Berkolaborasi Tangani Pandemi

 

PENANGANAN pandemi covid-19 harus dilakukan secara bergotong royong. Karena itu, langkah itu membutuhkan kolaborasi yang erat antara pemerintah,
media, swasta, akademisi, dan masyarakat.

Demikian disampaikan Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito, dalam keterangan pers virtual, kemarin.

Menurut Wiku, pemerintah sejauh ini sudah mewujudkan kolaborasi itu melalui Aksi Strategis Indonesia dalam Respons Pandemi Covid-19. “Ada 9 aksi strategis
yang terus dilakukan pemerintah selama pandemi covid-19 berlangsung,” jelas Wiku.

Ia menyebutkan, pertama ialah koordinasi, perencanaan, dan pemantauan. Kedua, komunikasi risiko dan pelibatan masyarakat. Ketiga, surveilans tim gerak cepat serta investigasi kasus covid-19. Keempat, pengaturan mobilitas pintu masuk transportasi internasional dan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Kelima, pengembangan laboratorium nasional, pencegahan, serta pengendalian infeksi.

Ketujuh, menyusun dan melaksanakan tata laksana kasus covid-19. Kedelapan, memberi dukungan operasional dan logistik ke seluruh daerah. Terakhir,
mempertahankan sistem pelayanan kesehatan yang esensial.

Dalam pelaksanaan upaya aksi strategis tersebut, kata dia, partisipasi kementerian/lembaga terus diikutsertakan. Indonesia sebelum terjadinya pandemi covid-19 sudah menyiapkan kerangka koordinasi dalam mitigasi penyakit infeksi baru atau emerging infectious disease, yakni covid-19 termasuk dalam kategori tersebut.

Ini tertuang pada Inpres No 4 Tahun 2019 tentang Peningkatan Kemampuan Dalam Mencegah, Mendeteksi, Merespons Wabah Penyakit Pandemi Global dan
Kedaruratan Nuklir, Biologi, dan Kimia.

“Di situ disebutkan, pembagian tugas sesuai keahlian dan kapasitas masingmasing,” tutupnya.

Pendekatan holistik

Secara terpisah Ketua Komite Medik Halodoc, dr Theresia Novi, SpPK, menekankan pentingnya pendekatan kesehatan holistik dalam menghindari infeksi covid-19 guna mendukung program pemerintah Indonesia sehat.

“Kesehatan holistik berfokus pada keseimbangan kesehatan fi sik, mental, dan juga sosial sehingga bisa menjaga daya tahan tubuh secara optimal. Pendekatan ini memiliki peranan yang sangat penting untuk mewujudkan Indonesia yang lebih sehat,” tutur Novi seperti dikutip dari Antara.

Ia mengatakan tantangan yang dihadapi untuk mewujudkan Indonesia sehat ialah bagaimana masyarakat bisa menerapkan 12 tips sehat Kementerian Kesehatan yang meliputi, yakni diet sehat, aktivitas fi sik, imunisasi, hindari merokok, hindari minuman keras, hidup bahagia, berperilaku bersih dan sehat, istirahat cukup, gunakan sabuk pengaman dan helm, seks aman, periksa kesehatan secara rutin dan pemberian ASI eksklusif.

“Kalau sekarang satu lagi, harus memakai masker. Perilaku hidup sehat, olahraga, dan berbahagia,” ujar Novi.

Selain fokus pada kesehatan fi sik, kesehatan holistik juga meliputi pentingnya untuk menjaga kesehatan mental. Psikolog Klinis Rena Masri, S Psi, M Psi, mengatakan kesehatan mental seseorang sangat memengaruhi kualitas kesehatan.

Pada dasarnya kesehatan mental seseorang dipengaruhi oleh tekanan dari internal dan eksternal. Pandemi yang membuat berbagai perubahan dalam waktu cukup cepat, sangat berpotensi mengganggu kesehatan mental pada berbagai lapisan masyarakat.

“Di sinilah langkah konsultasi dengan tenaga kesehatan profesional menjadi krusial sebagai deteksi dini dan menghindari risiko jangka panjang seperti depresi, PTSD (post-traumatic stress disorder) ataupun OCD (obsessive compulsive disorder),” tutup Rena. (Fer/S-3)