Bursa Saham Terangkat 155 Poin

 

SENTIMEN positif dari meningkatnya peluang Joe Biden memenangi pilpres AS dan telah terlampauinya kondisi terburuk perekonomian Indonesia melambungkan harga-harga saham di Bursa Efek Indonesia.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup menguat 155,13 poin atau 3,04% ke posisi 5.260,33. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak naik 35,02 poin atau 4,48% menjadi 816,16.

“Sentimen positif bagi IHSG hari ini, yaitu kembali terbukanya peluang Joe Biden memenangi pilpres dan rilis data PDB kuartal III yang secara umum sesuai dengan konsensus dan secara kuartalan menunjukkan adanya proses pemulihan ekonomi,” kata analis Indo Premier Sekuritas Mino di Jakarta, kemarin.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia pada triwulan III 2020 mengalami kontraksi 3,49% (yoy). Dengan demikian, Indonesia resmi mengalami resesi seperti yang sudah dialami berbagai negara yang terdampak covid-19 karena selama dua triwulan berturut-turut mengalami pertumbuhan negatif.

Meski mengalami pertumbuhan negatif, secara triwulanan (qtq) ekonomi mengalami kenaikan sebesar 5,05% pada triwulan III 2020, yang memperlihatkan adanya tanda-tanda pemulihan signifikan.

Dibuka naik, IHSG relatif nyaman bergerak di teritori positif hingga penutupan perdagangan saham.

Secara sektoral, seluruh sektor meningkat, sektor infrastruktur naik paling tinggi, yaitu 4,67%, diikuti sektor keuangan dan sektor industri dasar masing-masing 4,31% dan 3,8%.

Penutupan IHSG diiringi aksi beli saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing atau net foreign buy sebesar Rp711,04 miliar.

Imbas positif juga diperoleh nilai tukar rupiah. Rupiah ditutup menguat 1,27% atau 185 poin ke posisi Rp14.380 per US$1 jika dibandingkan dengan posisi penutupan pada Rabu (4/11) sebesar Rp14.565 per US$1.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan penguat­an rupiah didukung data pertumbuhan ekonomi triwulan III 2020 yang meski terkontraksi, masih menunjukkan perbaikan.

“Indonesia sah masuk jurang resesi mengikuti jejak negara-negara lainnya yang lebih awal terkena dampak akibat pandemi covid-19. Informasi resesi ini sudah diketahui sebelumnya sehingga pelaku pasar tidak terlalu kaget mendengarnya bahkan siap untuk menghadapinya,” kata Ibrahim.

Kinerja membaik

Perbaikan kinerja juga ditunjukkan emiten yang tercatat di BEI.

PT BRI Syariah Tbk berhasil mencatatkan pertumbuhan laba 237% menjadi Rp191 miliar pada September 2020.

Selain itu, dari sisi aset, BRI Syariah juga membukukan pertumbuhan 51,4% (yoy), menjadi Rp56 triliun pada September 2020 dari Rp37 triliun pada September 2019.

Emiten telekomunikasi PT XL Axiata Tbk (EXCL) mencatatkan laba bersih yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp2,07 triliun, naik signifkan 316,32% dari periode yang sama di tahun sebelumnya Rp498,41 miliar.

Adapun BUMN telekomunikasi PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) atau Telkom berhasil meraih laba Rp16,67 triliun.

Kemarin, saham Telkom aktif diperdagangkan hingga mencapai nilai perdagangan Rp1 triliun. Saham Telkom ditutup menguat Rp190 atau 7,36% ke posisi 2.770 per lembar saham. (Try/Ant/E-1)