Investasi Mengalir, Hipmi Apresiasi Kinerja BKPM

 

WAKIL Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP Hipmi) Eka Sastra mengapresiasi kinerja Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang mampu melampaui realisasi investasi.

“Hipmi mengapresiasi kinerja pemerintah. Walaupun dalam situasi pandemi covid-19, investasi tumbuh positif,” ujar Eka dalam keterangan tertulis, kemarin.

Selain investasi, lanjut Eka, penanaman modal asing (PMA) juga terus tumbuh. Investasi di luar Jawa juga meningkat. “Artinya, ada penyebaran investasi. Penyerapan tenaga kerja bagus dan target akan tercapai pada 2020 ini,” ucapnya.

Sebelumnya, Jumat (23/10), Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan realisasi investasi sepanjang kuartal III-2020 mencapai Rp209 triliun, atau naik 8,9% secara quarter over quarter (QoQ).

Realisasi investasi tersebut secara year on year (yoy) tumbuh 1,6% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada triwulan III 2019 dengan angka investasi sebesar Rp205,7 triliun.

Eka menambahkan, BKPM juga berkomitmen untuk investor yang hendak menanamkan dananya di Indonesia dengan jumlah yang besar kini wajib menggandeng UMKM. Syarat ini diberikan demi memajukan sektor UMKM di Indonesia dan komitmen BKPM ini disambut baik Hipmi. “Saya percaya rencana BKPM mendorong investasi masuk ke Indonesia sehingga bisa menciptakan lapangan pekerjaan bisa optimal,” ungkapnya.

Menurutnya, UMKM harus tetap hidup di tengah pandemi. Pasalnya, sektor itu yang akan mendorong perekonomian domestik seusai dihantam covid-19.

Di tengah pencapaian investasi tersebut, ekonom Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia Fajar B Hirawan menilai Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) jangan terlalu ambisius mampu mencapai target investasi sebesar Rp817,2 triliun. “Saya berharap BKPM jangan terlalu ambisius bahwa realisasi investasi akan 100%,” ujarnya.

Hal itu bisa dilihat dari fokus kebijakan yang lebih menitikberatkan pada sisi permintaan atau konsumsi. Pemerintah terlihat cenderung menunda sementara beberapa program/ kebijakan yang arahnya mendorong sektor investasi.

“Ditambah dari faktor eksternal, beberapa negara yang menjadi investor tradisional Indonesia juga masih fokus pada urusan dalam negerinya terkait dengan penanganan covid-19. Jadi wajar. Menurut saya, realisasinya kurang menjanjikan,” ujarnya. (Iam/E-3)