Menyongsong Tamu sang Bulan Suci

          

RAMADAN penuh berkah yang dinanti muslim sedunia sebentar lagi akan hadir sebagai tamu dalam kehidupan kita sebulan lamanya. Kita tentunya sudah mempersiapkan hadirnya tamu agung dengan memantas-mantaskan pribadi dan hati dan ibadah kita. Sebagaimana datangnya orang terpenting di dunia, segala sesuatu dipersiapkan dengan sebaik-baiknya untuk menyambut kehadirannya. Apalagi tamu yang akan datang ini banyak memberikan hadiah dan kebaikan-kebaikan bagi yang menyambutnya.

“Pribadi muslim yang baik pasti sangat menanti datangnya tamu agung yang istimewa, yang dapat mengubah amal biasa semua menjadi pahala, dan yang pahala akan dilipatganda, bahkan dalam satu malamnya bisa seribu bulan lebih kebaikannya,” kata Ketua Bidang Pendidikan dan Kebudayaan Pimpinan Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PW ISNU) DKI Jakarta Ustaz Uswadin kepada , Minggu (11/4).

Ramadan, lanjut Uswadin, merupakan tamu agung yang didamba umat, ditunggu datangnya, dan disemarakkan kehadirannya dengan kesibukan umat untuk lebih mendekat kepada Rabb. “Magnet Ramadan sangat luar biasa sehingga menarik hamba-hamba-Nya untuk mudah dan ringan kaki melangkah menuju rumah ibadah, yang pada saat di luar Ramadan sangat berat dan susah untuk melangkah,” ujar Ustaz Uswadin.

Kebaikan umat pun tersebar dan bergerak serentak seolah ditiup dan didorong oleh angin kebaikan untuk berbagi dan peduli kepada sesama. Inilah Ramadan, tamu agung yang membawa keistimewaan dan kebaikan bagi orang-orang yang mau dan mampu berinteraksi secara baik dengannya. “Menyambutnya pun sudah merupakan pahala yang besar, apalagi dengan menghidupkan syiar-syiar Ramadan 1442 H,” tegas Uswadin.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan An Nasa’i dinyatakan bahwa ‘Barang siapa yang bergembira akan hadirnya Ramadan maka jasadnya tidak akan tersentuh sedikit pun oleh api neraka’.

Ia menambahkan, tujuan puasa ialah mencapai derajat takwa, derajat tertinggi hamba Allah. Ia mengutip Alquran surah ke-49 ayat 13, Allah berfirman, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.”

Dampak baik

Uswadin mengingatkan, selain bulan penuh kebaikan, Ramadan bulan yang sangat penuh dengan ujian kesabaran, ujian keimanan, ujian kelaparan, ujian kehausan, dan beragam ujian lainnya.

“Pada masa pandemi ini Ramadan akan lebih bermakna karena kita semua sedang mengalami ujian sesungguhnya. Kita harus memakai masker, sebagai isyarat agar kita tidak berkata-kata yang kotor atau menyakiti hati orang lain. Menjaga jarak agar kita memaknai tidak mudah bergunjing dengan sesama di Ramadan serta sering mencuci tangan, yang mengandung makna agar tangan kita selalu terjaga dari perbuatan-perbuatan kotor dan tercela,” paparnya.

Hemat dia, ujian pandemi mengajari kita agar melaksanakan ibadah dengan baik dan memberikan dampak yang baik bagi yang menjalankannya. Banyak orang yang berpuasa, tetapi dampaknya hanya merasakan lapar dan haus. Tidak ada dampak sosial yang signifikan untuk kebaikan masyarakat atau lingkungan mereka yang muncul karena kesalehan diri setelah berpuasa.

Ia menegaskan berpuasa Ramadan di masa pandemi akan melatih kita untuk memanfaatkan waktu dengan baik dan bermanfaat. “Mari kita sambut Ramadan dengan mengisi dan menghidupi serta membersamai dengan amal-amalan terbaik kita untuk memperkuat hablum minannas dan hablum minallah sehingga kita dapat menghadapi ujian pandemi.” (H-3)