Mulai Berburu Pelanggar Protokol

 

WARGA Kota Surabaya tidak bisa berleha-leha lagi berada di luar rumah tanpa mengenakan masker. Tindakan tegas akan mengiringi operasi protokol kesehatan.

“Mereka yang tertangkap akan langsung diboyong ke puskesmas terdekat untuk dilakukan tes usap,” tegas Wakil Sekretaris Satgas Covid-19 Irvan Widyanto, kemarin.

Sejumlah tim turun untuk operasi yustisi itu. Polrestabes Surabaya mengerahkan tim swab hunter. Mereka diterjunkan berpatroli di 31 kecamat­an, menyisir dari kampung ke kampung.

Tim lain ialah gabungan Satpol PP, TNI, dan Polri. Kemarin, mereka bergerak di Kecamatan Sukolilo. Hasilnya sembilan warga tidak memakai masker diangkut ke mobil dan dibawa ke Puskesmas Keputih.

“Mereka didata. KTP para pelanggar juga disita dan mereka wajib mengikuti tes usap,” tambah Irvan.

Jika hasil tes menunjukkan positif, bagi warga ber-KTP Surabaya, mereka harus masuk karantina di Asrama Haji. Warga luar Surabaya dibawa ke RS Lapangan Indrapura.

Masih di Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Sumenep terpaksa memperpanjang masa pembatasan sosial berskala mikro di tujuh desa pada Kecamatan Saronggi. Pasalnya, setelah melakukan PSBM selama dua pekan, ternyata masih ditemukan kasus penjangkitan baru.

“Bahkan dua warga meninggal dunia. Kami sudah berkoordinasi dengan warga dan pemerintah desa, sampai ada kesepakatan untuk memperpanjang kembali PSBM,” ujar Bupati Sumenep Abuya Busyro Karim.

Kebijakan itu tentu saja berdampak bagi Pemkab Sumenep. Penyaluran bantuan sembako untuk warga di tujuh desa itu kembali harus dilakukan.

Restoran

Penerapan protokol kesehatan di tempat usaha juga jadi masalah besar di Kota Cirebon, Jawa Barat. Masih banyak tempat usaha yang lalai untuk melaksanakannya secara disiplin.

Wali Kota Nashrudin Azis pun memutuskan untuk memberlakukan pembatasan jam operasional tempat usaha. Salah satu fokus ialah restoran dan tempat makam.

“Saya sudah minta mereka mengatur jarak dan mengurangi jumlah kursi hingga 50%, tapi mereka tetap buka dengan jumlah kursi normal,” ujar Azis, kesal.

Ia pun memutuskan untuk menutup semua tempat usaha pada pukul 18.00 WIB. Sebaliknya, yang melakukan layanan daring bisa melakukannya hingga pukul 21.00.

Di Jawa Tengah, Dinas Kesehatan Purbalingga menginstruksikan semua puskesmas melaksanakan tes usap. “Setiap hari, satu puskesmas harus minimal melakukan tes usap untuk delapan warga. Kami harus mengejar tes usap satu orang pada setiap 1.000 penduduk,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Hanung Wikantono.

Daerah itu memiliki 22 puskesmas. Tes usap yang sudah dilakukan baru menjangkau 917 orang. Tes usap yang akan dilakukan menyasar tenaga kesehatan, lingkung­an kasus positif, karyawan pabrik, dan penelusuran terhadap 30 orang yang pernah berinteraksi dengan pasien positif.

Kabupaten Agam, Sumatra Barat, juga sudah siap menerapkan perda soal adaptasi kebiasaan baru. “Kami akan mulai menyosialisasikan perda itu kepada dinas dan lembaga terkait, camat, serta puskesmas di seluruh daerah,” kata Pjs Bupati Benni Warlis.

Salah satu pasal di dalam perda itu mengatur soal disiplin protokol kesehatan, terutama penggunaan masker. (MG/UL/LD/YH/N-2)