Membangkitkan Industri Film

FILM drama keluarga, Minari yang disutradarai Lee Isaac Chung mendapatkan enam nominasi di ajang Oscar tahun ini yang akan berlangsung pada 25 April mendatang. Film Korea Selatan tersebut mendapat nominasi untuk kategori film terbaik, sutradara terbaik, naskah asli terbaik, aktor utama terbaik, aktris pendukung terbaik, dan musik latar orisinal terbaik.

Tahun sebelumnya, Parasite, film Korea lainnya berhasil membawa pulang trofi utama untuk kategori film terbaik di ajang tersebut. Sebelumnya, film garapan Bong Joo Hoo ini juga menyabet trofi Palme d’Or, kategori tertinggi di ajang bergengsi Cannes Film Festival di Prancis. Parasite dan Minari menjadi bukti keberhasilan industri sinema Korea Selatan menembus Hollywood. Bagaimana mereka bisa meraihnya?

Semua ini bermula ke era Jurassic Park, maksudnya era ketika film garapan Steven Spielberg yang diproduksi pada 1993 itu meledak di pasaran. Pada Mei 1994, Dewan Pertimbangan Presiden di bidang sains dan tekonologi Korea menerbitkan laporan yang menyatakan film produksi Hollywood tersebut mampu menghasilkan uang setara dengan penjualan 1,5 juta unit mobil Hyundai atau dua kali lipat penjualan tahunan mobil itu. Saran mereka, Korea pun harus bisa membuat film semacam itu.

Pemerintah pun bertindak cepat dengan memberi insentif pajak bagi perusahaan-perusahaan yang mau menanam investasi pada industri film. Presiden Kim Yongsam, kala itu bahkan mengeluarkan dekrit (bayangkan, dekrit!) untuk membuat regulasi terkait dengan industri perfilman. Salah satu aturan dalam UU baru tersebut ialah gedung bioskop yang tidak menayangkan film Korea selama setidaknya dalam 146 hari dalam setahun, bakal dicabut izin usahanya.

Tanda langkah kejam ini, kata Euny Hong, penulis buku Strategi Inovatif di Balik Ledakan Budaya Pop Korea, mungkin tidak bakal ada Oldboy, film Korea yang memenangi Grand Prix di Cannes Festival 2004. Namun, meski berjaya di Cannes, Oldboy tidak mendapat satu pun nominasi Oscar. Tentang hal ini, Park Chan-wook, sutradara film tersebut mengatakan filmnya lebih dinikmati di Eropa ketimbang di Amerika Serikat karena penonton di negeri ‘abang Sam’, telalu rewel. Di AS, kata dia, jarang yang mau menonton film dengan sub-tittle, beda dengan halnya masyarakat Prancis.

Entah benar atau tidak alasan itu, tetapi hal ini tidak membuat para sineas Korea, patah arang. Mereka berpikir meningkatnya populasi minoritas di AS, terutama warga Latin dan Asia di sana merupakan potensi pasar sehingga masalah sub-tittle seharusnya tidak jadi masalah. Itulah yang akhirnya meyakinkan para distributor film di AS sehingga film seperti Parasite serta Minari yang diproduksi di Oklahoma, akhirnya mampu menembus Hollywood.

Terlepas bagaimana cara mereka melobi, mengemas teknik penyutradaraan, tata cahaya, tata cara aktris dan aktornya berakting, hingga penulisan skenario, yang menarik digarisbawahi di sini ialah adanya keberpihakan dari pemerintah Korea terhadap industri film dalam negeri. Terus terang saya bukan pemerhati film Indonesia dan tidak paham betul sejauh mana peran pemerintah dalam perkembangan industri film di Tanah Air, tapi saya berharap setelah peringatan Hari Film Nasional pada 30 Maret nanti, minimal mereka yang terlibat dalamnya bisa segera divaksinasi, agar industri film bisa segera bangkit. Itu saja, tak perlu jauh-jauh bermimpi ke Hollywood.