Achmad Zulkarnain Pameran Foto di Brasil

 

MESKIPUN memiliki keterbatasan, Achmad Zulkarnain, 29, penyandang disabilitas fisik, tak pernah merasa sedikit pun gerak maupun mimpinya terhalangi. Ia selalu punya ribuan cara agar tetap bersemangat menjalani hidup.

“Jika ditanya disabilitas atau enggak? Enggak, buktinya saya menjalani hidup sama seperti orangorang. Hanya saja diciptakan berbeda,” kata laki-laki yang akrab disapa Bang Dzoel ini ketika dihubungi Media Indonesia, kemarin.

Ya, ia tak pernah merasa terkungkung oleh penyebutan disabilitas, terlebih ketika dirinya mampu mandiri dan mememukan potensi sebagai fotografer andal meskipun tanpa tangan dan kaki. 

Ia menjelaskan, untuk menemukan potensinya itu, ia mengibaratkan membangun rumah dengan jendela-jendela di setiap sudutnya untuk melihat sesuatu di luar. “Kita patut melihat ke luar, apa potensi yang ada di diri. Dari beberapa jendela itu menemukan fotogfrafi sebagai seni yang istimewa, menarik, dan bisa dipelajari,” ungkapnya.

Berkat kemauannya itu, ia belajar dengan giat mengenai fotografi hingga mendapatkan beasiswa di Darwis Triadi School of Photography pada 2017 silam.

Bang Zoel berhasil menginspirasi banyak orang lantaran dirinya sukses di bidang fotografi dengan tercapainya target membuat pameran tunggal foto di tiga kota. Ia juga pernah mengikuti pameran internasional bersama 19 fotografer dari 19 negara di Istanbul, Turki.

Kabar terbaru, ia akan mewakili Indonesia mengikuti pameran foto di Brasil, yakni pameran internasional bagi para fotografer disabilitas, meskipun waktunya belum bisa dipastikan akibat pandemi.

“Besok itu sebenarnya buat pameran juga di Brasil. Tapi karena covid, kita harus lebih sabar karena enggak aku sendiri yang terdampak  covid. Jadi kita lebih pintar. Bukan lebih pintar mengeluh, tapi harus lebih pintar mensyukuri aja,” kata dia.

Terwujud

Pengesahan 9 kebijakan sebagai peraturan turunan dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas oleh Presiden Joko Widodo disambut baik oleh Bang Dzoel. Menurutnya, hal itu menjadi bukti dari terwujudnya cita-cita para penyandang disabilitas.

“Ketika ada peraturan tersebut, semua orang berlomba-lomba merangkul kami. Kini banyak platform yang menyuarakan disabilitas. Ini kerja kita bareng-bareng, kerja pemerintah juga,” ungkapnya.

Namun, stigma negatif dalam masyarakat harus diakuinya masih terus terjadi. “Banyak yang bilang kita itu reinkarnasi dari kehiduan dulu bahwa di kehidupan yang dulu mereka berdosa dan sebagainya,” ujarnya.

Untuk menghilangkan stigma tersebut, Bang Dzoel terus melakukan yang terbaik dengan survive dan menilai penamaan disabilitas hanya merupakan cara pandang orang dari luar. Sekarang, ia tengah fokus pada cara mengedukasi masyarakat sekaligus juga mengharap pemerintah memberikan ruang dan kesempatan bagi penyandang disabilitas. (H-3)