Antara Pilkada dan Suksesnya Pendidikan

Tahun 2020 ini merupakan kegiatan pilkada yang cukup berat. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia karena sedang terjadi pandemi covid-19 yang tidak diketahui kapan pandemi ini akan berakhir. Kekhawatiran pilkada akan menjadi klaster baru penyebaran covid-19 sempat mengganggu pikiran.

Pro dan kontra terlaksananya pilkada, santer menjadi bahan perbincangan di masyarakat. Bahkan, menimbulkan pergesekan di tengah masyarakat, antara yang setuju pilkada tetap digelar dan yang minta pilkada ditunda karena kesehatan lebih penting jika dibandingkan dengan pilkada.

Jika terjadi kekosongan pemimpin daerah karena masa jabatan sudah habis, bisa disiasati dengan menunjuk pejabat sementara.

Penundaan pilkada, terdapat pada Perppu Nomor 2 Tahun 2020, yakni tertulis pilkada serentak di 270 daerah dari tingkat provinsi maupun kabupaten/kota yang sedianya diselenggarakan pada 23 September 2020, ditunda hingga 9 Desember 2020 karena pandemi covid-19.

Beberapa daerah di Indonesia, saat ini mulai gencar sosialisasi Pilkada 2020, baik kepala desa, bupati, maupun wali kota. Salah satu cara paslon atau pasangan calon pemimpin daerah mengenalkan visi-misi mereka melalui debat publik di stasuin televisi.

Pada program debat tersebut, yang diembuskan salah satunya ialah soal covid-19. Mengapa demikian? Karena pengaruh covid-19 di dunia sangat besar, tidak ketinggalan di Indonesia. Pengaruh covid-19 menyebar pada seluruh lini kehidupan manusia, ekonomi, sosial, dan tidak terkecuali dunia pendidikan.

Pengaruh tersebut di antaranya kesulitan dalam proses pembelajaran yang disebabkan terbatasnya fasilitas internet, seperti kuota internet yang mahal, tidak memiliki hand phone atau fasilitas hand phone yang tidak mendukung, koneksi internet, dan pemahaman peserta didik terhadap materi yang diberikan guru dll.

Pada pembelajaran jarak jauh (daring) seperti sekarang ini, fasilitas internet sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran. Sukses dan tidaknya pendidikan di daerah salah satunya diukur dari ketersediaannya sarana dan prasana pembelajaran jarak jauh.

Berangkat dari permasalahan di atas, kami sebagai guru berharap para pasangan calon yang nanti terpilih bisa mengatasi dan memberikan solusi tentang keadaan dunia pendidikan di masa pandemi covid-19 ini. Kebijakan pasang yang terpilih akan mendukung kebijakan birokrasi dan memfasilitasi kebutuhan yang menjadi kendala bagi masyarakat.

Hendaknya pilkada di tengah pandemi ini diharapkan mampu menjadi pahlawan yang membawa perubahan, untuk mengubah nasib masyarakat pada umumnya. Khususnya, suksesnya pendidikan di Indonesia.