Sarandi Karya Nugraha gandeng UMKM binaan YDBA untuk penuhi permintaan alat kesehatan

Sarandi Karya Nugraha gandeng UMKM binaan YDBA untuk penuhi permintaan alat kesehatan

Reporter: Ratih Waseso | Editor: Tendi Mahadi

– JAKARTA. Berbagai kolaborasi banyak dilakukan dalam pengembangan UMKM di Indonesia. Salah satunya ialah PT Sarandi Karya Nugraha, perusahaan manufaktur alat kesehatan yang telah memasok produknya ke rumah sakit di berbagai provinsi di Indonesia.

Sarandi yang juga jadi UKM binaan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) sejak 1997, berkolaborasi dengan UMKM binaan YBDA guna pasok permintaan alat kesehatan. Sarandi Karya Nugraha, berkomitmen memberikan order kepada UMKM binaan YDBA yang produknya telah mencapai quality, cost dan delivery (QCD) yang ditetapkan oleh Sarandi.

Sedangkan, YDBA berperan memberikan rekomendasi UMKM binaan yang kompeten membuat produk dengan standar QCD yang diberikan PT Sarandi serta memberikan pembinaan manajerial dan technical kepada UMKM binaan melalui pelatihan, pendampingan dan fasilitasi pembiayaan, sehingga kompetensi UMKM dapat berkembang dan menghasilkan produk sesuai QCD yang dibutuhkan.

Baca Juga: Mendag paparkan strategi tingkatkan ekspor produk halal Indonesia

Isep Gojali pemilik Sarandi Karya Nugraha mengatakan, kolaborasi tersebut diharapkan dapat terjalin selamanya, yang tentunya diharapkan dapat membantu UMKM untuk naik kelas. Tak hanya itu, Isep juga berharap anggota Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia (ASPAKI) lainnya dapat menggandeng UMKM juga dalam pemenuhan permintaan alat kesehatan.

“Kalau nggak salah ada 40 subcontractor UKM di kami. Kenapa kerjasama dengan UMKM karena kalau kami sendiri enggak mampu mengerjakannya. Jadi UMKM ini lebih fleksibel lebih gampang setiap saat dirubah dengan mudahnya, jadi lebih enak berbagi,” jelas Isep saat Preskon virtual MOU Kerjasama PT Sarandi Karya Nugraha dengan YDBA pada Jumat (30/10).

Isep menambahkan bahwa, saat ini merupakan momentum untuk meningkatkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) dalam mendukung industri domestik. PT Sarandi sendiri disebut Isep sudah mampu jangkau pasar ekspor untuk pemenuhan alat kesehatan. Namun sejak pandemi Isep lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan alat kesehatan dalam negeri.

“Untuk produk kami sendiri sekarang fokus ke dalam negeri, tapi untuk produk-produk baru yang kami develop ini ada beberapa yang akan kita kerja sama dengan Jepang ada kerja sama juga dengan Korea,” ungkap Isep.

Baca Juga: Sambut wisatawan, desa wisata siapkan fasilitas protokol kesehatan

Isep menyebut kolaborasi dengan UMKM untuk pemenuhan pesanan alat kesehatan diakui menemui beberapa tantangan. Tantangan utama dijelaskan Isep adalah dari sisi kualitas, kemudian dari sisi harga. UMKM disebut Isep belum dapat menghitung berapa harga yang tepat dari produk yang dihasilkan. Oleh karena itu pihaknya terus melakukan pendampingan kepada UMKM yang kini menjadi subcontractor di PT Sarandi.

Ketua Pengurus YDBA Sigit P. Kumala mengapresiasi apa yang dilakukan oleh PT Sarandi. Sigit berharap UMKM binaan YDBA lainnya dapat semakin banyak yang naik kelas dan mampu menjadi 'bapak asuh' bagi UMKM lainnya.

YDBA sendiri untuk kolaborasi bersama PT Sarandi kali ini sudah menyiapkan 10 UMKM binaan YDBA yang akan membantu PT Sarandi dalam memenuhi permintaan. Adapun 10 UMKM binaan YDBA tersebut tersebar di area Tegal, Bogor, Sidoarjo, Solo dan Yogyakarta.

 

 

Selanjutnya: Dukung peningkatan layanan energi, Pertamina fokus perkuat 4 program ini

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.

  • INDEKS BERITA

Tag
  • alat kesehatan