Nasib Buram Kesejahteraan Petani Bawang

PETANI bawang Sanjay Sathe sangat kecewa dengan betapa sedikit yang dia hasilkan dari panennya baru-baru ini sehingga dia memutuskan untuk mengambil tindakan.

Dia mengirim wesel untuk seluruh keuntungannya – hanya US$15 – kepada Perdana Menteri Narendra Modi, yang mencalonkan kembali untuk pemilu musim semi ini. Sathe ingin menunjukkan kepadanya pendapatan kecil yang harus ditanggung petani India.

Sathe, 44, menanam bawang di sekitar 1 hektare tanah di sepanjang pinggir jalan di bagian perdesaan Negara Bagian Maharashtra, sekitar 130 mil dari Mumbai. Pertanian kecil itu makmur di bawah kakek dan ayah Sathe. Namun, kini keluarga tersebut memiliki usaha sampingan beternak kambing karena harga bawang terus turun.

Dari hasil panen yang baik, Sathe mengatakan bisa memperoleh penghasilan yang setara dengan sekitar US$350. Itu harus bertahan setengah tahun bagi keluarganya, tetapi hasil panen musim gugurnya buruk dan harga yang bisa dia jual bahkan lebih buruk, hanya 2 sen per kilogram, yang jumlahnya hanya US$15.

Sathe dan sesama petani semakin menyalahkan pemerintah. Mereka telah turun ke jalan di seluruh India dalam beberapa bulan terakhir, melakukan aksi protes yang menuntut Modi menghapus utang mereka dan menetapkan harga yang lebih tinggi untuk produk.

Pemerintah India menetapkan harga minimum untuk banyak komoditas, tetapi petani sering kali harus mengambil pinjaman dari bank pemerintah dan pemberi pinjaman swasta untuk memenuhi kebutuhan.

Sekitar setengah dari orang India bekerja di sektor pertanian dan dua pertiga tinggal di daerah perdesaan. Mereka akan menjadi blok suara yang kuat dalam pemi­lu mendatang, yang diperkirakan pada Mei.

“Pemerintah mengabaikan petani. Pemerintah memberikan keringanan pajak untuk bisnis besar dan memainkan kontroversi atas kuil-kuil Hindu dan semacamnya – semuanya untuk mendapatkan suara,” kata Sathe. “Tapi lihat kami! Kami sekarat di sini,” ucapnya.

Dia tidak melebih-lebihkan. Wabah bunuh diri telah merenggut nyawa puluhan ribu petani India selama dua dekade terakhir karena harga pangan turun dan harga pestisida serta pupuk semakin mahal. Maharashtra, yang juga sering mengalami kekeringan, disebut-sebut sebagai episentrum krisis, dengan lebih dari 20 ribu petani bunuh diri dari pada 2001 hingga 2017.

Harga pangan yang rendah membuat orang miskin di India tidak kelaparan. Namun, bagi petani, itu berarti keuntungan yang rendah. Pemerintah Modi telah berhati-hati dalam memenuhi permintaan petani untuk harga pangan yang lebih tinggi. Meskipun baru-baru ini mereka mengalokasikan dalam anggaran sementaranya pendapatan yang dijamin sebesar 6.000 rupee (sekitar US$84) setiap tahun untuk setiap petani India.

“Para petani menginginkan harga yang lebih tinggi. Konsumen menginginkan harga yang lebih rendah. Jadi, ada pertentangan yang sangat besar terhadap gagasan untuk menaikkan harga dukungan minimum bagi petani karena dianggap akan menyebabkan inflasi,” kata Ekonom R Ramakumar dari Tata Institute of Social Sciences di Mumbai.

Dalam kasus bawang, tidak ada harga minimum – jadi itu sangat tidak stabil.

Dirugikan kebijakan pemerintah

Lebih buruk lagi bagi para petani dua tahun yang lalu, ketika pertanian yang berjalan hampir hanya dengan uang tunai, secara tidak sengaja dirugikan oleh kebijakan baru pemerintah yang dirancang untuk memerangi korupsi. Itu ialah salah satu kebijakan Modi: demonetisasi.

Pada November 2016, pemerintah India membatalkan sebagian besar uang kertas negara itu, ter­utama uang kertas dari denominasi besar. Orang India harus menyetor uang tunai mereka ke bank atau setidaknya menukar uang lama mereka dengan yang baru.

“Mereka menarik semua uang kertas 500 rupee dan 1.000 rupee yang beredar. Jadi pedagang tidak punya uang tunai untuk membeli produk petani ini,” kata Ramakumar. “Itu sebabnya banyak petani benar-benar membuang bawang di jalan sebagai bentuk protes,” tambahnya.

Itu terjadi pada akhir 2016. Pada akhir Desember 2018, harga bawang di Maharashtra turun lebih dari 80% karena surplus dan ekspor yang lebih sedikit. Maharashtra adalah produsen bawang terbesar di India dan rumah bagi pasar grosir bawang terbesar di negara itu.

Dalam kunjungan ke pasar grosir bawang pada Januari, NPR menemukan berderet-deret truk yang dipenuhi bawang yang membusuk di bawah sinar matahari. Menolak menjual dengan kerugian, petani menunggu harga yang lebih tinggi – yang tidak pernah terwujud.

“Saya bahkan tidak mampu menyewa truk untuk mengangkut bawang saya ke sini,” kata petani Vijay Ghayal, 43, pemilik satu truk yang penuh bawang. “Kita semua berada dalam situasi yang sama,” katanya. (NPR/Nur/I-1)