Komunitas Biara Kkottongnae Terpapar

 

BELASAN penghuni Komunitas Biara Suster Bruder Kkottongnae Indonesia di Desa Batu Cermin, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, dinyatakan positif covid-19.

Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat meminta peng­huni komunitas asal Korea yang kesehariannya melayani orang jompo miskin papa, para pelaku perjalanan, dan pengidap HIV/AIDS, untuk menjalani isolasi mandiri di tempat pelayanannya.

Informasi itu dikatakan Pastor Gereja Maria Bunda Segala Bangsa Wae Sambi, Romo Ardi Obot, saat menyampaikan homi­li perayaan misa yang dihadiri ratusan umat Katolik, kemarin.

“Setelah mendengar informasi komunitas biara terpapar covid-19, saya langsung melarang mereka untuk tidak menghadiri peryaan misa. Saya juga menyarankan agar isolasi diri mengikuti petunjuk tim medis,” katanya.

Ia menambahkan, komunitas itu dianjurkan menjalani isolasi mandiri hingga kondisi kesehatan benar-benar pulih. Langkah tersebut bertujuan agar virus yang diderita tidak terpapar ke jemaat lain.

“Saya yang memberi pelayanan dalam keadaan bebas dan tidak terpapar. Kalaupun saya positif covid-19, saya tidak akan melayani perayaan bagi umat. Untuk itu, semua umat harus tetap waspada,” kata Romo Ardi.

Romo Ardi juga mengimbau masyarakat tetap hidup dengan menerapkan protokol kesehatan dan mengonsumsi makanan bergizi. Informasi yang dihimpun menyebut komunitas ini berpenghuni 13 orang. Pe­rinciannya, 4 suster, 3 bruder, serta 6 orang dengan gangguan jiwa dan jompo lansia.

Sementara itu, di Kabupaten Jepara, dikabarkan muncul klaster pendidikan setelah 15 siswa SMP swasta terkonfirmasi positif covid-19. Seluruh pelajar itu kini menjalani perawatan. “Iya betul, ada klaster pendidikan, yakni 15 pasien baru covid-19,” kata juru bicara Satgas Penanganan Covid-19 Jepara Moh Ali, kemarin.

Pasien baru berusia 13 tahun-15 tahun itu muncul setelah dilakukan tes usap. Untuk memutuskan rantai penyebaran saat ini dilakukan pelacakan terhadap kasus tersebut dengan memeriksa siswa, guru, dan keluarga.

Munculnya klaster pendidikan itu, imbuh Moh Ali, merupakan hasil pelacakan dari kasus covid-19 sebelumnya. “Untuk sementara sekolah tersebut diliburkan dari kegiatan belajar tatap muka,” tandasnya. (JL/AS/J-2)