Berbagi Seru Main di Alam

SOBAT Medi, mungkin di antara kalian banyak yang sudah kangen untuk liburan atau jalan-jalan ke luar kota. Ya, setelah hampir satu tahun pandemi, wajar jika kita begitu kangen jalan-jalan karena selama ini lebih banyak tinggal di rumah, termasuk saat liburan Tahun Baru.

Nah, untuk mengobati rasa kangen kalian akan bertualang di luar kota, kali ini Medi menghadirkan kisah beberapa teman yang beruntung masih bisa menikmati alam bebas. Kisah mereka, tidak hanya soal bersenang-senang, tetapi juga belajar mencintai alam dan belajar kreatif.

Kisah pertama datang dari Nadya Mazaya Fauzya yang kini duduk di bangku kelas 2 SD Karakter Genius Islamic School (GIS) Depok, Jawa Barat. Rabu (13/1), Nadya bercerita kepada Medi tentang keseruannya belajar mengenal alam serta flora dan faunanya.

Nadya yang berusia 9 tahun memiliki beberapa pengalaman di alam, salah satunya saat berkunjung ke daerah Gunung Merapi dengan me­ngen­darai mobil Jeep. “Pengalaman pertualangan aku yang paling seru dan menarik adalah ketika aku pergi ke Gunung Merapi, di sana aku naik mobil Jeep keliling Gunung Merapi. Yang paling seru lagi di sana ada burung hantu yang sangat besar dan aku dikasih kesempatan untuk memegang. Ternyata burung hantu itu enggak galak dan enggak seram juga lo,” imbuhnya.

Selain mengenal fauna, Nadya juga mengaku belajar mencintai ling­kungan. Saat bepergian ia sering melihat sampah berserakan. Hal ini tentu menyedihkan ka­rena dapat merusak kecantikan dan kelestarian lingkungan.

Ia kemudian belajar mendaur ulang sampah. Misalnya, sampah botol plastik yang dimanfaatkan kembali menjadi tempat pensil atau pot bunga. “Nadya juga baru tahu ternyata banyak hal yang bisa kita manfaatkan dari alam, tadinya Nadya enggak tahu kalau sampah daun bisa dimanfaatkan untuk kreasi,” terang Nadya.

Selain Nadya, ada pula Gavin Athalla Omar yang suka bermain di alam. Gavin yang duduk di bangku kelas 2 di Jakarta Islamic School ini bahkan sangat beruntung karena bertualang di alam sudah bisa dilakukan di dekat rumah neneknya di Subang, Jawa Barat.

Gavin yang berusia 8 tahun menuturkan jika di dekat rumah neneknya terdapat hutan kecil. Ia kerap menyusuri hutan itu bersama ayahnya. “Paling seru saat menyeberangi jembatan bambu yang enggak rata karena kalau tidak hati-hati bisa jatuh. Di bawah jembatan ada sungai kecil yang airnya enggak deras, aku dan ayah main sebentar di pinggir sungai itu,” jelas Gavin.

Tidak perlu jauh

Kak Resha Rashtrapatiji yang juga merupakan Founder Ranger Cilik Indonesia (@rangercilik.id) meng­ungkapkan jika bertualang di alam memang memiliki banyak manfaat. Menurutnya, alam bisa menjadi tempat belajar yang bagus bagi tumbuh kembang kita, sobat Medi!

Sebab itu, Kak Resha menyemangati kita agar mengenal alam sejak kecil. Jika punya kesempatan pergi ke alam, kita jangan malah memilih di kamar saja atau hanya main gim di ponsel ya! Sebab rugi sekali. Kita jadi tidak bisa mengenal hal baru.

Namun, bertualang tak harus jauh-jauh. Kata Kak Resha, kita bisa mulai belajar mengenal alam dari ling­kungan terdekat kita, bisa dimulai dari lingkungan rumah kita.

“Kita bisa belajar mengenal alam dimulai dari lingkungan sekitar rumah kita. Mengenal hewan dan tumbuhan yang ada di rumah juga bisa menjadi kegiatan yang seru,” kata Kak Resha, Selasa (12/1). Bahkan, kata Kak Resha, kita bisa belajar menyayangi alam dengan berhemat air dan listrik. Dengan begitu, kita sama saja menghemat energi yang dikeluarkan alam dan juga menekan polusi. (M-1)