Blusukan

DI antara derasnya hirukpikuk covid-19, kata blusukan tiba-tiba mencuat. Kata ini hadir kembali mengiringi Tri Rismaharini menduduki kursi menteri. Sebagai ‘pendatang baru’ di Jakarta, Bu Risma menjelajah. Ia pergi ke manamana di seputaran Jakarta, dari bantaran hingga Jalan Sudirman. Aksi ini bernama blusukan.

Sorotan pun datang bertebaran. Komentar positif-negatif pun sudah tidak karuan. Berbela-belaan dari sudut kawan dan lawan. Ada yang bilang Bu Risma menebar pencitraan, sekadar jalan-jalan, atau bahkan disebut keluyuran. Pun sebaliknya, tak sedikit yang mengatakan bahwa aktivitas Bu Risma ini berkewajaran. Pantas dan pas.

Dibilang wajar karena Bu Risma harus ‘belajar’, yakni mengenal seluk-beluk Jakarta yang menjadi lingkungan barunya. Dibilang pantas karena dasarnya tuntutan tugas. Sebagai menteri sosial, Bu Risma mestilah mengenal masyarakat marginal.

Dalam KBBI, blusukan merupakan sebuah tanda bahasa, yakni memiliki referensi dan makna. Acuan leksikalnya ialah ‘masuk ke suatu tempat dengan tujuan untuk mengetahui sesuatu’.

Artinya pula, aktivitas Bu Risma itu sarat dengan arti dan tujuan, baik yang nyata disampaikan maupun yang dikiaskan. Bisa juga Bu Risma sedang mengirim pesan bahwa di Jakarta masih banyak pengimis dan gelandangan. Pun ditemui pula tunawisma yang terlupakan. Mereka hidup menetap di kolongan jembatan yang tidak ditemukan Anies Baswedan.

Referen yang terbangun di atas liar sesuai kepentingan. Pelintiran sorotan pun menjadi daya picu komentar dihembuskan. Sejatinya, dalam ruang linguistik pesan Bu Risma itu memiliki jangkauan dan rujukan. Akan tetapi, kebanyakan makna yang terbangun menjadi konotatif negatif karena banyak pesan yang ditambahkan.

Bertemu pengemis di kota metropolis menjual pesan manis dan romantis. Pun laris menjadi sebagai pemoles. Referensi ini semata muncul karena Bu Risma baru dan berbeda. Blusukan yang dijalankan menjadi cara lama yang terbaca. Masih ingat? Saat Pak Jokowi menjadi orang nomor satu di DKI, blusukan pun menjadi tradisi yang dijalani. Cara dan metode ini sepertinya hendak diulangi karena ada segi kreatif dan positif.

Sisi konotasi kata ini selalu menarik untuk dikaji. Dari kata blusukan terbangun sensasi dan ekspresi. Narasi-narasi politis pun mencoba memberi arti sekadar menimpali. Selepas aksi Bu Risma ini, blusukan akan dimunculkan lagi menjelang pentas demokrasi.

Akan tetapi, blusukan ini telah menjadi ikon partai tertentu yang sebelumnya mengawali. Artinya pula, ciri dan identitas ini tidak bisa dengan mudah dimiliki dan menempel pada pengikut. Sejatinya, hanya pioner yang akan diingat dan ditiru. Bila blusukan menjadi cara Pak Jokowi dan Bu Risma ‘ memperkenalkan diri’, politikus lain hendaknya membangun cara sendiri yang bisa diingat dan diteledani.

Terakhir. Timbul-tenggelamnya kata blusukan akan bergantung pada momen dan kesempatan. Bahasa sebagai perekam kejadian akan mengingat dan menyimpannya dalam lipatan kertas dan kajian. Realisasi kata ini mencerminkan realitas sosial dalam jejak aksara dan digital. Sebanyak apa pun yang mencoba membangun cara berpolitik dengan blusukan akan tetap terkait dengan dua nama di atas yang lebih awal menerapkan. Hal inilah yang membedakan seorang pioner dalam berpolitik dengan yang sekadar ikutan-ikutan. Kita tunggu cara lain selain blusukan!!