Aman Berkonferensi kala Stay At Home

PERTEMUAN sampai rapat virtual belakangan menjadi kebutuhan di banyak kalangan mengingat kini tengah berlaku kebijakan jaga jarak untuk menekan penyebaran virus korona. Oleh karena itu, banyak aktivitas, dari belajar, bekerja, sampai berolahraga dilakukan dengan metode tatap muka digital.

Beberapa perangkat lunak hadir untuk kebutuhan itu, misalnya Whatssap, Skype, Meet by Google Hangout, Facetime, dan yang sedang marak ialah Zoom. Namun, beberapa pekan terakhir, mencuat isu keamanan data terkait pemakaian aplikasi telekonferensi, khususnya
Zoom

Memang, perangkat lunak diduga mampu menyadap data pengguna, baik yang terhubung pada e-mail yang terdaftar di aplikasi hingga data pada ponsel melalui perizinan akses. Sering kali pengguna tidak sadar akan pilihan perizinan sehingga mengizinkan berbagai akses termasuk untuk fi le data, gambar, dan lokasi pada aplikasi yang utamanya hanya perizinan untuk akses kamera mengambil foto dan video.

Dilansir dari The Guardian, para peneliti keamanan menyebut Zoom merupakan ‘bencana privasi’ dan ‘secara fundamental korup’ sebagai tuduhan perusahaan yang salah menangani data mulai banyak terungkap. Jaksa Agung New York, Letitia James, mengirim surat  kepada perusahaan itu, dan meminta mereka menguraikan langkah-langkah yang telah diambil untuk mengatasi masalah keamanan.

Dalam surat itu, James mengatakan kerentanan keamanan Zoom dapat memungkinkan oknum pihak ketiga mendapatkan akses diam-diam ke webcam konsumen. Sebagai jawaban, awal April, perusahaan mengumumkan akan membekukan semua pengembangan fitur baru. Mereka mengalihkan semua sumber daya rekayasa ke masalah keamanan dan keselamatan yang telah menjadi perhatian dalam beberapa pekan terakhir.

Apalagi, Zoom tidak hanya dipakai masyarakat awam, tapi juga pebisnis dan pejabat pemerintah. Perdana Menteri Inggris Boris Johnson melaksanakan pertemuan kabinet bukan melalui teknologi panggilan video militer rahasia, tetapi dengan Zoom. Di Indonesia, kegiatan rapat menteri dengan Presiden hingga konferensi pers juga banyak via Zoom.

Hal ini terlihat pada unggahan di laman Instagram Menteri Keuangan Sri Mulyani. Kekhawatiran terbesar ialah bahwa ketergantungan yang tiba-tiba pada Zoom dapat memungkinkan oknum peretas melakukan spionase panggilan video karena para eksekutif berfokus menanggapi penyebaran virus korona. 

Spionase ini menjadi sebuah fenomena yang dijuluki Zoom bombing. Mereka bisa saja nyasar bergabung pada obrolan video sebagai orang asing pada satu panggilan konferensi bisnis, atau bahkan menyiarkan pornografi kepada semua orang yang masuk.

Jangan gratisan

Jake Moore, seorang pakar keamanan siber di ESET dan mantan penyelidik forensik digital kepolisian, menyarankan bahwa untuk pertemuan yang sangat pribadi, jangan memakai jenis perangkat lunak konferensi video yang gratis.

Zoom bisa saja mengumpulkan data siapa pun yang menggunakan layanan gratisnya, yang beroperasi selevel dengan aplikasi lain yang berbayar, bahkan jika Anda tidak memiliki akun Zoom.  Syarat dan ketentuannya menyatakan mengumpulkan informasi termasuk nama Anda, alamat fi sik, alamat e-mail, nomor telepon, jabatan, dan perusahaan. 

“Hal utama yang harus dinilai oleh bisnis ialah jika sesuatu itu gratis, apa yang mereka berikan kepadanya? Mereka tidak hanya akan memberikan layanan itu gratis. Sangat penting untuk melihat apakah Anda harus membayar untuk beberapa layanan ini guna meningkatkan keamanan,” kata Andrew Dwyer, seorang peneliti cybersecurity di University of Bristol.

Koordinator Program ICT Watch, Indriyatno Banyumurti, menjelasksn bahwa tidak hanya pada aplikasi obrolan video seperti Zoom, pengguna juga harus lebih berhati-hati termasuk dalam menggunakan platform-platform lain.  “Sebenernya sama dengan platform lain, sangat disarankan untuk tidak berbagi data rahasia melalui platform ini,” ujar Indriyatno saat dihubungi, Jumat (10/4).

Memang jika pengguna menyimpan banyak data dalam satu akun e-mail, sebaiknya bisa menggunakan akun lain. “Atau malah jika tidak terlalu penting, kita bisa menggunakan Zoom tanpa perlu login,” kata Indriyanto. (M-2)