Hakikat Silaturahim

SILATURAHIM secara bahasa berarti menjalin tali kasih. Seakar kata dengan salat yang berarti menjaling hubungan dengan Sang Pencipta.

Dalam Islam, silaturahim maknanya lebih luas. Bukan hanya menyambung tali kasih dengan sesama manusia (mikrokosmos), melainkan juga dengan alam raya (makrokosmos) seperti binatang, burung, ikan, tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda mati seperti air, tanah, udara, langit, dan lain sebagainya.

Sebagai khalifah (representatif Allah di bumi), manusia harus menjalin komunikasi aktif secara verbal dengan mereka. Dalam Islam, yang punya rahim bukan hanya manusia, melainkan juga semua makhluk memiliki unsur 'hidup'. Bagi Allah SWT tidak ada benda mati.

Mereka semua tanpa kecuali menyembah secara aktif dan bertasbih kepada Allah, Sang Khaliq. ”Hanya (kita) tidak memahami tasbih mereka”, kata Allah SWT dalam QS al-Isra’/17:44).

Dalam ayat lain ditegaskan, ”Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun, melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.” (QS al-Isra’/17:44).

Bersilaturahim dengan sesama manusia (mikrokosmos) itu yang biasa dilakukan, terutama pasca-Lebaran Idul Fitri sudah dilembagakan dalam bentuk halalbihalal. Bersilaturahim dengan alam raya (makrokosmos) sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan terasa masih langka dan belum terlembagakan.

Padahal, Rasulullah telah mencontohkan silaturahim dan menjalin hubungan keakraban dengan lingkungan sekitarnya seperti lingkungan alam misalnya tanah, air, dan langit, juga lingkungan hidup, seperti fauna dan flora, dan lingkungan makhluk spiritual, seperti bangsa jin, malaikat, dan para arwah manusia terdahulu.

Menjalin silaturahim dengan mereka tidak kalah pentingnya dengan manusia. Gagal membangun silaturahim dan keakraban dengan makhluk makrokosmos bisa membawa malapetaka bagi manusia. Hal ini sudah diingatkan Tuhan di dalam Alquran: ”Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia,” (QS 30:41).

Silaturahim dengan benda-benda mati banyak dicontohkan Rasulullah SAW. Antara lain, ia melarang keras mencemari air; baik genangan air (al-ma’ al-rakid) maupun air yang mengalir (al-ma’ al-jari), suara tasbih butiran pasir di tangan Rasulullah, batu keras menjadi lunak saat penggalian khandak, serta kasus dinding dan daun pintu yang berbicara kepada Nabi Muhammad.

Riwayat lain menceritakan Rasulullah pernah berdialog dengan bekas mimbar yang akan dibuang karena harus diganti dengan mimbar baru. Nabi juga bersahabat dengan pepohonan dan binatang. Rasulullah menganjurkan untuk memelihara tanaman dan menghijaukan tanah-tanah tandus.

Menanam dan memelihara pohon itu mulia dan berpahala. Binatang yang makan dari hamparan tanaman menjadi sedekah bagi penanamnya. Rasulullah juga pernah marah dan melarang sahabatnya membunuh makhluk hidup dengan cara membakar api. Ia mengatakan hanya Allah SWT yang berhak menyiksa dengan api. Nabi pernah menunjuk contoh seorang penjahat masuk surga lantaran menolong seekor anjing yang sedang kehausan dan seorang ahli ibadah masuk neraka lantaran mengurung kucing sampai mati.

Di balik persahabatan manusia dengan fauna tentu saja ada hikmah lebih besar untuk kepentingan manusia. Pembabatan hutan yang melampaui batas jelas merugikan semua pihak, terutama umat manusia yang akan didera dengan banjir dan tanah longsor, serta berbagai musibah lainnya.

Merusak dan memusnahkan sejumlah spesies tanaman dan binatang akan mengancam pertumbuhan dan keseimbangan ekosistem, yang pada akhirnya akan merugikan manusia itu sendiri. Banyak contoh lain dalam Alquran dan dalam hadis Nabi, manusia bisa dan harus menjalin komunikasi dan silaturahim dengan makhluk makrokosmos. Semuanya ini menunjukkan betapa pentingnya menjalin hubungan kasih sayang dengan fauna, flora, dan alam raya, apalagi manusia.

Silaturahim dalam Islam juga diadreskan kepada makhluk-makhluk spiritual seperti bangsa jin dan malaikat. Termasuk dengan arwah manusia saleh yang pernah hidup jauh sebelumnya. Jibril tempat curhatnya Rasulullah yang mendatanginya hampir setiap hari. Demikian pula dengan malaikat-malaikat lainnya.

Silaturahim juga dilakukan terhadap bangsa jin sebagaimana ditemukan di dalam beberapa riwayat Nabi. Bahkan Rasulullah diriwayatkan pernah mempunyai jin piaraan.

Rasulullah juga diriwayatkan sering menjalin komunikasi dengan arwah leluhur para nabi, sebagaimana disebutkan di dalam hadis-hadis Isra Mikraj. Yang amat populer Rasulullah pernah menjadi imam di Masjid Aqsha dan makmumnya para nabi sebelumnya menjelang ia melakukan Mikraj. Rasulullah pernah dibantu beberapa kali oleh makhluk spiritual tersebut. Ketika hijrah ke Thaif, Rasulullah disambut dengan lemparan batu sampai tumitnya berdarah. Makhluk spiritual penjaga Gunung Thaif mendatangi Rasulullah untuk membalaskan rasa sakit itu, tetapi Rasulullah menolak tawaran itu. Dalam kisah Perang Badar, Rasulullah juga pernah mendapatkan bala bantuan dari 'tentara tak terlihat'. Percaya terhadap makhluk spiritual salah satu dari rukun iman, khususnya percaya terhadap malaikat.