Berbagi Bahagia di Penghujung Tahun

 

SUDAH tujuh bulan lebih, Gabriel Bria, 56, nyaris tidak bekerja. Warga Kelurahan Liliba, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, itu, sehari-hari bekerja sebagai tukang bangunan.

“Yang saya pikirkan ialah bagaimana memberi makan keluarga dan biaya sekolah anak. Kondisi rumah tidak pernah saya pikirkan, karena memang tidak ada dana untuk memperbaikinya,” ujarnya.

Rumah keluarga ini sudah miring dan nyaris roboh karena termakan usia. Lantainya tanah, dinding papan, dan atap dari seng yang sudah berkarat.

Namun, pertolongan datang. Sejak awal Desember, program bedah rumah yang digulirkan Pemerintah Kota Kupang menyambangi lingkungan itu. Selain milik Gabriel, sejumlah rumah lain juga diperbaiki.

Kini, rumah-rumah itu sudah berubah penampilan. Atap diganti dengan seng baru, temboknya tersusun rapi dari batako, lantainya semen, serta pintu, dan jendela tampak indah dengan cat baru berwarna cokelat. “Terima kasih banyak, bapak,” kata Gabriel kepada Wali Kota Jefri Riwu Kore yang datang untuk menyerahkan kunci rumah. Air mata bahagia menetes.

“Di tengah pandemi, program bedah rumah terus kami jalankan. Masih banyak rumah warga yang tidak layak huni,” tandas Jefri.

Hadiah akhir tahun juga datang untuk Ngatyem, 46, seorang penyapu jalan di Kota Medan, Sumatra Utara. Tanpa pernah ia duga sebelumnya, Gubernur Edy Rahmayadi dan istrinya, Nawal Lubis, menemuinya saat sedang menyapu jalan.

Sebuah bingkisan diserahkan langsung oleh gubernur dan istri. “Selain bingkisan, saya juga dapat uang tunai dari Gubernur,” tutur warga Kecamatan Batangkuis, Kabupaten Deli Serdang, itu.

Tidak hanya Ngatyem. Rusliati, penyapu jalan lain di kawasan Gereja HKBP Jalan Sudirman Medan juga menerima bingkisan serupa. “Bantuan itu untuk memenuhi kebutuhan makan anak,” ujarnya.

Ratusan bingkisan dan uang tunai juga diberikan kepada petugas kebersihan, abang becak, dan pedagang kaki lima. (PO/YP/N-3)