Astawakra Menuju Bangli Unggul dan Sejahtera

PERTARUNGAN dua pasangan calon (paslon) di Pilkada Bangli, Bali, antara I Made Subrata-Ngakan Made Kutha Parwata melawan paslon Sang Nyoman Sedana Arta-I Wayan Diar, berlangsung ketat.

Masing-masing punya kekuatan dan potensi kemenangan. Tinggal bagaimana para petarung ini memainkan isu dan melakukan pendekatan untuk meyakinkan masyarakat pemilih.

Dari peta kekuatan politik, paslon nomor urut 1, I Made Subrata-Ngakan Made Kutha Parwata, diusung Partai Golkar dan Partai NasDem, memegang 8 dari 30 kursi di DPRD Bangli.

Paslon ini memiliki sejumlah kekuatan. I Made Subrata yang menjadi calon bupati, adalah adik kandung I Made Gianyar, Bupati Bangli saat ini, dipastikan punya pengaruh kuat terhadap masyarakat pemilih.

Pengamat politik I Nyoman Subanda menyatakan sebagai adik kandung Bupati Bangli dua periode yang hingga saat ini masih menjabat, tentu menambah kelebihan bagi sosok I Made Subrata.

Made Gianyar sangat menguasai daerahnya, dinilai berhasil oleh masyarakat, dan punya hubungan dekat dengan jajaran birokrasi hingga level bawah. "Dengan arahan Made Gianyar, Made Subrata menjadi lebih kuat," tutur pengamat politik, Nyoman Subanda, Jumat (13/11).

Ketua Program Studi Magister Administrasi Publik Pascasarjana Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar itu menyebutkan kelebihan lain pada sosok I Made Subrata adalah ia berasal dari Kecamatan Kintamani.

Kecamatan Kintamini dikenal padat penduduk dibandingkan tiga kecamatan lainnya, Tembuku, Susut, dan Kecamatan Bangli. Kekuatan padat pemilih di Kecamatan Kintamani sudah terbukti ketika sang kakak, I Made Gianyar, memenangi pertarungan di periode pertamanya merebut posisi bupati Bangli.

Keunggulan perolehan suara di Kecamatan Kintamani menjadikan akumulasi keseluruhan raihan di atas lawan.

"Jadi untuk calon (bupati dan wakil bupati) dari Kintamani dan non-Kintamani sudah jadi tren. Itu pula sebabnya, paslon lawan yang diusung PDIP dan sejumlah parpol lainnya, mengambil juga calon wakilnya dari Kintamani," terang Subanda.

Kelebihan lain yang dilihat Subanda pada diri I Made Subrata ialah pernah menjadi Perbekel Bunutin, Kintamani. Biasanya antarkalangan perbekel (kepala desa) punya soliditas.

Di sisi lain, sosok Ngakan Made Kutha Parwata, yang menjadi wakil I Made Subrata, merupakan politikus senior PDIP. Saat masih bernaung di bawah partai berlambang banteng moncong putih itu, Kutha Parwata pernah menjabat Ketua DPRD Bangli dan juga Ketua DPC PDIP Bangli.

Mengingat pengalaman dan pengaruhnya selama menjadi politikus PDI Perjuangan, Kutha Parwata yang kini memegang kartu tanda anggota Partai NasDem, dinilai berpotensi menggaet massanya terdahulu untuk mendukungnya di perhelatan Pilkada Bangli 2020. "Ya, massanya (terdahulu) saat masih di PDIP bisa berpihak ke Kutha Parwata," kata Subanda.

Koalisi gemuk

Sementara rivalnya nomor urut 2, Sang Nyoman Sedana Arta-I Wayan Diar, cukup kuat dari sisi dukungan partai politik. Parpol yang mengusungnya, PDIP, Demokrat, Gerindra, Hanura, PKPI, punya 22 kursi di DPRD Bangli.

Sebelum terbentuk dua paslon, parpol-parpol di Bangli cukup alot dalam penjajakan koalisi. Salah satu faktornya ialah adanya perbedaan kepentingan daerah kabupaten, provinsi dan tingkat pusat.

Dalam proses lobi-lobi yang cukup kompleks tersebut, akhirnya hanya terbentuk dua kubu. Semula Demokrat hampir pasti berkoalisi dengan Golkar dan NasDem. Belakangan bergabung ke koalisi gemuk mendukung paslon nomor urut 2.

"Sebelumnya ada rencana Demokrat, tapi akhirnya memilih gabung ke PDIP. Meski begitu, kami (Golkar dan NasDem) masih bisa mengusung paslon karena memenuhi syarat minimal 8 kursi," ujar Sekretaris DPW Partai NasDem Provinsi Bali, Nyoman Winata.

Calon bupati nomor 2, Sang Nyoman Sedana Arta, merupakan petahana. Dengan pengalaman sebagai wakil bupati, dan juga pernah menjadi Ketua DPC PDIP Bangli, Nyoman Sedana cukup menguasai potensi daerah termasuk persoalan dan langkah solusinya.

Menurut penilaian Subanda yang ikut menjadi panelis pada saat acara debat terbuka baru-baru ini, Nyoman Sedana Arta sedikit lebih menguasai potensi daerah karena selama ini menjabat wakil bupati.

Meski demikian, lanjutnya, tampilan debat tidak terlalu berpengaruh dalam meningkatkan elektalibitas paslon karena visi dan misinya hampir sama dalam artian standar saja. Jadi untuk sementara, Subanda melihat kedua paslon, setara.

Faktor yang memungkinkan penentu kemenangan ialah bagaimana kemampuan paslon menggalang masa tradisional dengan melakukan pendekatan dan meyakinkan tokoh-tokoh masyarakat.

"Untuk memengaruhi masyarakat tradisional tersebut akan sangat ditentukan sejauh mana paslon pernah melakukan investasi-investasi, klaim-klaim keberhasilan, dan bagaimana mengomunikasikannya kepada masyarakat," lanjutnya.

Secara terpisah, Made Subrata, mengemukakan nomor urut 1 menawarkan 8 misi yang diberi nama 'Astawakra' untuk menuju Bangli Unggul dan Sejahtera. Salah satunya membentuk sumber daya manusia Bangli yang unggul, produktif, berkarakter, serta takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

"Visi kami mewujudkan Bangli yang unggul dan sejahtera melalui tata kelola pemerintahan yang profesional, transparan, akuntabel, berwawasan wirausaha berlandaskan adat, budayaan, dan tri hita karana," cetus I Made Subrata yang dikenal merakyat. (N-1)