Industri belum Normal Picu Surplus Neraca

 

BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat selama Oktober 2020 neraca perdagangan barang mengalami surplus US$3,61 miliar. Angka ini meningkat jika dibandingkan dengan capaian September 2020 sebesar US$2,39 miliar.

“Hal ini mengindikasikan terjadinya penurunan impor pada Oktober,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Setianto, dalam konferensi pers virtual di Jakarta, kemarin.

Penurunan impor terbesar, lanjut Setianto, terjadi pada produk nonmigas untuk golongan barang utama, yaitu mesin dan elektrik yang -11,9% dari US$1.688,9 juta pada September 2020 menjadi US$1.488 juta pada Oktober. Adapun dari sisi volume -38,72% dari 117,7 ribu ton menjadi 72,1 ribu ton.

Adapun berdasarkan jenis barang, pembentuk surplusnya neraca dagang barang Oktober berasal dari peningkatan migas US$-450,1 juta.

Utamanya untuk minyak mentah dan hasil minyak terjadi defi sit sebesar US$-131,2 juta dan hasil minyak US$- 543,2 juta. Namun, untuk neraca perdagangan gas terjadi surplus US$224,3 juta.

Untuk nonmigas, terjadi surplus cukup besar pada Oktober, yaitu US$4,06 miliar.

“Sehingga secara keseluruhan kita masih mengalami surplus sebesar US$3,61 miliar,” ujar Setianto.

Dengan perkembangan tersebut, secara keseluruhan neraca perdagangan Indonesia Januari-Oktober 2020 mencatat surplus US$17,07 miliar. Angka ini jauh lebih tinggi daripada capaian periode sama tahun sebelumnya yang defi sit US$2,12 miliar.

“Bank Indonesia memandang surplus neraca perdagangan berkontribusi dalam menjaga ketahanan eksternal perekonomian Indonesia,” ujar Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Onny Widjanarko, kemarin.

Ke depan, BI terus memperkuat sinergi kebijakan dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk meningkatkan ketahanan eksternal termasuk prospek kinerja neraca perdagangan.

Berlanjut

Dalam menanggapi surplusnya neraca perdagangan Oktober, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai hal itu dipengaruhi laju bulanan impor yang secara bulanan mengalami kontraksi 6,8%, sedangkan laju bulanan ekspor cenderung meningkat 3,1%.

“Neraca perdagangan nonmigas tercatat surplus US$4,1 miliar yang merupakan surplus tertinggi sejak 2008 saat ekspor nonmigas menunjukkan peningkatan. Ini sejalan dengan pemulihan ekonomi dari negara tujuan ekspor seperti Eropa, AS, Jepang, Tiongkok, dan India yang terkonfi rmasi tren peningkatan aktivitas manufaktur,” ungkap Josua.

Direktur Riset Center of Reform on Economics Indonesia, Piter Abdullah, memprediksikan surplus neraca perdagangan masih berlanjut selama industri Indonesia belum beroperasi normal.

“Sehingga impor terus terkontraksi. Surplus ini juga mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang memunculkan kepercayaan di pasar,” tandas Piter. (X-3)