Ancaman Tanah Longsor masih Ada

 

SAMPAI kemarin, 24 korban tanah longsor di Kecamatan Cimanggung, Sumedang, Jawa Barat, sudah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Pencarian pada hari kelima berhasil mengevakuasi tiga korban.

“Tim SAR gabungan masih harus mencari sedikitnya 16 korban yang dinyatakan masih hilang oleh keluarganya,” ungkap Kepala Kantor SAR Bandung Deden Ridwansyah.

Kemarin, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy serta Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono datang ke lokasi bencana. Menteri Basuki menegaskan bahwa bencana tanah longsor ini mendapat perhatian besar dari Presiden Joko Widodo.

“Saya diminta ke sini. Secara prinsip PU-Pera akan membantu penanganan 200 lebih kepala keluarga yang terancam longsor susulan. Untuk relokasi, tanahnya disiapkan pemda,” paparnya.

Basuki menyoroti banyaknya perumahan di sekitar lokasi itu. “Di sini daerah rawan semua. Aparatur harus keras, tapi bijak. Semua butuh ruang untuk rumah, iya, tapi harus dilihat yang aman, jangan sembrono.”

Di lain pihak, Menteri Muhadjir meminta pemkab merehabilitasi lahan longsor setelah evakuasi korban selesai.

“Proses rehabilitasi dan rekonstruksi dengan penghijauan lahan harus jadi fokus perhatian ke depannya.”

Masih terkait lokasi tanah longsor, pakar geologi teknik ITB, Imam Achmad Sadisun, menyatakan ada bahaya tanah longsor susulan di Desa Cihanjuang, Cimanggung, itu. “Ada rekahan lain yang berjarak 7 meter dari lokasi tanah longsor. Ini bisa memicu longsor susulan,” ujarnya mengitup hasil kajian Tim Geologi Terapan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB.

Tim juga mendapat fakta bahwa tanah longsor di lokasi terjadi empat kali. “Longsor susulan cenderung berkembang menuju gawir utama atau mahkotanya. Daerah itu memang masuk zona merah dan kuning rawan longsor,” tandas Imam.

Dalam mengantisipasi tanah longsor susulan, Kepala Stasiun Geofi sika BMKG Bandung Teguh Rahayu mengaku sudah memasang sistem peringatan dini di lokasi. “Jika curah hujan tinggi, ada getaran terus menerus dan signifikan, kami akan memberi peringatan ke BPBD atau Basarnas.”

Serahkan rumah

Tindakan cepat dilakukan Pemkab Garut terhadap 28 kepala keluarga yang terdampak tanah longsor di Sawah Cijeruk, Desa Sukamulya, Kecamatan Talegong. Kemarin, pemkab menyerahkan rumah pengganti untuk mereka.

Tanah longsor di Cijeruk terjadi seminggu lalu. Tebing tinggi runtuh dan menimpa rumah.

“Seluruh warga yang tinggal di sana harus direlokasi. Kami menggulirkan dana hingga Rp1,2 miliar untuk membeli tanah dan membangun rumah untuk mereka,” kata Bupati Rudy Gunawan.

Di Kabupaten Sukabumi, warga Kampung Balekambang dan Suradita di Desa Ciengang, Kecamatan Gegerbitung, sudah diungsikan. Rumah mereka terpaksa dikosongkan karena ada retakan tanah yang terus melebar di wilayah itu.

“Untuk sementara mereka dievakuasi ke sekolah dan balai desa. Ada 35 rumah yang terdampak pergerakan tanah,” kata staf BPBD Daeng Sutisna.

Kondisi serupa juga terjadi di Purbalingga, Jawa Tengah. “Ada 30-40 rumah di Desa Banjaran, Bojongsari, yang mengalami keretakan dampak tanah bergerak,” tutur Kepala Desa M Ichmun.

Sementara itu, Kepala BPBD Brebes Nushy Mansur menilai kerusakan hutan lindung di Gunung Slamet membuat tanah longsor sering terjadi di wilayah Brebes selatan. (TJ/BB/BK/LD/JI/RS/DW/Ant/N-2)