Banjir sudah Datang Kepung 7 Kabupaten

 

SAAT kekeringan masih jadi soal di Pulau Jawa dan Sumatra, warga di Kalimatan dan Sulawesi tidak berdaya karena dikepung banjir. Bahkan di Kalimantan Tengah, banjir terus meluas sepekan terakhir.

Dari areal tergenangi di em­pat kabupaten, pekan lalu, luap­an sungai tak tertahankan di tujuh kabupaten. “Banjir hari ini terjadi di Lamandau, Seru­yan, Katingan, Kotawaringin Timur, Murung Raya, Gunung Mas, dan Kapuas,” ungkap Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kalimantan Tengah, Darliansjah.

Jumlah warga terdampak mencapai mencapai 15.791 keluarga atau 36.537 jiwa. Jumlah rumah terendam 6.779 unit. “Pemprov sudah menyalurkan 20 ribu paket sembako, mobil, dan mobil dapur umum. Pemprov sudah menetapkan status tanggap darurat benca­na banjir yang berlaku 11-26 September,” tambahnya.

Camat Mandau Talawang, Kabupaten Kapuas, Mujiono, menyatakan banjir terjadi setelah hujan deras selama tiga hari. “Di Mandau Talawang ada tiga desa yang tenggelam.”

Warga membutuhkan bantuan, terutama bahan pokok. “Kami sudah berkoordinasi dengan BPBD dan dinas sosial,” tambahnya.

Banjir juga terjadi Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Sebanyak 720 jiwa harus mengungsi. Sepekan ini banjir sudah dua kali terjadi.

Pada Senin (14/9), banjir ban­dang menerjang Desa Rogo, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Karena rumah mereka rusak, ratusan warga masih harus tinggal di tenda darurat, kemarin.

“Ada 59 keluarga atau 224 jiwa yang harus mengungsi. Material banjir berupa air ber­campur lumpur dan kayu gelondongan telah merusak rumah mereka,” kata Sekretaris Desa Rogo, Ajmain Ramadhan.

Warga, menurut dia, masih sangat membutuhkan bantuan sembako, pakaian, perlengkap­an masak, perlengkapan tidur, obat-obatan, serta keperluan bayi dan ibu hamil.

Kondisi 180 derajat terjadi di Pulau Sumatra. Kekeringan masih terjadi dan menyebabkan kebakaran lahan dan hutan di Jambi.

Sekretaris Satgas Kebakaran Hutan dan Lahan Bachyuni Deliansyah menyatakan untuk memadamkan api, satgas sudah melakukan 400-an kali water bombing. “Harus dipadamkan dari udara karena lokasi kebakaran sulit dijangkau dari darat.”

Sampai September, luas lahan yang terbakar mencapai 326 hektare. “Sebagian besar lahan warga, tapi ada juga di areal perkebunan perusaha­an,” tambahnya.

Di Pulau Jawa, kekeringan dan krisis air dilaporkan masih terjadi di Kabupaten Karawang, Jawa Barat; Purbalingga dan Klaten, Jawa Tengah; serta Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. (SS/TB/SL/DW/CS/LD/JS/FB/DG/N-2)