Mantri Vaksin yang Khusus

ENTAH mengapa terbayang adegan Arnold Schwarzenegger mengatakan “I’ll be back,” ketika membaca kata yang satu ini. Padahal, cuplikan adegan dari film The Terminator itu sesungguhnya tidak ada kaitan dengan kata ini.

Kata apakah yang saya maksud? Kita lihat dulu kalimat-kalimat yang saya kutip berikut ini.

‘Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) akan menambah vaksinator menjadi 3.000 orang dari 1.800 yang sudah ada di lapangan untuk mempercepat vaksinasi’ ().

‘Guna mencapai target penyelesaian target vaksin dalam 15 bulan, saat ini Kemenkes terus menambah jumlah vaksinator’ (Cnbcindonesia. com).

Vaksinator, itu kata yang saya maksud. Jauh, ya, dari gambaran siborg pembunuh canggih Terminator yang diperankan Schwarzenegger pada 1984, yang pada kemunculan pertamanya merupakan karakter antagonis. Itu mungkin disebabkan unsur kembar dari dua kata itu, -inator.

Namun, ternyata ada kesamaan lain dua kata itu. Baik vaksinator maupun terminator belum ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Untuk terminator, saya memaklumi karena penggunaan kata itu di masyarakat penutur bahasa Indonesia amat jarang. Akan tetapi, ada kata yang masih terkait dengan terminator dan ada di kamus itu, yakni terminasi.

Sementara itu, orang Indonesia mengenal vaksin dan vaksinasi dan keduanya ada dalam kamus besar tersebut. Namun, untuk kata yang bermakna orang yang memberikan vaksin, tidak ada lema khusus dalam kamus itu. Kata bentukan pemvaksin pun tidak ada. Jadi, vaksinator itu kata baru untuk bahasa Indonesia meski dapat langsung akrab di masyarakat dengan adanya vaksin dan vaksinasi.

Untuk penutur bahasa Inggris, vaccinator yang belakangan ini diserap jadi vaksinator oleh penutur bahasa Indonesia bukanlah kata asing. Menurut Dictionary.com, pertama kali kata vaccinator terdokumentasikan dipakai sekitar 1800-1810. Jadi, kata itu setidaknya sudah berusia 210 tahun. Vaccinator dibentuk dengan menggabungkan kata vaccinate dan unsur –or.

Masih menurut Dictionary.com, kata benda vaccinator punya dua makna. Pertama, kata yang terkait dengan bidang kesehatan itu bermakna ‘orang yang memvaksin (a person who vaccinates)’. Kedua, vaccinator bermakna ‘alat yang dipakai dalam vaksinasi (an instrument used in vaccination)’.

Sebagai perbandingan, kamus Merriam-webster.com hanya menuliskan makna ‘one that vaccinates’. Merriam-webster.com tidak secara jelas memisahkan antara orang dan alat.

Dalam Kamus Inggris Indonesia susunan John M Echols dan Hassan Shadily (2014), ada vaccinate, vaccina tion, vaccinator, dan vaccine. Kata vaccinator dimaknai sebagai ‘pencacar, mantri cacar’. Di sini saya teringatkan bahwa cacar yang penyakit kulit dan penyakit virus korona sama-sama disebabkan virus.

Sejauh ini dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, hanya ada vaksin dan vaksinasi. Saya pikir itu disebabkan dua kata tersebut sudah mewakili kebutuhan penutur bahasa Indonesia. Dari kata itu dapat dibentuk memvaksin dan memvaksinasi.

Orang yang memvaksin selama ini tidak disebut dengan kata khusus karena yang melakukannya bisa dokter, mantri, atau tenaga kesehatan lainnya. Munculnya vaksinator disebabkan meningkatnya intensitas pajanan unsur dari luar negeri yang terkait dengan virus korona, baik pengobatan maupun berita, terhadap penutur bahasa Indonesia.