Membumikan Merdeka Belajar lewat Setara Daring

MERDEKA Belajar yang menjadi jargon Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejatinya bukan hal baru dalam proses pendidikan nasional. Sesungguhnya, sudah sejak dua dekade belakangan ini model pembelajaran serta proses pelaksanaanya telah memerdekakan peserta didik, serta guru untuk mengedepankan daya kreasinya.

Dalam sejarahnya, pendidikan kesetaraan telah mengalami 3 fase perkembangan sesuai dengan prioritas yang hendak dicapai. Periode pertama, pada 1945 hingga 1990, program yang dijalankan ialah pemberantasan buta huruf, keaksaraan fungsional dengan Paket A.

Periode kedua, pada 1991 hingga 2004, yaitu pengembangan Paket A dan Paket B dengan hasil ujian nasional pertama untuk Paket A dan Paket B setara SMP, pelaksanaan ujian nasional Paket C setara SMA/MA, dan dicantumkannya pendidikan kesetaraan dalam UU Sisdiknas Tahun 2003.

Hasilnya, pendidikan kesetaraan Paket A dan Paket B menyukseskan wajib belajar (wajar) pendidikan dasar 9 tahun, dan peserta UN Paket C meningkat sampai 50%, serta pelatihan tutor dan master training.

Pada periode ini, juga ada pengesahan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dan perluasan akses lintas departemen, yang hasilnya pengintegrasian kurikulum kecakapan hidup, pengembangan Paket B plus voucer untuk pemuda penganggur, dan perjanjian kesepakatan (MoU) dengan Kementerian Pertanian, Kementerian Agama, Kementerian Kelautan, Kementerian Kehakiman dan HAM.

Periode ketiga, dari 2005 sampai 2008, diarahkan pada pendidikan kesetaraan, dengan menyelenggarakan proses pembelajaran yang berorientasi pada pencapaian standar kompetensi lulusan (SKL) dengan tiga pendekatanya itu: materi ajar, yang bermuatan literasi dan life skill, pengorganisasian materi secara tematik, proses pembelajaran yang bersifat induktif, dan penilaian kompetensi.

Pada periode ini juga dikembangkan layanan pendidikan kesetaraan dalam bentuk diversifikasi layanan pangkalan belajar, yaitu sistem pelayanan yang menghubungkan antara pangkalan (homebased) dan daerah-daerah penyangga (hinterland) pada kawasan khusus, seperti kawasan perbatasan dan pulau kecil.

Pembelajaran langsung, yaitu model layanan pembelajaran yang dilakukan secara langsung. Lalu, ada layanan pendidikan bergerak (mobile education service) atau kelas berjalan (mobile classroom), yang merupakan pelayanan pendidikan dengan sistem jemput bola (door to door) yang dilakukan oleh tutor pada peserta didik dari satu tempat ke tempat yang lain.

Berikutnya E-Learning, yaitu pembelajaran pendidikan kesetaraan secara online (daring) sebagai alternatif bagi peserta didik yang relatif sulit untuk bertemu langsung.

 

Cahaya baru

Dunia pendidikan di Indonesia memancarkan cahaya harapan di mata masyarakat. Pasalnya, anak-anak putus sekolah dan anak dari keluarga kurang mampu yang tidak sanggup menyekolahkan anaknya tetap bisa mengenyam pendidikan serta mengembangkan keterampilan melalui pendidikan nonformal berbasis digital.

Wajar 12 tahun pun bukan hanya slogan, tetapi telah menjadi solusi konkret dan merata yang bisa dirasakan masyarakat. Saat ini, untuk mengatasi anak putus sekolah dan anak dari keluarga tidak mampu, Ditjen PAUD Dikdasmen melalui Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus telah menyelenggarakan pendidikan berbasis online melalui seTARA daring.

Program ini merupakan sebuah inovasi layanan pembelajaran pendidikan kesetaraan yang dapat dijadikan pilihan moda pembelajaran melalui ruang kelas digital yang dapat diakses kapan saja dan di mana saja.

Hal ini dilakukan guna mengantisipasi revolusi industri yang memasuki era keempat dalam sejarah peradaban manusia. Pada industri 4.0, teknologi manufaktur sudah masuk pada tren otomatisasi dan pertukaran data. Hal tersebut mencakup sistem siber-fisik, IoT, cloud computing, dan cognitive computing.

Tren ini telah mengubah banyak bidang kehidupan manusia, termasuk ekonomi, dunia kerja, bahkan gaya hidup. Singkatnya, revolusi industri 4.0 menanamkan teknologi cerdas yang dapat terhubung dengan berbagai bidang kehidupan manusia.

Mengantisipasi era industri 4.0, Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus menyelenggarakan pendidikan berbasis digital melalui Massive Open Online Course (MOOC). Melalui sistem ini, peserta didik di mana pun bisa mengikuti program pembelajaran secara gratis dan interaktif.

Pengguna seTARA daring per November 2020 tercatat ada 1.554 satuan pendidikan, 13.045 tutor/pendidik, dan 43.362 peserta didik, dengan total seluruh pengguna mencapai 56.407 yang mengikuti pembelajaran berbasis digital. Mereka belajar sambil bekerja. Bisa mengakses belajar melalui website, android, dan iOs.

Adapun untuk peningkatan peserta didik kesetaraan dapat dilacak melalui ujian paket kesetaraan yang mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada 2018 diikuti sebanyak 118.504 peserta didik Paket B dan 212.481 peserta didik Paket C. Lalu, pada 2019 meningkat menjadi 155.183 peserta didik Paket B dan 279.231 peserta didik Paket C. Peserta ujian kesetaraan ini semuanya mengikuti UN berbasis komputer.

Pemerintah juga memberikan kemudahan bagi peserta didik atau warga belajar pendidikan kesetaraan dengan menyertakannya sebagai penerima Program Indonesia Pintar (PIP).

Pada anggaran tahun 2019, usulan bagi warga belajar pendidikan kesetaraan Paket A, B, dan C sebanyak 544.102. Namun, yang direalisasikan sebanyak 169.127, dan pada 2020 sudah diusulkan sebanyak 372.005 ke Pusat Layanan Bantuan Pendidikan (Puslapdik).

Saat ini, besaran dana bantuan PIP untuk pemegang KIP per bulan berkisar Rp450 ribu hingga Rp1 juta. Besaran PIP per tahun untuk Paket A/SD sebesar Rp450 ribu, Paket B/SMP sebesar Rp750 ribu, dan Paket C/SMA sebesar Rp1 juta.

Semua upaya pemerintah ini dalam rangka peningkatan layanan pendidikan bagi seluruh masyarakat, serta pendidikan yang berkualitas dan merata. Hingga pendidikan kesetaraan tercatat berhasil dalam beberapa hal, seperti meningkatnya jumlah peserta didik dan lulusan, juga meluasnya keragaman karakteristik sasaran program dan jangkauan akses pendidikan kesetaraan.

Berikutnya, meningkatnya rata-rata nilai hasil UN dan bervariasinya satuan pendidikan program Paket A, B, dan C. Yang lebih menarik, terjadi perkembangan inovasi pendidikan kesetaraan, termasuk model jemput bola dan sekolah rumah (homeschooling). Diakui, meningkatnya pemahaman masyarakat tentang pendidikan kesetaraan tersebut berkat keterlibatan berbagai pihak (legislatif, selebritas, tokoh agama, pegiat pendidikan) dalam sosialisasi pendidikan kesetaraan.