Kaka kembali ke Adonara

 

'Siap Kaka Brino. Banyak revisiannya juga tak apa.' Begitu pesan whatsapp Donatus Ola Pereda, Redaktur Artistik (MI), kepada saya, Senin (15/3), menanggapi info perbaikan beberapa bagian pekerjaannya.

Berapa bulan terakhir ini, kami memang tengah terlibat dalam satu penugasan untuk penerbitan buku perdana serial diskusi Forum Diskusi Denpasar 12 yang digagas Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat. Kaka Don dipercaya sebagai desainer grafis dalam proyek buku tersebut.

Tidak pernah saya menyana, pesan WhatsApp itu menjadi pamungkas darinya. Jelang pergantian hari,  tepatnya Senin (15/3) pukul 23.32 WIB, Kaka Don mengembuskan nafas terakhir usai serangan jantung. Ia pergi di usia 49 tahun. 

Kaka Don ialah personel senior di keluarga besar MI. Dua dekade lebih ia membuktikan dedikasi, termasuk saban ia pulang bersepeda motor dini hari dari redaksi yang berada di Kedoya, Jakarta Barat, ke rumahnya di Tambun, Jawa Barat. Sebagai penjaga gawang tim artistik iklan MI, Kaka Don memastikan pariwara dari para klien dapat terbit sesuai kesepakatan. 

Keramahan ialah salah satu hal yang identik dengan dirinya. Meski usia saya lebih muda, tak segan ia menegur dengan sapaan Kaka, khas tanah kelahirannya di Indonesia timur. Begitu juga kepada rekan perempuan. Dengan sopan dan lembut, ia selalu menyapa dan memuji ‘nona cantik’ dan ‘nona manis’ demi mencairkan suasana. 

"Santun, ramah, tak pernah marah, tak pernah mengeluh, bisa kerja sama dengan siapa saja. Tak pernah terlibat friksi dengan siapa pun. Senyum…senyum…selalu senyum yang dikedepankan," kenang seniman Tatang Ramadhan Bouqie terhadap sosok Kaka Don yang ia kenal sejak 1988, saat menjadi mahasiswanya di IKJ, sebelum kemudian menjadi anak buahnya di MI pada 1999.

Kesan itu juga diamini Direktur Pemberitaan , Gaudensius Suhardi. “Rekan kerja asal Adonara, NTT, ini dikenal sebagai ‘orang Flores yang tidak bisa marah'.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Direktur Pemberitaan , Gaudensius Suhardi (kiri) saat mengunjungi rumah duka. MI/Briyanbodo Hendro

Selain ramah, Kaka Don juga pribadi pemurah. Tak pernah pikir panjang dalam membantu kawan. Seperti ketika Iwan Kurniawan, penyair Indonesia yang bermukim di Rusia, meminta bantuannya untuk mendesain buku antologi puisi untuk proyek Doa Tanah Air.  Sebelum bersepakat, Iwan memberi tahu, proyek ini disponsori Tuhan Yang Maha Esa, alias tiada honor. 

“Ini pertama bagi saya kalo memang sponsornya Bapatua di Atas (TYME). Tidak apa-apa. Saya ikut saja. Sekalian belajar sajak dengan kaka Iwan dan teman-teman pelajar dari Rusia, toh. Unik ini proyek, he he. Saya akan ikut sumbang ide book design kalo butuh,” tulis Iwan dalam akun Facebook-nya saat mengenang jawaban Kaka Don. 

Indah Palupi, rekannya di MI yang tiap tahun menjadi panitia Natal Bersama di lingkup Media Group pun turut merasakan kemurahan hati Kaka Don, termasuk bantuan yang bukan terkait tupoksinya di MI. "Teman yang baik hati, murah senyum, ramah, senang bercanda dan selalu siap membantu teman yang butuh pertolongan. Terima kasih banyak ya Kaka Don, selalu bantu buat desain undangan natal karyawan Media Group."

Kaka Don memang tak segan membantu siapa pun yang kesulitan, seperti yang ditulis kolega Kaka Don lainnya di MI, Henri Siagian, ‘Hanya dua kata untuk Kaka Don: orang baik.’ 

Keluarga besar MI kini mesti merelakan orang baik tersebut. Dini hari tadi, jasadnya diterbangkan ke Kupang, Nusa Tenggara Timur, untuk kemudian menuju ke Larantuka. Di sana, ia akan menyeberangi lautan dan menyusuri daratan sebelum dikebumikan di tanah kelahirannya nan indah, Adonara.

Selamat jalan, Kaka!