Menunggu Revolusi Biru Kedua Pep Guardiola

 

TIDAK banyak pelatih yang mampu memberi gelar kepada banyak klub yang ia tangani. Josep Guardiola merupakan salah satu dari sedikit pelatih yang bisa melakukan itu. Pelatih asal Spanyol itu bukan hanya mampu mem besarkan Barcelona dan Bayern Munchen, tetapi juga mengubah Manchester City menjadi klub yang disegani.

Dua kali ia mempersembahkan gelar juara Liga Premier kepada City. Guardiola juga tiga kali membawa tim asuhan nya menjuarai Piala Liga dan sekali merebut Piala FA. Satu yang belum mampu ia persembahkan selama empat musim menangani City ialah membawa City menjadi juara Liga Champions.

Kegagalan demi kegagalan yang ia alami di ajang Liga Champions membuat banyak spekulasi bahwa nasib Guardiola di City akan berakhir. Pelatih berusia 49 tahun itu ternyata Kamis lalu diperpanjang kontraknya untuk masa dua tahun. Buyarlah spekulasi bahwa pelatih berkepala polontos itu akan kembali ke klub lamanya, Barcelona yang sedang terpuruk prestasinya.

Guardiola memutuskan untuk bertahan guna memenuhi janjinya mempersembahkan Liga Champions bagi City. Namun, upaya itu tidaklah mudah karena ia harus membangun tim yang baru. Setelah ditinggal kapten kesebelasan Vincent Kompany, City memang kehilangan kekuatannya. Belum lagi gelandang serbabisa Fernandinho yang semakin menurun prestasinya. Pun ujung tombak Sergio Aguero yang mulai tumpul.

Beruntung Guardiola mendapatkan Ruben Dias yang menjadi andalan di belakang. Sementara untuk menggantikan Aguero, ia mendapatkan pemain muda asal Spanyol, Ferran Torres. Saat membela Tim Matador di Liga Negara UEFA, Torres membuat hattrick untuk mengempaskan Jerman 6-0.

Satu yang menjadi harapan Guardiola untuk bisa melanjutkan Revolusi Biru ialah mendatangkan anak kesayangan nya di Barcelona, Lionel Messi ke City.

Messi merasa sudah tidak cocok dengan suasana di Barca. Ia berharap akan bisa pindah ke klub lain begitu berakhir masa kontraknya dengan klub asal Catalan itu pada musim panas mendatang.

Kehadiran Messi akan bisa menjadi modal besar bagi Guardiola untuk mempersembahkan gelar juara klub Eropa kepada City. Sejak 2011, Guardiola selalu gagal untuk bisa membawa klub asuhannya

Ditunggu Mourinho

Revolusi Biru kedua yang dipersiapkan Guardiola akan diuji Jose Mourinho malam ini. City akan bertandang ke kandang Tottenham Hotspur di Stadion Tottenham Hotspur, London Utara. Sebuah perjalanan yang tidak mudah karena Mourinho mulai menemukan kembali kehebatannya dalam membangun tim.

Belajar dari pengalaman menahan Liverpool sebelum istirahat karena kompetisi antarnegara Eropa, Guardiola mungkin mempertahankan pola 4-2-3-1 untuk menjaga keseimbangan antara menyerang dan bertahan. Rodri Hernandez yang tampil menawan saat membawa Spanyol mengempaskan Jerman, akan diduetkan bersama gelandang asal Jerman Ilkay Guendogan. City perlu menjaga keseimbangan tim untuk mengantisipasi dua penyerang sayap Spurs, Son Heung-min dan Lucas Moura.

Apabila Rodri dan Guendogan mampu meredam dua penyerang tuan rumah, itu akan sangat membantu duet centerbek Aymeric Laporte dan Dias untuk mengamankan gawang City yang dikawal Ederson. Dua posisi bek sayap amat mungkin juga tetap dipertahankan, yakni Kyle Walker di kanan dan Joao Cancelo di kiri.

Dengan pertahanan yang lebih solid, membuat playmaker Kevin de Bruyne bisa berkonsentrasi mengorkestrasi penyerangan. Gelandang asal Belgia itu beruntung mendapat dukungan dari Torres yang bisa menjadi second striker dan gelandang asal Portugal Bernardo Silva yang mungkin dipercaya mengisi tempat Raheem Sterling yang mengalami cedera saat membela tim nasional Inggris.

Tugas berat harus dipikul gelandang Spurs, Giovani Lo Celso yang harus bisa mematikan gerakan De Bruyne. Pertarungan antardua pemain muda ini akan berlangsung sengit dan menentukan kemenangan timnya. Lo Celso menjadi darah segar bagi Mourinho yang harus kehilangan Tanguy Ndombele yang dibalut cedera.

