Lebih Ketat Mengawal para Pelajar

 

MUHAMMAD Jufri sempat dilanda keraguan. Beberapa bulan lalu, Kepala Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan itu harus memutuskan kelanjut­an proses belajar-mengajar bagi siswa sekolah menengah kejuruan yang berada di kelas 3. “Mereka harus melaksanakan praktik kerja. Ini jelas tidak bisa dilakukan di rumah karena melibatkan industri dan perusahaan,” ujarnya di Makassar, kemarin.

Sementara itu, kondisi pandemi jauh dari kata mereda. Namun, keputusan akhirnya harus dibuat.

Jufri mengizinkan para pelajar melakukan praktik kerja industri. Syaratnya protokol kesehatan harus dilaksanakan secara ketat. “Para siswa juga harus melalui pemeriksaan kesehatan ketat terlebih dulu.”

Namun, untuk siswa di kelas bawahnya dan pelajar SMA, Jufri tetap belum bisa mengizinkan proses belajar tatap muka. “Inginnya kami bisa segera menggulirkan belajar di luar jaringan, tapi kami tetap menunggu keputusan Gubernur.”

Proses belajar tatap muka yang dilakukan di lingku­ng­an pondok pesantren menjadi pelajaran berharga bagi Kabupaten Garut, Jawa Barat. Satu demi satu pondok pesantren melaporkan adanya penjangkitan covid-19.

“Ratusan santri dan pe­ngurus pesantren terjangkit. Upaya kami mengatasi itu dengan memberlakukan pembatasan sosial berskala mikro,” papar petugas humas Satgas Covid-19, Yeni Yunita.

Pada November, jumlah kasus baru meningkat. Yang terbanyak berasal dari pondok pesantren di tiga kecamatan, yakni Limbangan, Pangatikan, dan Samarang. “Dalam sehari, ada penambahan kasus baru 44 hingga 59 orang,” lanjut Yeni.

Pemkab Cianjur juga ter­kendala oleh tingkat disiplin ASN yang mengendur. Akibatnya, ada empat instansi yang melaporkan pegawai mereka terpapar oleh covid-19. “Kami mendorong instansi itu untuk memberlakukan kerja dari rumah,” ungkap Juru Bicara Satgas, Yusman Faisal. (LN/AD/BB/UL/RF/N-3)