Menunggu Dentuman Keras Arsenal

 

NAMA Mikel Arteta bukanlah pilihan pertama Arsenal untuk membangun kembali kebesarannya. The Gunners sebenarnya berharap Carlo Ancelotti mau menangani klub dari London Utara yang kehilangan taji setelah ditinggal Arsene Wenger.

Dengan pengalaman yang terbatas, wajar apabila banyak orang meragukan Arteta akan mampu mengembalikan kejayaan Arsenal. Sejak 2016, Arteta hanya menjadi asisten dari pelatih Josep Guardiola.

Namun, kini pendukung Arsenal harus mengubah penilaian mereka kepada pelatih barunya. Tidak banyak pelatih new kid on the block yang langsung mampu mengangkat piala dalam waktu kurang dari setahun.

Tidak tanggung-tanggung, Arteta mempersembahkan dua piala, belum satu tahun menangani Arsenal. Pertama, ia membawa the Gunners untuk ke-14 kalinya merebut Piala FA sehingga mengukuhkan sebagai klub paling sering merebut piala paling bergengsi di sepak bola Inggris. Kedua, menjadi juara pembuka musim kompetisi dengan mempersembahkan Piala Community Shield.

Kemenangan itu semakin berarti karena perjalanan menuju tangga juara Piala FA dilewati dengan menyingkirkan klub-klub besar Inggris. Pertama, Pierre- Emerick Aubameyang dan kawan-kawan menyingkirkan Manchester City di semifinal. Di pertandingan puncak, giliran Chelsea yang mereka taklukkan.

Belum cukup sampai, tim asuhan Arteta mampu mengalahkan juara Liga Premier, Liverpool, di pertandingan pembuka kompetisi, Community Shield. Memang kemenangan itu diraih melalui adu tendangan penalti, tetapi Arsenal mampu menyejajarkan dirinya dengan klub-klub besar Inggris.

Senin malam atau Selasa dini hari nanti menjadi waktu pembuktian kebangkitan kembali the Gunners. Mereka akan bertandang ke Anfield untuk kembali berhadapan dengan Liverpool.

Nothing is impossible

Semua mata kini tertuju kepada Arsenal karena sejak Juli, Arteta mampu membawa tim asuhannya mencatat prestasi yang gemilang. Pelatih muda Spanyol itu mampu menanamkan sikap nothing is impossible kepada anak-anak asuhannya.

Hasilnya, semua tim papan atas Liga Inggris bisa dikalahkan Arsenal. Terakhir Rabu lalu, giliran Leicester City yang mereka jinakkan 2-0 di babak ketiga Piala Carabao.

Apa yang membuat Arsenal bisa menjadi kekuatan besar sepak bola Inggris? Arteta tidak memilih jalan Guardiola yang mengumpulkan pemain-pemain bintang, tetapi lebih suka menggunakan pendekatan David Moyes untuk mencari pemain yang cocok dengan kebutuhan tim yang dibangunnya.

Bahkan berbeda dengan Wenger yang mengutamakan barisan penyerang, Arteta memilih untuk membangun dari barisan belakang. Ia bisa mengubah Kieran Tierney dari seorang pemain gelandang menjadi bek kiri yang andal. Demikian pula Hector Bellerin yang menjadi pasangan Tierney di posisi bek kanan.

Pemain kawakan David Luiz yang temperamental bisa diubah menjadi center-back yang tenang di jantung pertahanan. Apalagi ia mendapat pasangan muda yang sama-sama berasal dari Brasil, Gabriel dos Santos Magalhaes.

Arteta tidak mau terlalu bergantung kepada nama besar. Bintang Jerman di Piala Dunia 2014 Mesut Oezil tidak otomatis mendapat tempat di dalam tim. Bahkan saat bertemu Leicester Rabu lalu, Oezil tidak masuk tim.

