Heru Wahyudin: Menebar Virus UMKM

NEKAT, begitulah kesan yang timbul dari diri Heru Wahyudin pada akhir 2013. Bagaimana tidak? Ia berani melepaskan status sebagai karyawan untuk berjualan camilan.

Dari sehari-hari berangkat kantor mengenakan dasi dan kemeja, Heru beralih menenteng keresek dan menawarkan camilan dari pintu ke pintu. “Waktu itu saat saya masih kerja di kantor.

Saya iseng jualin berbagai jenis keripik milik teman saya. Eh, enggak tahunya orang-orang di kantor saya dulu banyak yang suka. Nah, dari situ saya mungkin agak kepedean (terlalu percaya diri) untuk bikin usaha sendiri, ya, sehingga tanpa pikir panjang saya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan saya itu,” cerita Heru yang menjadi narasumber acara Kick Andy episode Menangkap Peluang, Berbagi Kesempatan yang tayang hari ini.

Pemuda kelahiran Malang, Jawa Timur, itu tetap teguh pada pendiriannya meski sang ibu sampai menangis melihat jalan yang ia pilih. Heru mengaku sang ibu merasa kecewa karena anak yang telah disekolahkan tinggi justru memilih menjadi penjaja makanan.

Perjalanan awal bisnis Heru juga tidak mulus meski ia juga menitipkan dagangannya ke salah satu kantor bank swasta dan diler mobil. Di kedua kantor itu memang Heru pernah menjadi karyawan. Meski penjualan cukup bagus, keuntungan yang ia dapat hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan.

 

Melejit lewat makaroni

Dengan tidak patah semangat, Heru mengikuti pelatihan bisnis yang dise lenggarakan Balai Latihan Kerja (BLK) Wonojati, Singosari, Malang. Dari sana ia bertemu dengan seorang chef ahli makaroni yang kemudian mengajarinya untuk membuat makaroni yang enak, lezat, dan renyah.

Jalan suksesnya ternyata dimulai lewat makaroni. Setelah berhasil membuat makaroni lezat, ia membuat merek makanan ringannya sendiri, Superheru Snack Factory, pada Mei 2014. Makaroni buatannya mendapat respons bagus di pasar sehingga produksi melejit hingga 600 kilogram hanya dalam satu bulan. Seiring dengan itu, jumlah karyawannya bertambah hingga menjadi delapan orang.

Selain dipasarkan secara konvensional, Heru pun memasarkan produk makanan ringannya memanfaatkan platform marketplace seperti Shopee, Bukalapak, Lazada, dan Pasar Digital (Padi) UMKM yang dikembangkan PT Telkom Indonesia.

Akses penjualan melalui Padi UMKM bisa didapat Heru setelah bergabung ke Rumah BUMN pada 2017. Program Rumah BUMN memang ditujukan untuk membantu pengusaha UMKM. Dalam setahun, omzet bisnis makanan ringan Heru meraup Rp500 juta.

Sesudah meraih kesuksesan, Heru tidak ingin menikmati sendiri. Karena sadar pentingnya kemampuan berwirausaha, pria 39 tahun itu rutin menyelenggarakan berbagai pelatihan. Ia membuka program itu bagi ibu-ibu di desa, pelajar, mahasiswa, serta para buruh pabrik rokok yang memasuki masa purnakerja di berbagai daerah di Jawa Timur.

Heru percaya jalan wirausaha bisa ditempuh siapa saja, baik anak muda hingga pensiunan. Tidak hanya membuat kemandirian fi nansial, berwirausaha membuat mental kuat dan terus bersemangat. (M-1)