Biden Selangkah Lagi ke Gedung Putih, Trump Beralih ke Pengadilan

 

MANTAN Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden, yang bertarung dalam pencalonan ketiganya untuk Gedung Putih, sangat dekat dengan kemenangan, Kamis (5/11). Namun, langkahnya itu sedikit mendapat tantangan setelah Presiden Donald Trump menolak mengakui kekalahan dengan berusaha mengambil jalur hukum setelah mengklaim adanya kecurangan dalam pemilu.

Biden, 77, membutuhkan total 270 suara elektoral untuk mencapai Gedung Putih. Kemenangannya akan segera mendapat kepastian dengan beberapa negara bagian yang diperkirakan mengumumkan hasil mereka pada Kamis (5/11) waktu setempat.

Mantan senator dari Delaware dan calon dari Partai Demokrat itu, saat ini, memiliki 253 suara elektoral, atau 264 jika 11 suara elektoral dari negara bagian barat daya Arizona disertakan.

Baca juga: Biden kian Berpeluang Menang

Sementara, Trump, 74, tertinggal dengan 214 suara elektoral. Tetapi, Jason Miller, ahli strategi kampanye Trump, mengatakan petahana dari Partai Republik itu akan kembali memenangkan pemilihan.

"Kami pikir secepatnya, mungkin, hingga akhir besok, pada Jumat akan menjadi jelas bagi publik Amerika bahwa Presiden Trump dan Wakil Presiden (Mike) Pence akan melayani empat tahun lagi di Gedung Putih," kata Miller kepada wartawan.

Penghitungan suara elektoral, saat ini, menunjukan sebaliknya dengan Biden di jalur kemenangan untuk Arizona dan Nevada. Bahkan mungkin mengalahkan Trump di Georgia dan Pennsylvania.

"Biar saya jelaskan, data kami menunjukkan Joe Biden akan menjadi presiden Amerika Serikat berikutnya," kata manajer kampanye Biden, Jen O'Malley Dillon.

"Kami sangat yakin, apa pun yang terjadi dengan penghitungan dan waktu, kami akan unggul," lanjutnya.

Trump, saat ini, unggul di Georgia dan Pennsylvania, tetapi Biden telah mengurangi margin keunggulannya. Mengingat pemungutan suara terus dihitung perlahan di beberapa negara bagian tahun ini karena volume besar surat suara atau mail-in vote akibat pandemi covid-19.

Presiden AS memiliki sekitar 18.000 suara memimpin di Georgia, Kamis (5/11) pagi, dengan sekitar 60.000 suara tersisa untuk dihitung. Sebagian besar suara tersisa itu dari pinggiran kota yang sangat Demokrat seperti di Atlanta.

Dia juga memimpin dengan sekitar 122.000 suara di Pennsylvania dengan 91% suara telah dihitung tetapi Biden lagi-lagi telah mempersempit margin.

"Hentikan perhitungan!" cicit Trump, Kamis (5/11) pagi. "Setiap suara yang datang setelah Hari Pemilihan tidak akan dihitung!"

Trump menuntut penghitungan suara dihentikan di Georgia dan Pennsylvania – tempat dia memimpin. Namun, sebaliknya para pendukung dan tim kampanyenya bersikeras agar penghitungan suara terus berlanjut di Arizona dan Nevada, tempat Biden unggul.

Calon Republik itu bahkan telah mengumumkan kemenangan secara prematur pada Rabu (4/11). Dia mengancam akan mendesak intervensi Mahkamah Agung untuk menghentikan penghitungan suara. (DailyMail/OL-1)