Louisa Ariantje Langi Hadir Terdepan saat Bencana

SEPERTI dokter Agus Ujianto yang punya julukan khusus, begitu juga dengan dokter Louisa Ariantje Langi. Karena selalu berupaya hadir menolong korban bencana, Louisa dijuluki dokter spesialis bencana.

Ia pun bisa dikatakan senior dalam penanganan korban bencana karena telah memiliki beragam pengalaman, termasuk menolong korban konfl ik bersenjata di masa menjelang referendum Timor Leste pada 1999. Louisa yang kala itu berusia 38 tahun ditugaskan di Atambua.

“Di sana setiap detik saya mendengar dentuman tembakan dan sesekali ledakan. Kondisinya tidak menentu di Atambua saat itu, kurang lebih 125 ribu pengungsi saya tangani. Saya juga rutin memberi susu kepada kurang lebih 1.500-2.000 anak kecil agar mereka terhindar
dari risiko gizi buruk,” ungkap perempuan kelahiran Minahasa, Su lawesi Utara, pada 1961 itu.

Lousia yang juga mengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (UKI) merasa bisa menjadi dokter adalah sebuah kenikmatan. Ter lebih Tuhan juga memberinya suami yang berprofesi dan berprinsip sama.

“Prinsip hidup saya begini, saya ingin melakukan sesuatu yang bernilai kekal, artinya yang bisa bermanfaat untuk orang lain. Karena profesi saya adalah dokter maka itulah talenta yang bisa saya berikan. Saya tidak punya kemampuan lain selain itu,” jelas Louisa.

Bersama sang suami, ia sudah berkunjung ke daerah-daerah pelosok yang terdampak bencana, dari Aceh, Palu, Lombok, Yogyakarta, hingga ke luar negeri, Nepal. Bahkan, mereka pun pernah mengajak buah hati untuk menginap sembari memberi pertolongan kepada korban gempa Yogyakarta pada 2006.

“Saya bahkan pernah mengajak suami serta anak saya, sekeluarga, menginap di kamp pengungsian di Yogyakarta waktu gempa Yogya tahun 2006. Kami menginap dengan para pengungsi selama tiga minggu, memeriksa kesehatan mereka hingga menjaga asupan gizi. Bahkan sempat tidak mendapatkan tempat untuk tidur karena saking penuhnya tenda pengungsian kami waktu itu,” tambah perempuan yang tahun lalu mendapatkan penghargaan sebagai dosen terbaik di kampus almamaternya.

Setelah makan asam garam di bidang pertolongan korban bencana, Louisa kini memfokuskan diri ke pertolongan gizi untuk anak-anak korban bencana. “Saya sekarang sedang concern untuk menolong anak-anak gizi buruk khususnya korban bencana. Kalau ada bencana kan mereka yang paling terdampak sebenarnya karena tidak  mendapatkan pemenuhan gizi yang cukup. Artinya, bila tidak segera ditangani, dalam beberapa hari anak-anak korban bencana ini rawan gizi buruk. Masalah inilah yang berusaha kami tanggulangi,” pungkas Dekan 3 Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FK UKI itu. (Bus/M-1)