Lo Celso beruntung karena ia akan didampingi dua pekerja keras Moussa Sissoko dan Pierre-Emile Hojbjerg sebagai gelandang bertahan. Sissoko selama ini dikenal sebagai pemain yang tidak pernah mengenal kompromi. Pemain asal Denmark Hojbjerg juga memberikan warna baru bagi Spurs yang tidak mudah untuk ditembus.

Mourinho mungkin akan menerapkan pola yang sama 4-2-3-1 untuk mengimbangi permainan City. Eric Dier dan Toby Alderweireld akan menjadi pasangan di jantung pertahanan. Sementara itu, Serge Aurier akan mengisi posisi bek kanan menggantikan Matt Doherty yang harus istirahat karena positif covid-19. Sementara itu, bek kiri akan diisi pemain asal Spanyol Sergio Reguilon.

Formasi ini memberi keyakinan kepada kiper Hugo Lloris untuk tidak mudah ditembus. Sejauh ini Spurs mencatat prestasi yang meyakinkan dengan menempati posisi kedua klasemen sementara, hanya terpaut satu angka dari Leicester City.

Adu serang

Dengan pertahanan yang sama-sama solid, kunci penentu kemenangan berada di barisan depan. Spurs mengandalkan pemain kawakan Harry Kane untuk bisa mencuri gol kemenangan. Sebaliknya, City akan mengandalkan penyerang asal Brasil, Gabriel Jesus, sebagai ujung tombak.

Menarik untuk menyaksikan aliran bola dibangun dari belakang dengan tempo yang dipercepat ketika melewati lapangan tengah. Spurs sangat mengandalkan kecepatan penyerang asal Korea Selatan Son Heung-min. Bersama Reguilon, ia akan saling mendukung untuk bisa memaksa Walker berbuat kesalahan sehingga pertahanan City bisa mereka tembus.

Apabila serangan dari sayap kiri tersendat, giliran Moura yang menekan dari sayap kanan. Bek kanan Aurier mempunyai fi sik yang prima untuk bisa membantu serangan. Apalagi pemain asal Pantai Gading ini selalu tampil penuh semangat dan tidak pernah mengenal lelah.

Satu yang membuat Kiper City, Ederson, harus waspada ialah gerakan-gerakan Kane yang selalu penuh kejutan. Ia bukan hanya dikenal sebagai pembunuh berdarah dingin, melainkan juga penyerang yang cerdas dan tidak serakah untuk mencetak gol. Itulah yang sering membuat Son tampil menjadi penentu kemenangan karena Kane pandai untuk menarik perhatian lawan sehingga membuat pertahanan mereka menjadi longgar.

Ederson tidak boleh membuat blunder apabila tidak ingin timnya menelan pil pahit. Kiper muda asal Brasil ini sering membuat kesalahan yang tidak perlu, tetapi Guardiola tidak mempunyai pilihan lain karena ia merupakan pemain terbaik dari materi yang ada sekarang ini.

Sebaliknya, Guardiola sangat mengandalkan Gabriel Jesus sebagai penentu kemenangan. Penyerang asal Brasil ini sudah pulih sepenuhnya dari cedera. Ia merupakan penyerang murni yang dimiliki City, setelah Aguero tidak lagi terlalu bisa diandalkan secara penuh.

Harus diakui Gabriel Jesus merupakan penyerang yang cerdik. Ia selalu pintar dalam menempatkan posisi dan memiliki keberuntungan. Penyerang City ini selalu ada di saat bola ada sehingga sering mengejutkan kiper lawan karena tiba-tiba sudah mengancam di depan gawang.

Namun, Gabriel Jesus sangat tergantung kepada De Bruyne sebagai pemberi bolabola matang. Apabila pemain asal Belgia ini tidak diberi ruang gerak yang cukup, sulit untuk bisa menopang serangan. Apalagi jika pemain yang ditugaskan untuk menjaganya mempunyai kemampuan fi sik yang kuat sehingga selalu membayangi pergerakan De Bruyne.

Di sinilah Guardiola berharap Torres bisa menjadi penyerang alternatif. Naluri penyerang berusia 20 tahun ini sangat meyakinkan. Tidak mengherankan apabila ia kelak akan menjadi penyerang andalan Spanyol menggantikan Fernando Torres. Ia memiliki ketajaman seperti seniornya.

“Selalu menarik untuk melihat bagaimana Mourinho bertemu Guardiola. Ini persaingan lama di antara mereka mulai El Clasico di La Liga hingga derby di Manchester. Mourinho telah menemukan sosok kepemimpinan nya dan di jalur yang benar dalam membangun Spurs. Apabila malam nanti Spurs bisa mengalahkan City, bukan hanya mereka akan berada di puncak klasemen, melainkan juga Spurs pantas dijagokan untuk menjadi juara musim ini,“ kata mantan bintang Manchester United, Dimitar Berbatov.