Irak, Sahabatku

PARA paus kerap berkunjung ke beberapa negara. Paus Fransiskus sudah berkunjung ke Thailand, UAE, Jerman, Amerika Latin, Afrika dan berkomunikasi dengan banyak pemuka ideologi dan keyakinan. Semua orang diulurinya tangan bersahabat. Sapaan awalnya ketika mendarat di Baghdad mengandung makna “Irak sahabatku”.

Tanpa membedakan bangsa, suku, agama dan arus politik, dikunjunginya Irak. Satu saja sapaan dasarnya di mana-mana: ayo membangun persahabatan; antara dia dengan orang-orang, yang belum dikenalnya, maupun antara mereka-mereka yang ada di Irak, dan lagi: ia mau berbelarasa dengan orang-orang yang menderita karena permusuhan dari orang-orang, yang menggunakan agama untuk melukai hati dan bayi serta istri/suami orang lain.

Dengan demikian, ia mengambil risiko, untuk dimarahi atau tidak disukai orang-orang, yang berlawanan satu sama lain. Yang mencolok adalah bahwa Irak memikatnya, karena justru keterikatannya pada imannya. Sehingga, ia ingin memadu persahabatan dengan banyak orang yang beriman beraneka. Sebab, lewat Abram-Ibrahim-Abraham ia menyongsong perdamaian antara orang-orang Ibrani, Islam, dan murid Kristus. Di sanalah dahulu tempat leluhur utama iman banyak orang itu berada.

Bahkan ia mengajak berdoa bersama orang-orang yang sebelumnya merasa terjauhkan oleh aturan ritual, yang sejak ribuan tahun disalahgunakan orang yang mengaku pemimpin agama. Tetapi, sebenarnya menyalahgunakan aturan doa untuk menjauh dari Yang Mahacinta.

Dalam hal itu, dia juga mengambil risiko dimarahi beberapa kelompok rekan-rekannya segereja, yang juga mengandung aliran, dengan keyakinan, agar orang harus berhati-hati serta menjaga diri dari ‘upacara doa dengan orang beragama lain’. Namun bagi Fransiskus, iman dan doa menciptakan persahabatan, bukan permusuhan.

Irak telah penuh gairah menyambut Fransiskus dan menikmati persaudaraan antara pelbagai orang, yang semula dipecah belah tokoh militer, oknum politik, orang yang mengaku pemeluk budaya atau cendekiawan, namun menciptakan jurang-jurang permusuhan. Lewat jabatan sebagai pengajar atau pemimpin universitas masa kini pun, ada orang yang justru mencari jalan untuk menciptakan permusuhan. Melupakan bahwa ‘universitas’ artinya seluruh upaya untuk mempersatukan banyak fakultas, guna saling mendukung ‘interdisiplinaritas’ lintas jurusan.

Akhir-akhir ini, wabah membuka pintu dan jendela persahabatan, bukannya malah merangsang pertempuran ekonomis dan sosial politis, serta, membiarkan sesama tersisih sampai menghadapi bahaya mati.

Paus Fransiskus, yang berdarah Italia dan ex-Argentina ini, telah mengajak bersahabat, orang-orang yang anak, istri/suaminya dicelakakan orang lain dan membuat jutaan orang menjadi pengungsi. Sebenarnya bukan karena agama. Melainkan, karena nafsu politis yang menggunakan ungkapan budaya tertentu. Ungkapan yang dilapisi gaya bahasa dan warna batin tertentu. Sehingga, orang tanpa banyak pikir memberinya suara dalam pemilihan, namun kemudian menyesal, ‘Wah, andai kata dulu dia tidak kita pilih!’.

Ternyata Irak telah menyambutnya dengan bersahabat dan memadukan banyak pihak yang berlainan posisi batin, untuk memulai pembangunan persahabatan baru. Padahal, sekian bulan yang lalu, Irak sarat dengan pertengkaran dan pembunuhan, yang terjadi dengan pelbagai alasan, yang bunyinya ‘kemanusiaan atau keadilan atau kerohanian’.

Rupanya, orang sungguh dapat memulihkan kembali kebencian semu, yang dibungkus dengan uang atau bendera tertentu, atau lambang-lambang kultural, dengan diakukan sebagai sesuatu yang lebih religius. Religiositas diberi sampul kultural yang dapat menjadi tirai bagi kehausan orang mencari Allah: suatu kelaparan transendensi, yang di masa sekarang dapat sungguh memukau (dengan alasan yang tepat atau kurang tepat).

Sekarang, banyak orang, sedikit demi sedikit dapat memahami, mengapa Bergoglio dahulu membiarkan dirinya dimaki-maki, karena dianggap menolak bergabung dengan teologi pembebasan tertentu, yang agresif sekali terhadap beberapa pihak di pemerintahan Amerika Latin, dengan argumentasi yang bernada religius.

Ia sesungguhnya lebih berdekatan dengan beberapa teolog pembebasan, yang secara berhati-hati mendorong umatnya untuk memang memihak pada orang miskin dan orang kecil, namun dengan cara yang lembut.

Tentu saja, iman dan agama perlu ‘membawa pembebasan dan penyelamatan’. Namun, tetap dengan menjaga agar tersebarlah ‘cinta kasih dan mampu memaafkan saudaranya 70×7 kali’. Akhirnya panggilan utamanya adalah ‘persatuan para sahabat (seperti Irak itu juga)’, karena gurunya pernah mengucapkan, “Saya menyebutmu bukan lagi hamba, tetapi sahabat.”

Persahabatan-iman dapat menciptakan perdamaian di zaman Nabi Nuh; juga di zaman Teresa, suster Albania, yang rela bermandikan kuman para gelandangan di India, juga, di sekitar Mangunwijaya di tebing Code. Maka sekarang, di bulan ini Paus Fransiskus bersama sahabat-sahabatnya di Irak, telah memulai dinamika politis dan kultural, yang dibutuhkan banyak pihak. Kita dapat belajar dari ‘Irak Sahabatku’. Itu bisa!