Dwelling Time cuma Dua Hari di Patimban

 

MENTERI Perhubungan Budi Karya Sumadi memastikan waktu proses bongkar muat peti kemas (dwelling time) di Pelabuhan Patimban, Subang, Jawa Barat, bakal kurang dari dua hari guna menekan biaya yang harus ditanggung importir.

Hal itu, sambungnya, sekaligus untuk menyikapi tersendatnya arus peti kemas  dalam beberapa bulan belakangan, yang terjadi di hampir seluruh pelabuhan di dunia, akibat pandemi covid-19.

“Pelabuhan Patimban yang dikelola oleh swasta, dengan skema kerja sama pemerintah dan badan usaha melalui skema KPBU, diharapkan dapat memberikan layananan yang prima. Misalnya kita harus me-manage dwelling time kurang dari dua hari,” ungkapnya dalam Public Expose Pelabuhan Patimban: Wajah Modern Pelabuhan di Indonesia, secara daring, kemarin.

Dalam catatannya, dwelling time di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, hingga Mei 2020 ialah 2,5-3 hari.

Budi menerangkan, cepatnya proses bongkar muat peti kemas, sejak pengangkatan dari kapal hingga kontainer keluar dari terminal pelabuhan, bakal menjadi awal dari penghematan biaya ­operasional.

“Dengan pengurangan dwelling time, ini akan mengurangi biaya operasional sehingga berkontribusi dalam peningkatan efisiensi logistik nasional yang signifikan,” kata Budi.

Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kemenhub Agus H Purnomo menambahkan, saat ini Kemenhub telah menyiapkan dua langkah untuk percepatan bongkar muat tersebut. Pertama, mempercepat proses pengangkatan peti kemas dari kapal supaya kapal dapat segera berlayar kembali.

“Kedua, mempercepat pro­ses kepabeanan agar kontainer dapat segera keluar dari pelabuhan. Ini supaya kontainer dapat segera kembali ke depo,” ujarnya.

Saat ini, industri pelayaran secara global tengah menghadapi naiknya biaya pengangkutan (freight) peti kemas atau biaya kargo akibat pandemi covid-19.

“Dampaknya, hampir di semua negara harga sea freight dengan kontainer naik signifikan, waktu pelayaran lebih lama, terjadi penumpukan kontainer di pelabuhan, dan bongkar muat di pelabuhan pun lebih lama,” ujar Agus.

Pusat pertumbuhan

Dalam acara Public Expose Pelabuhan Patimban tersebut, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan Patimban akan menjadi satu-satunya wilayah yang memiliki infrastruktur paling lengkap di Indonesia. Patimban memiliki akses pelabuhan, dekat dengan bandara, serta memiliki akses jalan tol dan kereta api.

“Pelabuhan Patimban merupakan pintu yang akan menggerakan ekonomi dalam skala regional. Nah, kami memiliki konsep Metropolitan Rebana (Cirebon-Patimban-Kertajati). Ini maksudnya kawasan regional yang melakukan pengembangan dalam satu konsep dan terdiri dari multipusat pertumbuhan. Patimban punya pelabuhan dan bandara untuk angkut barang dan penumpang. Patimban juga dilewati Tol Cipali dan kereta api Cirebon-Surabaya yang bisa dimanfaatkan untuk koneksi intermoda di wilayah ini,” ungkapnya.

Selain itu, pria yang akrab disapa Kang Emil itu juga menambahkan, harga tanah di Patimban saat ini juga relatif murah dan zona upah minimum regional masuk zona paling bawah. (E-2)