Ekonomi tidak Mengarah ke Depresi

 

PEREKONOMIAN Indonesia diperkirakan tidak akan sampai masuk pada tahapan depresi meski saat ini memasuki resesi.

Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi mengatakan kecil kemungkinan ekonomi Indonesia mengalami depresi. Pasalnya, kata dia, jika dilihat trennya, pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai masih jauh lebih positif.

“Kalau dilihat trennya, tren kita jauh lebih positif karena kalau dilihat kuartal ke kuartal (q to q) itu bahkan masih tumbuh positif 5% meski secara kalender kita masih minus 2%,” katanya ketika dihubungi di Jakarta, kemarin.

Kontraksi pada kuartal III 2020 sebesar 3,49%, masih lebih baik daripada kuartal sebelumnya sebesar 5,3%.

“Kemungkinan mengalami perburukan lebih lanjut pada kuartal IV masih 50:50. Tapi ada kemungkinan bouncing (melambung), jadi kemungkinan mengalami depresi itu sebenarnya kecil probabilitasnya,” kata Fithra.

Ia mengatakan pencairan stimulus menjadi salah satu pendongkrak pertumbuhan ekonomi tahun ini.

“Pencairan terakhir stimulus itu berdampak terhadap ekonomi hingga 1%. Jika 100% direalisasikan itu bisa mendorong 3,96%. Artinya, kalau stimulus bisa dicairkan lebih baik lagi, sampai 100% itu bahkan kita punya kemungkinan tumbuh positif tahun ini,” tandasnya.

Fithra menambahkan, Indonesia juga punya peluang untuk bisa bangkit pada tahun mendatang meski tahun ini dana moneter internasional (IMF) memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih terkontraksi 1,5%.

Penyerapan membaik

Dalam kesempatan berbeda, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, hingga 4 November 2020 serapan anggaran program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) telah mencapai Rp376,17 triliun atau 54,1% dari total anggaran sebesar Rp695,2 triliun. Serapan itu dinilai kian membaik dari waktu ke waktu dan akan terus diakselerasi di sisa tahun anggaran 2020.

“Sudah semakin membaik karena semua kementerian/lembaga (K/L) terus dimonitor. November ini diharapkan akan meningkat kembali,” ujarnya dalam rapat kerja bersama Komite IV Dewan Perwakilan Daerah (DPD) secara virtual, kemarin.

Realisasi 54,1% itu berasal dari penyerapan di sektor kesehatan sebesar Rp32,15 triliun atau 33,1% dari pagu Rp97,26 triliun.

Lalu, bidang perlindungan sosial yang terserap Rp177,05 triliun atau 75,6% dari pagu sebesar Rp234,33 triliun yang mencakup Program Keluarga Harapan (PKH) Rp36,71 triliun, kartu sembako Rp37,75 tri­liun, bantuan sembako Jabodetabek Rp5,47 triliun, dan bantuan sembako non-Jabodetabek Rp29,47 triliun.

Di bidang dukungan sektoral K/L dan pemerintah daerah serapannya mencapai Rp32,21 triliun atau 48,8% dari pagu Rp65,97 triliun.

Di sisi lain, Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) mengindikasikan perbaikan keyakinan konsumen masih tertahan pada Oktober 2020. Itu tecermin dari indeks keyakinan konsumen (IKK) sebesar 79,0 atau lebih rendah jika dibandingkan dengan 83,4 pada September 2020.

“Menurut komponennya, keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi ke depan tetap berada pada level optimistis dengan indeks eks­pektasi konsumen (IEK) sebesar 106,6,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Onny.

Menurut Onny, ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi ke depan masih cukup kuat didukung ekspektasi terhadap penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja ke depan. (Des/Try/E-1)