BI Yakini Kuartal IV Tumbuh Positif

 

GUBERNUR Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebut perbaikan ekonomi  dalam negeri sudah mulai terlihat pada kuartal III 2020, meski pertumbuhan masih dalam angka negatif. Di kuartal IV 2020, ia yakin pertumbuhan ekonomi mampu kembali ke zona positif.

“Kami melihat dengan berbagai indikator dan belanja pemerintah yang terus meningkat. Insya Allah, kuartal IV 2020 ini pertumbuhan ekonomi mulai positif, meskipun belum tinggi,” ungkapnya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, kemarin.

Perbaikan itu, sambungnya, tak lepas dari agresifnya pemerintah mempercepat realisasi anggaran sehingga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Demikian juga jika dilihat dari beberapa indikator survei penjualan eceran dan eskpor non-migas, itu juga mengalami perbaikan,” sambung Perry.

Indikator lainnya, ujar Perry, di kuartal III 2020 mayoritas daerah sudah mengalami perbaikan aktivitas ekonomi. Bahkan, dua provinsi dikatakan sudah mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang positif yakni Sulawesi Tengah dan Maluku Utara yang disebabkan meningkatnya ekspor.

Demikian halnya dengan neraca perdagangan di kuartal III 2020 yang tercatat surplus US$8,03 miliar. Angka itu lebih tinggi daripada surplus pada kuartal II 2020 yang mencapai US$2,89 miliar.

“Kami juga mencatat cadangan devisa di Oktober 2020 juga meningkat menjadi US$133,7 miliar dari sebelumnya pada kuartal II 2020 yakni US$121,7 miliar,” ujarnya.

Dari faktor eksternal, lanjut Perry, perekonomian global terindikasi mulai membaik, meski diperkirakan masih akan terkontraksi 3,8%.

Sistem membaik

Di rapat kerja yang sama, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan sistem keuangan Indonesia telah membaik.

Dalam catatannya, dalam kurun waktu Mei-September 2020 terjadi pertumbuhan simpanan atau dana pihak ketiga (DPK) di perbankan dan kini telah berada pada tren yang positif. Selain itu, di sepanjang 2020, penurunan bulanan nominal simpanan tertinggi hanya terjadi di bulan April 2020 yakni turun 1,5% (mtm).

Di kesempatan itu pula, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga melaporkan kinerja penyaluran kredit perbankan di Indonesia yang masih lebih baik jika dibandingkan negara-negara lain, meski masih lemah.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, berdasarkan catatan terakhir, pertumbuhan kredit di Indonesia masih mencapai 0,12% secara tahunan.

“Meskipun secara year to date terkontraksi 1,54% karena memang kontraksinya mulai dari Maret. Tapi Singapura terkontraksinya sudah minus 0,3% dan juga di Filipina sudah minus 1,7%, di beberapa negara tetangga mengalami kontraksi yang sama,” kata Wimboh. (E-2)