Kebijakan Pelajaran Sejarah Keliru

 

KEBIJAKAN pendidikan nasional di bidang mata pelajaran sejarah yang tidak berdiri sendiri dan hanya ditempelkan dengan mata pelajaran lain dinilai menjadi penyebab ketidaktahuan generasi milenial sekarang tentang sejarah bangsanya. Hal itu tentu membahayakan karena akan mengikis jiwa nasionalisme dan masa depan kebangsaan di tengah gempuran nilai-nilai asing.

Suasana kebatinan anak muda tentang sejarah bangsa seperti itu, menurut sejarawan Anhar Gonggong, tidak bisa serta-merta mereka disalahkan karena sistem sosial dan pendidikan yang dianut pemerintah memang sudah tidak menempatkan mata pelajaran sejarah sebagai hal yang penting. “Maka dari itu saya tidak setuju apabila banyak pihak saat ini berpandangan bahwa ketidakmengertian generasi muda terhadap nilai-nilai sejarah karena faktor mereka sendiri,” ujar Anhar saat menjadi pembicara di acara webinar Hari Pahlawan, kemarin.

Selain itu, menurut dia, minimnya pengetahuan anak muda saat ini tentang sejarah juga terjadi karena terbatas atau bahkan tidak diberikannya pelajaran tentang sejarah. Hal itu bisa dibandingkan antara materi pelajaran sejarah yang diperoleh generasi terdahulu dan generasi saat kini.

Menurut Anhar, jika setiap individu ingin mengenal Indonesia lebih luas, ada tiga hal yang harus dipahami dengan baik.

Pertama, geografis. Seseorang tidak akan pernah mengenal Indonesia secara menyeluruh apabila tidak mengetahui geografisnya yang begitu luas. Kedua, yakni pengetahuan antropologis. “Terakhir, Anda tidak akan memahami Indonesia apabila tidak mempelajari sejarah,” ujar sejarawan kelahiran 14 Agustus 1943 tersebut.

Sejarawan yang juga aktivis pelestarian sejarah dan budaya, Asep Kambali, mengatakan pahlawan bukan hanya orang yang memegang senjata dan melawan penjajah secara fisik, melainkan juga yang berjuang dengan cara lain untuk bangsa dan negara.

Menurut Asep, semua orang bisa menjadi pahlawan dalam bidangnya masing-masing. Hal terpenting ialah untuk terus mencontoh nilai-nilai dan semangat kepahlawanan lalu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. (Wan/Ant/H-1)