Capaian Kinerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam Setahu

TAHUN 2020, adalah tahun yang menantang bagi bidang pendidikan dan kebudayaan. 75 tahun Indonesia maju dengan gotong royong pendidikan dan kebudayaan, terutama saat menghadapi pandemi covid-19. Tantangan ini mencakup aspek pemulihan, akselerasi reformasi, dan aspek inovasi. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengambil inisiatif sebagai capaian kinerja 1 tahun Pemerintahan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin, untuk Indonesia Jaya.

Tantangan dan permasalahan pendidikan selama 1 tahun ini, meliputi penanganan kinerja pada masa pandemi covid-19, dan strateginya, membangun masa adaptasi dengan kebiasaan pembelajaran jarak jauh (PJJ), melakukan program PJJ di tingkat pendidikan dasar dan menengah maupun perguruan tinggi.

Selanjutnya, memberikan arahan tentang pelaksanaan kuliah di perguruan tinggi, pelaksanaan bantuan operasional sekolah dan bantuan peralatan teknologi informasi/komputer, ketersediaan peralatan TIK, laboratorium, media pendidikan dan kebudayaan, serta pendidikan untuk PKBM, meningkatkan kualitas SDM melalui Program Pelatihan Jarak Jauh, tunjangan yang cukup bagi pelaksanaan pendidikan di seluruh Indonesia. Juga, kesiapan guru dan tenaga kependidikan lainnya, agar mencapai kecakapan kerja bagi Indonesia Maju, mendorong lulusan SMK agar mampu berwirausaha, meningkatkan pendidikan tinggi dengan pendidikan vokasi dan menilai (assessment) kompetensi minimum di semua jenjang.

Selain itu, di bidang kebudayaan terdapat beberapa hal seperti: perlunya melakukan revolusi mental dan pembangunan kebudayaan nasional (2019), penyediaan platform kegiatan kebudayaan dan Inovasi dalam kegiatan kebudayaan, mendorong kegiatan kebudayaan daerah, melakukan gerakan seniman masuk sekolah. Juga, mengusahakan sandiwara sastra secara virtual, memahirkan produksi bahasa dan sastra secara inovatif, menciptakan indeks pembangunan kebudayaan, dan menampilkan wajah bahasa di sekolah, serta mengadakan secara terbatas Bulan Bahasa dan Sastra, dengan mempertimbangkan protokol kesehatan terutama dalam menghadapi covid-19.

 

Stabilitas

Dengan berbagai tantangan dan permasalahan yang ada di bidang pendidikan dan kebudayaan, stabilitas polhukhankam dan transformasi pelayanan publik sangat diperlukan.

Dengan menyadari bahwa pendidikan dan kebudayaan adalah mandat untuk menghadapi siswa sebanyak 51 juta dan 2,7 juta guru, serta, penduduk Indonesia dengan ribuan adat istiadat yang membentuk kebudayaan Indonesia, Saya berpendapat sebagai berikut.

Upaya sadar dan terencana yang dilaksanakan telah mencapai keberhasilan yang maksimal, meskipun belum optimal. Di bidang pendidikan dan kebudayaan yang dilaksanakan Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Bapak Nadiem A Makarim, telah dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, meskipun kita semua menyadari adanya keterbatasan yang disebabkan faktor eksternal, umpamanya:

Di bidang pendidikan, belum semua guru dan orangtua memahami adanya perubahan pandangan, bahwa pendidikan tidak diukur oleh nilai (numerik) semata. Tetapi, diupayakan adanya pematangan di bidang kekuatan agama (spiritual), kekuatan olah rasa, olah pikir, dan olah jasmani.

Semua pematangan di atas belum tercapai secara tuntas. Kemdikbud memahami, bahwa pendidikan juga menjadi tanggung jawab orangtua dan siswa itu sendiri. Maka, pembelajaran jarak jauh yang sementara ini dilakukan harus mencapai target yang realistis, melalui inovasi-inovasi baru. Terutama, bagi siswa yang tidak memiliki ketersediaan alat teknologi yang memadai, dan, semua kegiatan harus mengutamakan kesehatan. Perlu ada ukuran, dan paradigma baru yang dapat disebut berhasil (sangat berhasil, berhasil, kurang berhasil) di bidang pendidikan.

Hal lain, yang perlu diterima dan disadari, adanya kejenuhan dan kebosanan yang dialami siswa terutama SMP dan SD yang harus tinggal di rumah. Bagi SMA dan perguruan tinggi, tuntutan pendidikan dapat lebih dilakukan karena kedewasaannya. Penghilangan ujian nasional sangat bijak dan memerlukan jalan baru untuk melakukan ukuran yang lebih fleksibel dan intangible bagi keberhasilan pendidikan.

