Kampanye masih Abaikan Protokol Kesehatan

 

PELANGGARAN kampanye terus dibuat pasangan calon kepala daerah, tim sukses, dan para pendukungnya. Yang sangat menyesakkan, mereka juga mengabaikan protokol kesehatan di tengah pandemi yang belum mereda.

Di Sulawesi Selatan, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) mencatat ada 35 pelanggaran protokol kesehatan dalam masa kampanye. Pelanggaran terjadi di 12 kabupaten dan kota. Hanya tiga daerah yang tidak melakukannya, yakni Gowa, Tana Toraja, dan Soppeng.

“Pelanggaran kemungkinan akan terus terjadi karena saat ini para calon kepala daerah semakin gencar menggelar sosialisasi tatap muka di waktu yang tersisa,” ujar anggota Bawaslu Azry Yusuf, di Makassar, kemarin.

Ia sangat menyayangkan ketidakacuhan pasangan calon dan pendukungnya itu. Padahal, saat ini, penanganan pandemi covid-19 di Sulsel mulai memperlihatkan hasil baik.

Pengabaian protokol kesehatan juga terjadi di Lopo alias rumah adat milik Dinas Pariwisata Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Sepulang sekolah, para pelajar bersantai bersama di lokasi itu. Tanpa masker dan tidak menjaga jarak.

Sementara itu, di Cianjur, Jawa Barat, Komisi Pemilihan Umum Daerah tidak mau berspekulasi. Sebelum melibatkan ratusan warga untuk menjadi penyortir dan pelipat surat suara, mereka harus menjalani tes cepat.

“Ada 300-an petugas sortir yang kami minta melakukan tes cepat. Kami bekerja sama dengan Satgas Covid-19,” kata Ketua KPUD Selly Nurdinah.

Protokol kesehatan juga dilaksanakan saat mereka melaksanakan tugas di Gedung Pemuda. Para petugas harus memakai masker dan menjaga jarak antarmereka. “Kami hanya akan menggunakan 50% dari kapasitas gedung yang biasanya bisa menampung 600 orang. Dari hasil tes cepat, jika reaktif, petugas yang bersangkutan akan diganti,” tambah Selly.

Soal cuci tangan juga jadi perhatian KPUD. Mereka menyediakan dua tempat cuci tangan di gedung tersebut, lengkap dengan sabun. (LN/GL/BB/N-3)