upaya transformasi ekonomi informal itu menjadi penting.

Teten menambahkan, jenis usaha UMKM tidak bisa lagi hanya sekadar berkutat pada yang itu-itu saja. Namun, perlu adanya desain ulang. “Produk UMKM harus mengarah pada Custom Product, yaitu produk yang disesuaikan dan dirancang untuk promosi merek atau produk yang dipersonalisasikan,” ujarnya.

Baca Juga: Menkop UKM ingatkan pentingnya disiplin protokol kesehatan bagi UMKM

Ciri dari produk kustom ini adalah unik, jarang ada yang sama, lebih personal, tidak perlu bersaing dengan harga (tidak seperti produk massal dari pabrik), dan berkualitas yang bisa disesuaikan dengan kemampuan pembeli.

Teten juga melihat, kelemahan UMKM di Indonesia yang belum masuk dalam sistem produksi nasional maupun global. Hal ini berbeda dengan UMKM di China, Jepang, maupun Korea Selatan. Disana, produk mereka seperti elektronik dihasilkan UMKM masing-masing negara tersebut dan merupakan bagian dari rantai pasok indutri besar.

“Kalau di Indonesia, mungkin gap-nya terlalu lebar, sehingga belum mampu jadi sebuah mata rantai produksi,” imbuh Teten.

Selain itu, Teten melihat ada potensi bagi koperasi untuk berperan sebagai agregator, konsolidator bagi UMKM agar bisa mencapai skala ekonomi/skala bisnis, untuk kemudian dihubungkan dengan ekosistem atau rantai produk ekonomi nasional.

Daerah juga harus mampu melihat keungulan domestiknya. Terlebih daerah-daerah Indonesia memiliki kekayaan produk seperti kelautan, perkebunan dan perikanan yang sampai sekarang belum diolah secara optimal. “Itu bisa dikembangkan dalam produk kustom. Dan ini yang akan saya kombinasikan dengan koperasi,” kata Teten.

Harapan Teten, dengan mencapai skala bisnis melalui kluster atau koperasi tersebut, UMKM juga lebih mudah dalam mengakses pembiayaan, memperluas pemasaran. Bahkan, masuk dalam rantai pasok global.

Selanjutnya: Progres pembahasan aturan turunan UU Cipta Kerja klaster UMKM koperasi capai 90%

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.

  • INDEKS BERITA

Tag
  • Kemenkop UMKM
  • UMKM