Icha Krisdiana: Semangat Melawan Meningitis

DI 2016, Icha Krisdiana Agestari, 23, memiliki pengalaman yang hampir membuatnya kehilangan semangat hidup. Ketika itu, ia didiagnosis menderi­ta penyakit meningitis, dengan kompli­kasi hydrocephalus.

Awalnya Icha sering mengalami pusing tak tertahankan hingga beberapa kali tak sadarkan diri. Ia berulang kali dilarikan ke rumah sakit, bahkan sempat dikira oleh saudaranya mendapatkan gang­guan gaib dari orang jahat.

“Nah, puncaknya pada bulan Agustus, setelah Hari Raya Idul Fitri. Tiba-tiba saya terjatuh di kamar mandi. Karena beberapa kali saya sering ambruk lagi, akhirnya dilarikan ke rumah sakit. Saya sempat didiagnosis oleh dokter terkena kanker paru-paru stadium 4. Ternyata setelah didalami, saya terkena penyakit meningitis TB dengan komplikasi hydrocephalus,” aku Icha saat menjadi narasumber dalam acara Kick Andy, Minggu (4/10).

Icha juga sempat mengalami koma hingga satu bulan karena penyakit yang dideritanya bertambah parah hingga ia terpaksa harus menjalani operasi otak pada 15 Oktober 2016. Icha baru sadar dari koma sebulan kemudian ketika sudah selesai dioperasi. Belakangan ia sadar bahwa di dalam kepalanya telah tertanam sebuah selang yang berfungsi membuang cairan di selaput otaknya.

“Yang saya syukuri itu ternyata, waktu sebelum operasi ada 6 pasien yang di ruangan, ternyata semuanya mengidap penyakit yang sama seperti saya. Lima pasien itu meninggal dunia semua, jadi tinggal saya yang tersisa. Mungkin malaikat kelewatan nya­but barangkali,” kelakar Icha.

Berkat semangat hidupnya yang gigih, kondisi Icha pun akhir­nya berangsur membaik. Ia bahkan sempat tak percaya bahwa penyakit meningitis yang sempat ia derita tersebut dapat sembuh.

Berkat semangat itu pulalah Icha pun mantap untuk melanjutkan pendidikannya yang sempat tertunda. Pada September 2017, ia resmi diterima sebagai mahasiswa baru di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Pembangunan, Jember, Jawa Timur, dan kini telah memasuki semester tujuh.

Tak ada raut muka kecewa yang diperlihatkan Icha. Ia tetap semangat melanjutkan pendidikan meski seumur hidup harus mengenakan selang dalam tubuhnya. Belakangan Icha sempat menulis sebuah buku yang berisi tentang kisah hidupnya melawan penyakit yang hampir merenggut nyawanya itu. Buku tersebut ia beri judul Suvive for Live.

“Pesan saya untuk siapa saja, khususnya pemuda-pemudi Indonesia, kebesaran Allah itu nyata adanya. Selagi kita tulus, semangat, dan berdoa tiada batas, insya Allah keinginan akan dikabulkan. Selain itu, jangan bermalas-malasan, ayo semangat,” pungkas Icha. (M-4)