Kartika Jahja Menggaet Suara Lebih Luas

 

PENYANYI Kartika Jahja, 39, selain dikenal luas sebagai musikus, juga aktif mengadvokasi isu-isu kemanusiaan, khususnya terkait dengan topik gender. Tika, demikian sapaannya, ingin isu yang dibawanya itu bisa sampai bukan saja pada kelompok yang sepaham dengannya, melainkan juga berpeluang membuka pikiran mereka.

Kartika Jahja banyak terinspirasi dari sejawat musisinya yang juga mengadvokasi berbagai isu di luar dunia musik. Namun, menurutnya, kebanyakan suara yang didengar berasal dari suara musisi laki-laki dengan latar belakang heteroseksual.

Hal ini membuat beberapa isu yang spesifik menjadi minim suara. Banyak isu yang bersinggungan dengan topik gender, menurut Tika, belum banyak disentuh dan disuarakan.

“Musisi yang politis cukup banyak. Aku pun terinspirasi dari mereka, baik yang dari Indonesia maupun luar negeri. Namun, masih sangat didominasi sama suara laki-laki heteroseksual. Kalau cari yang politis dalam musik, selalu yang naik dulu yang laki-laki. Teman-teman musisi laki-laki mungkin keras soal isu lingkungan, korupsi, dan demokrasi. Tapi saat isu perempuan atau spektrum gender seperti LGBTQ kok enggak ada yang ngomongin ini. Makanya aku mulai mikir, kenapa tidak diriku saja yang protes, kan gue juga penyanyi,” kata Tika dalam sesi
siaran langsung bersama 100% Manusia, beberapa waktu lalu.

Sejalan dengan minatnya, Tika juga menjadi duta dari 100% Manusia Film Festival yang berfokus pada isu-isu kemanusiaan, termasuk di antaranya kesehatan mental dan gender. Baginya, tidak ada pilihan lain selain nyemplung ke isu-isu yang membuatnya resah. Alih-alih tutup mata, Tika mencoba memilih untuk berbuat sesuatu pada yang diyakininya tersebut, meski ia juga tidak sesumbar ingin disebut sebagai aktivis sebab dirinya menilai masih belum begitu banyak yang dilakukan.

Sensor

Jika pada masa-masa terdahulu industri musik yang menjadi penjaga gawang untuk menentukan standar ekspresi dalam suatu karya lagu, menurut Tika, kini justru tantangannya ada pada antara sesama masyarakat sipil. Saat ini industri musik malah sudah lebih terbuka dengan berbagai kemungkinan ragam suara dan bentuk muatan yang dibawa musikus.

“Sekarang yang menahan untuk berekspresi secara politik melalui karya ialah masyarakat sipil. Jadi dibenturkan, antara masyarakat sipil lawan masyarakat sipil. Untuk ngomong isu tertentu harus bisikbisik,” katanya.

“Misalnya, aku beberapa kali harus berurusan dengan ormas karena acara yang temanya dianggap tidak sesuai standar moral mereka. Jadi sekarang ada kecenderungan sensor diri dari isu yang dianggap tabu. Bukan takut enggak diterima pasar, ketakutannya lebih dari itu. Apakah misalnya aman dari jerat pasalpasal karet undang-undang atau bisa juga mengalami perisakan daring,” tuturnya.

Namun, polarisasi yang menguat, imbuh Tika, juga membuat aktivisme menjadi lebih marak sebab ketika ada narasi yang berlawanan, juga akan dibalas dengan narasi yang lebih kreatif. Meski secara peluang saat ini memiliki ruang yang lebih variatif dari dekade sebelumnya, Tika mewanti-wanti agar tidak hanya heboh dengan isu yang dibawa sebatas di kelompoknya sendiri.

“Kalau aku, lawan bicara itu enggak harus yang berlawanan. Aku membaginya menjadi tiga. Satu, yang sepakat. Kedua, yang memang tidak akan pernah sepakat, mau ngomong fakta pun tidak akan berubah pikiran, dan ketiga, yang pemikirannya terbuka. Ini demografi yang lebih luas. Mereka yang masih mencari tahu apa yang dipercayai dan itulah yang menarik untuk dijangkau,” pungkasnya. (H-3)