“Saya punya 26 sampai 27 pemain sekarang ini. Saya harus bersikap adil untuk memberikan kesempatan kepada semua pemain untuk membela tim. Saya akan memilih yang kondisinya paling baik dan paling sesuai dengan pola yang saya pilih untuk setiap pertandingan,” kata Arteta.

Arsenal memiliki banyak pemain muda yang mulai bersinar sekarang ini. Pemain seperti Eddie Nketiah, Nicolas Pepe, dan Reiss Nelson sudah mampu mengisi posisi baik Aubameyang maupun Alexandre Lacazette.

Kehadiran gelandang Brasil dari Chelsea, Willian, semakin memperkukuh lapangan tengah Arsenal. Willian langsung padu dengan pemain-pemain seperti Bukayo Saka, Granit Xhaka, Dani Ceballos, dan Ainsley Maitland-Niles.

Mengalir

Arteta semakin membentuk Arsenal sebagai tim yang enak untuk ditonton. Bola-bola meng alir begitu lancar di antara kaki ke kaki dan membentuk geometri yang indah di sepanjang lapangan.

Leicester merasakan bagaimana Arsenal yang berbeda sekarang ini. Mereka berani dalam bermain, apalagi pemain seperti Saka, Pepe, dan Willian mempunyai kemampuan dribbling yang kuat dan mampu melewati dua-tiga pemain lawan.

Sepak bola memang bukan sekadar ditentukan kemampuan fisik dan keterampilan, serta keterpaduan tim. Faktor keberuntungan merupakan salah satu hal terpenting bagi sebuah tim untuk meraih kemenangan. Keberuntungan itu sekarang sedang berpihak kepada Arsenal.

Di awal-awal pertandingan melawan Leicester di Piala Carabao, tim ‘Rubah’ sebenarnya banyak memiliki peluang. Salah satunya diperoleh gelandang James Maddison. Dalam posisi yang begitu bebas, tendangan melengkung Maddison sudah tidak terjangkau kiper Bernd Leno. Namun, tendangan Maddison masih membentuk mistar dan bola muntah jatuh ke pelukan Leno.

Sebaliknya dalam sebuah kemelut di depan gawang Leicester, keberuntungan diperoleh the Gunners. Kesalahan perhitungan yang dilakukan Christian Fuchs dalam menghalau bola membuat Nketiah bisa mendapatkan bola di kotak penalti dan segera menyodorkan kepada Pepe.

Pemain belakang Leicester Danny Ward mencoba memotong umpan pemain nasional Inggris U-21 itu. Namun, bolanya jatuh ke kaki Pepe yang menendang bola ke arah gawang. Tendangan Pepe ternyata mengenai kaki Fuchs dan bola justru mengalir deras ke gawang Leicester.

Dengan modal besar itu wajar apabila Arteta lebih percaya diri bertandang ke Anfi eld. Pertandingan di Liverpool sekaligus menjadi penentu siapa di antara mereka yang bisa terus mempertahankan rekor kemenangan di Liga Primer musim ini.

Duo Liverpool Mohamed Salah dan Sadio Mane sudah menunjukkan performa awal yang menakjubkan. Mo Salah mencetak hattrick saat menjamu Leeds United, sementara Mane mempersembahkan dua gol kemenangan saat ‘si Merah’ mengandaskan the Blues Chelsea pekan lalu.

Dengan materi pemain yang nyaris tidak berbeda dengan musim lalu, Liverpool semakin matang sebagai tim. Kebersamaan panjang yang dibangun sejak tiga tahun terakhir semakin memperkukuh saling pengertian di antara pemain. Semua pemain bisa saling menutup kelemahan dari yang lain dengan gegenpressing yang menjadi ciri khas Juergen Klopp.

Kita tunggu saja seberapa keras dentuman meriam Arsenal bisa menggoyahkan Liverpool. The Gunners pantas menjadi penantang yang paling diperhitungkan apabila mampu mencuri poin di Anfield Senin malam nanti.