Hal yang sangat penting adalah kontinuitas dan keajegan kegiatan pembelajaran jarak jauh. Hal ini, dapat dilaksanakan bila rentang waktu pembelajaran dilakukan dengan mempertimbangkan daerah masing-masing.

Hal lain yang sangat penting dipertimbangkan adalah adanya pengembangan kekuatan, dan keterlibatan orangtua serta guru untuk melaksanakan pembimbingan. Orangtua dan guru perlu melakukan pola asuh yang memberi teladan, mengarahkan, memahami, dan mampu berdialog dengan anak-anak.

Pola asuh yang sifatnya otoriter, membebaskan atau terlalu melindungi akan sangat merugikan siswa. Terutama, SD, SMP dan SMA atau SMK, karenanya semuanya harus dilakukan dengan gembira dan bermakna.

Adapun di bidang Kebudayaan, perlu diciptakan adanya kegiatan virtual yang menggugah rasa seni, sastra dan bahasa karena pertimbangan kegiatan jarak jauh untuk menghadapi pandemi covid-19.

Harus menjadi pertimbangan bagi daerah-daerah yang tidak dapat melakukan secara virtual, harus diterima kemampuan daerah tersebut yang terbatas. Kita menghargai, upaya guru yang mendatangi siswanya di daerah terluar, terpencil dan terjauh. Perlu dipikirkan bagi daerah-daerah tersebut, untuk bekerjasama dengan tenaga lain seperti polisi dan Tentara Nasional Indonesia atau pihak swasta untuk dapat melakukan pembangunan pendidikan dan Kebudayaan dengan baik. Untuk pengembangan kebudayaan harus diupayakan adanya kreativitas dan platform kegiatan yang dapat menggugah rasa seni dan budaya.

Kebudayaan adalah "Pengemudi dan pendorong kekuatan untuk memungkinkan terjadi pembangunan yang berkelanjutan".

Kebudayaan harus dapat menciptakan keluarga yang taat kepada agama, keluarga yang santun, sopan dan masyarakat yang berbudi pekerti luhur. Hal ini, telah tertanam di Indonesia sejak lama dan kita perlu menggali kembali kebudayaan ini serta mempertahankannya untuk masa depan bangsa.

 

Silaturahim

Tuhan sudah mengatakan bahwa "Aku ciptakan Engkau dengan berbagai bahasa dan bersuku-suku, agar Engkau mampu menegakkan silaturahim."

Saya berkesimpulan, capaian kinerja Kemendikbud selama 1 tahun ini (tahun 2019-2020) telah berhasil. Meskipun, kita sadar bahwa pekerjaan pendidikan dan kebudayaan adalah pekerjaan longitudinal (jangka panjang) dan memerlukan kerja sama semua komponen bangsa.

Dalam kiprahnya di bidang pendidikan, Mas Menteri (Pak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) telah meluncurkan 6 episode 'Merdeka Belajar' yang dijabarkan dalam program Episode 1 Merdeka Belajar: mengubah ujian nasional menjadi penilaian (assessment) kompetensi minimum dan tinjauan (survey) karakter, dengan menghapus ujian sekolah berstandar nasional dan menyederhanakan rencana pelaksanaan pembelajaran dengan mempertimbangkan kekuatan anak didik, untuk dapat menyesuaikan kuota penerimaan peserta didik baru berbasis daerah (zonasi) di seluruh Indonesia.

Episode 2 Merdeka Belajar: adalah "Kampus Merdeka" yang memberikan kemudahan pelaksanaan pendidikan (termasuk proses belajar) di perguruan tinggi. Episode 3 Merdeka Belajar: adalah perubahan mekanisme bantuan operasional sekolah (BOS), di tahun anggaran 2020.

Episode 4 Merdeka Belajar: adalah program yang mencetuskan organisasi penggerak pendidikan, mengarah ke Merdeka Belajar 5 yang meningkatkan mutu guru, sebagai penggerak pendidikan, dan yang terakhir adalah Merdeka Belajar 6 yang melakukan transformasi dana pendidikan untuk perguruan tinggi.

Semua program di atas diharapkan akan bermuara pada usaha pendidikan dan kebudayaan yang jauh lebih bermutu untuk bangsa, negara dan agama.

Apa yang kita kerjakan sekarang dalam bidang pendidikan dan kebudayaan akan baru dapat dirasakan hasilnya di waktu yang mungkin lebih dari 10-15 tahun mendatang.

Selamat kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.