Dari Kompensasi, Hutan Bertambah

 

SAAT daerah lain harus bekerja keras mempertahankan kawasan hijau, Jawa Timur bisa bernapas lega. Kemarin, daerah itu menerima tambahan kawasan
hutan seluas 100,32 hektare di Bondowoso.

Tambahan itu berasal dari PT Bumi Suksesindo, perusahaan pemegang izin pinjam pakai kawasan hutan seluas 992 hektare di Banyuwangi, Jawa Timur. Penyerahan lahan diterima Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar.

“Berdasarkan aturan, kami wajib menyerahkan lahan kompensasi seluas 1.984 hektare. Kami berkomitmen menyerahkan 2.038 hektare lahan atau lebih luas 54 hektare,” kata Direktur PT BSI, Cahyono Setyo, kemarin.

Di Bondowoso, perusahaan menyediakan lahan kompensasi total 635 hektare dan di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, 1.385 hektare. Sebelum akhir tahun, seluruh lahan sudah diserahkan.

“Kami bangga bisa berkontribusi untuk perluasan kawasan hutan Indonesia, khususnya di Pulau Jawa,” lanjut Cahyono.

BSI tercatat menjadi perusahaan pertama yang berhasil melaksanakan serah terima lahan kompensasi dengan mengacu pada standar kepatuhan yang ditetapkan pemerintah di Pulau Jawa. Lahan kompensasi harus diserahkan oleh perusahaan dalam kondisi clear and clean dan sudah direboisasi.

Sebelum penyerahan, kondisi hutan sudah diperiksa Kementerian LHK. Tim mendata luas lahan, jumlah dan jenis tanaman. Sekitar 500 kepala keluarga dilibatkan dalam proses reboisasi kawasan hutan di Bondowoso.

Kondisi berbeda terjadi di Kalimantan Selatan. Kerimbunan hutan di wilayah itu terus tergerus kejadian kebakaran hutan.

Sampai kemarin, api sudah menghanguskan lahan seluas 350 hektare selama musim kemarau tahun ini.

“Sejak Agustus, jumlah titik api dan kebakaran yang terjadi mengalami peningkatan. Tim berupaya mengatasi kebakaran dari udara dan darat,” kata Kepala Seksi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, Dinas Kehutanan Bambang Marwanto.

Kecepatan pemadaman sangat bergantung pada kondisi lokasi. Jika kebakaran terjadi di lokasi sangat jauh dan sulit dijangkau, pemadaman berjalan lamban. “Kami harus mengandalkan helikopter untuk melakukan water bombing,” tambah Bambang.

Meski hujan juga turun di wilayah ini, titik panas terus muncul. “Selama Agustus-September, muncul 83 titik api. Yang terbanyak di Kotabaru, Hulu Sungai Selatan, Banjar, dan Tabalong,” paparnya. (BN/DY/N-2)