Berbagi Energi di Tengah Pandemi

 

DIAN Fitriana tidak pusing lagi. Ibu rumah tangga warga Dukuh Mesan, Desa Sinduadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, itu, sudah tenang. Anak sulungnya, Alif Yandra, yang duduk di kelas 2 sekolah dasar bisa belajar secara daring nyaris tanpa masalah lagi.

“Kendala pertama saat Alif harus mulai belajar di rumah ialah soal jaringan internet yang sinyalnya tidak stabil. Alif juga harus ditungguin karena kalau ditinggal dia lihat yang lain,” ujar ibu dua anak itu.

Ketika konsentrasinya menemani Alif belajar, sang adik pun jadi kurang diperhatikan. Namun, sejak Agustus, Dian cukup mengantarkan Alif ke Balai Pertemuan Dukuh Mesan sambil menggendong adiknya Alif.

Adalah Komunitas untuk Kawan yang membuat Dian banyak terbantu. Pegiat komunitas ini menyediakan waktu, tenaga, dan uang mereka untuk membantu anak-anak belajar di tengah pandemi. Mereka menggulirkan Pustaka Aksara Bergerak.

Seperti yang terlihat pada Rabu (16/9) sore. Di depan balai pertemuan, sebuah mobil VW kuning mengeluarkan banyak buku yang ditata di balai.

Ketika Alif dan anak-anak lain datang, mereka bisa mengambil buku dan membaca di meja yang sudah diatur berjarak. Protokol kesehatan diberlakukan, termasuk mewajibkan anak-anak memakai masker dan jaga jarak.

Mobil VW tidak sekadar membawa buku, Pustaka Aksara Bergerak juga melengkapinya dengan wi-fi. Anak-anak Dukuh Mesan bisa mengerjakan tugas dari sekolah dengan mengakses internet secara gratis.

“Hari ini, kami membantu anak-anak belajar dan mengerjakan tugas sekolah menggunakan internet gratis,” kata Febfi Setyawati, pendiri Komunitas untuk Kawan.

Sejak Agustus lalu, Pustaka Aksara Bergerak dan Komunitas untuk Kawan menamani anak-anak belajar dan menikmati akses internet gratis. Komunitas ini berkeliling ke sejumlah dusun.

“Biasanya pagi. Tapi hari ini mereka minta sore,” kata Hendy Kurnaiawan, pegiat lain.

Febfi mempersilakan anak-anak dan siapa saja yang berada di lokasi untuk mengakses internet secara gratis. Anak-anak diminta menggunakan layanan internet gratis itu untuk belajar menyelesaikan tugas sekolah atau mencari informasi penting seputar pengetahuan.

Wajah anak-anak terlihat semringah. Alif, misalnya, ia mengaku bisa belajar daring sendiri di rumah.

“Belajar online itu susah-susah gampang. Ngetik di HP lama, enak langsung nulis di buku,” ujarnya.

Sore itu, ada suasana lain yang dibawa Febfi . Ia menggelar kuis. Yang bisa menjawab pertanyaan mendapat hadiah yang sudah disiapkan anak-anak muda itu. Gergeran pun pecah di tengah ruangan balai. (Furqon Ulya Himawan/N-3)