Humaniora

 

SRI Hamwati, seorang guru tunanetra memulai intro dengan membunyikan peking di aula SLB Negeri Temanggung, Jawa Tengah, Jumat (16/4) siang.

Dua penabuh peking lainnya mengikuti irama pembuka untuk menandai dimulainya latihan karawitan untuk mengisi waktu luang pada saat bulan Ramadan. Mentor latihan karawitan, Yuni Prasetyo, memberikan aba-aba agar pemain instrumen lainnya, seperti penabuh kenong, kempul, bonang, dan gong, mengiringi irama tersebut. Yuni melengkapi instrumen dengan suara kendang. Sejurus kemudian lagu Suwe Ora Jamu mengalun merdu dari gending karawitan.

Kepala SLBN Temanggung Ina Sulanti, menjelaskan, latihan karawitan ini baru dimulai pada Jumat (16/4). Tujuannya untuk meningkatkan kompetensi serta menumbuhkan cinta budaya Indonesia, khususnya Jawa.

Harapannya setelah para guru menguasai karawitan lalu bisa menularkan keahliannya pada siswa. "Guru harus bisa dulu, terutama yang punya bakat. Total jumlah guru kami ada 33 orang. Yang ikut karawitan separuh dari jumlah itu," ujar Ina.

Berlatih karawitan, menurut Ina, sangat penting untuk melestarikan budaya karawitan, juga menjadi mata pelajaran pilihan SMP dan SMA luar biasa, seperti mata pelajaran tambahan. "Dulu pernah ada karawitan, tapi berhenti sangat lama. Sekarang dihidupkan lagi saat bulan Ramadan. Banyak waktu luang guru karena pembelajaran jarak jauh. Kita manfaatkan untuk kegiatan yang meningkatkan kompetensi guru," imbuhnya.

Guru Seni Budaya SLBN Temanggung, Yuni Prasetyo, menjelaskan, lagu Suwe Ora Jamu pada latihan ini dimainkan dengan irama lancar sesuai gaya Yogyakarta dan Surakarta.

Sehari-hari, Yuni mengajar kesenian bagi guru dan murid. Diakuinya, kadang ia kesulitan karena guru tidak datang berbarengan saat latihan, bahkan kadang ada yang tidak datang. Akibatnya ada instrumen yang tidak dimainkan karena orang yang pegang instrumen itu tidak datang. "Kalau saron dan demung bisa ada penggantinya. Paling berpengaruh kalau bonang, kalau tidak datang yang main jadi tidak jalan jadi lagu. Jadi latihannya teknik saja," tutur Yuni.

Ia mengaku, hambatan melatih siswa tunagrahita ialah mereka gampang lupa karena ada hambatan intelektual sehingga harus sangat pelan dan bertahap dalam mengajar. Misal, empat nada dulu sampai mereka hafal, baru disambung lagi.

Kendala mengajar karawitan pada tunarungu harus memakai hitungan. Mereka cerdas dalam membaca notasi, tapi tidak bisa mendengar sehingga Yuni harus membuat ketukan untuk memandu mereka. "Tunarungu diajari menabuh gending karena untuk menunjang mereka menari. Tunanetra diarahkan untuk menyanyi," kata dia.