Momentum untuk Mencari Rida Allah

 

BERPUASA bukan hanya menyiapkan diri dari menahan godaan makan dan minum, melainkan juga puasa harus dijalani dengan mempersiapkan mental untuk meninggalkan hal-hal buruk yang sering kali diperbuat lewat hati, penglihatan, kaki, dan pancaindra kita lainnya. Hal itu diungkapkan Ustaz Mulawarman Hanase.

"Persiapan bulan puasa yang berat, yaitu kesiapan mental dan spiritual jika dibandingkan dengan kesiapan materi. Kalau meninggalkan makan minum enggak terlalu berat. Itu biasa. Tapi yang paling berat mampukah kita meninggalkan hal-hal buruk yang biasa kita lakukan?" katanya dalam kanal Youtube Istiqlal, Kamis (15/4).

Untuk itu, Ustaz Mulawarman Hanase menyatakan, Ramadan kiranya harus menjadi momentum bagi kita untuk berbenah diri. Jangan sampai ibadah yang dilakukan satu bulan penuh tidak diridai Allah karena pelaksanaan puasa tersebut tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh.

"Siapakah orang yang merugi? Ialah orang yang tidak diampuni dosanya saat Ramadan," ungkapnya.

Ia menceritakan, Rasulullah SAW selalu mengajarkan kepada sahabatnya satu doa yang diucapkan setiap Ramadan, yakni Asyhaduallaa ilaaha illallah astagfirullah asaluka ridhoka wal jannah wa au'dzubika min syahotika wannaar, allahumma innaka Afuwwun Karim tuhibbul afwa fa'fu anny ya Kariim. Doa tersebut memiliki arti 'Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak diibadati kecuali Allah, hamba mohon ampunan-Mu, rida dan surga-Mu, lindungi hamba dari murka dan neraka-Mu, Engkau Mahapemaaf, Mahamulia, menyukai maaf, maafkan hamba’.

Ajaran Rasulullah pada sahabatnya secara tidak langsung diwariskan kepada kita umat Islam. Melalui doa ini, Rasulullah mengingatkan agar kita melakukan perenungan teologis, yakni dengan selalu memperbaiki syahadat kita.

 

Tauhid

Kenapa kita harus selalu memperbaiki tauhid dan syahadat kita pada Allah? Karena rasul tahu antara Ramadan dan Ramadan yang lain, tidak menutup kemungkinan, hampir bisa dipastikan, kita melakukan kesalahan, lemah dalam tauhid meskipun kita selalu membaca syahadat dalam salat. Kadang tauhid kita terganggu oleh kehidupan sehari-hari.

"Misalnya, karyawan perusahaan. Kadang dia lebih takut membuat kesalahan di mata atasannya, jika dibandingkan dengan di mata Allah. Hal seperti ini mengganggu tauhid seseorang karena seakan-akan ada yang memberi rezeki, mahamemberi kesehatan selain Allah. Sangat menuruti anjuran dokter, tapi anjuran Allah kerap diabaikan," ujarnya.

Selain memperbaiki syahadat dan ibadah, Ramadan juga menjadi momentum untuk meminta rida Allah. "Tiket untuk masuk surga ialah memperoleh rida Allah. Kadang kita ini salatnya penuh tapi kita ini sombong dan meyakini bahwa kita sudah pasti masuk surga. Bisa jadi karena kesombongan kita memamerkan ibadah kita, itu kita tidak memperoleh rida Allah," terangnya. Ia menjelaskan, keridaan Allah bisa didapatkan dari bersungguh-sungguh melakukan ibadah dengan penuh makna, serta menghindari sifat sombong.

"Jadi, Ramadan ini bisa menjadi momentum untuk kita memohon rida dan perlindungan dari kemurkaan Allah. Kalau Allah murka, tidak ada tempat kembali yang lain kecuali neraka," tutupnya. (H-3)