Kembali Pulang setelah Banjir Surut

 

EKSPRESI datar terlihat di wajah beberapa warga pengungsi di Musala Riyadhul Saadah, Kelurahan Kembangan Utara, Jakarta Barat, saat banjir surut. Warga pun harus pulang ke rumah masing-masing dan membersihkan lumpur meski tahu bencana saat musim hujan itu masih mengancam.

Tarcatat, sebanyak 40 orang dari 25 kepala keluarga untuk sementara berdesakan di sebuah ruangan di lantai dua musala. Mereka merupakan warga RT 09, RT 10, dan RT 11 di RW 04 yang terdampak bencana banjir.

Saat itu akibat luapan sungai disertai hujan deras, pada Senin (21/9) malam, warga yang mayoritas berdomisili di sepanjang bantaran Kali Pesanggrahan, terjaga dari tidur dan bergegas meninggalkan rumah karena air mulai menggenang hingga setinggi 80 sentimeter.

Seperti diutarakan Hasan, warga RT 11/04, yang memutuskan untuk bermalam di rumahnya, kemudian harus kembali mengangkut sejumlah perabotan berharga miliknya dari tempat pengungsian.

Keputusan itu diambil bukan tanpa alasan. Hasan mengaku terpaksa meninggalkan musala karena khawatir kerumunan saat pandemi covid-19 bisa menyebabkan petaka. Apalagi di sana juga banyak anak-anak. “Meskipun ada disiplin protokol kesehatan, tetap saja kita khawatir. Soalnya ada anak-anak,” kata Hasan kepada Media Indonesia, kemarin.

Warga lain yang enggan disebut identitasnya menuturkan, bencana banjir sudah biasa terjadi. Saat musim hujan, warga yang memiliki rumah dengan konstruksi satu lantai pasti kena getahnya. Alhasil, jika tidak siap mengantipasi, banyak peralatan elektronik rusak terendam air.

Sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengingatkan warga untuk tidak lengah dan waspada terhadap potensi banjir saat musim hujan tahun ini. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga menyebut ada 82 kelurahan di Ibu Kota rawan mengalami bencana.

Selain intens melakukan tugas pengendalian banjir, seperti pengerukan lumpur di waduk, situ, dan embung yang menjadi daerah tangkapan air, Riza membeberkan pemprov bakal menyiapkan posko pengungsian yang lebih banyak jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. (Deden Muhamad Rojani/J-2)