Opini

KARTINI dan gerakan emansipasi yang telah ia gagas menoreh­kan titik awal yang membuka mata akan makna kesetaraan gender. Perjuangan yang diinisiasinya telah membentuk konsep perempuan modern yang memiliki kesempatan, hak, dan otonomi yang setara dengan kaum lelaki.     

Perempuan kemudian memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan, mengejar mimpi dan cita-cita, menyalurkan bakat serta ide. Perempuan, perlahan memiliki keleluasaan mengembangkan potensi, bekerja dan meniti karier sehingga memiliki peran dalam perekonomian keluarga, yang berdampak pada kemajuan perekonomian negara.

Tentu saja, perjuangan Kartini masih terus menjadi tugas bersama agar dapat beriringan dengan dukungan sektor bisnis yang menjadi salah satu wadah perempuan berpartisipasi secara ekonomi. Akan tetapi, jalan terjal dan berliku masih mengemuka. Gagasan Kartini yang mendobrak tembok tebal emansipasi tidak otomatis menjadi kumparan yang mendorong perjuangan dengan mudah. Khususnya, perihal isu yang melingkupi perempuan pekerja.

Menilik data Global Gender Gap Index 2021, posisi Indonesia turun dari peringkat 85 tahun lalu menjadi 101 di tahun ini. Fakta yang perlu menjadi cambuk kita, Timor Leste yang pernah menjadi bagian NKRI berada di posisi 49, jauh di atas Indonesia. Indikator kemerosot­an tertinggi disumbang kesempatan berpartisipasi di bidang ekonomi. Tahun lalu, Indonesia berada di peringkat 68, tahun ini turun menjadi 99.

Pandemi covid-19 memperburuk angka partisipasi pekerja perempuan. Berdasarkan policy brief Program Kemitraan Indonesia Australia untuk Perekonomian, pekerja perempuan mendominasi sektor industri yang paling terpukul covid-19.

Secara persentase, 40% dari total angkatan kerja adalah perempuan. Tetapi proporsi yang bekerja di sektor hospitality dan paling terdampak covid-19 ialah sebanyak 59%, lebih besar dari angka pekerja laki-laki. Sebanyak 74% perempuan yang mencari nafkah tersebut bekerja dalam kondisi kontrak yang tidak jelas. Di tengah disrupsi ekonomi akibat pandemi, mereka rentan kehilangan pekerjaan.  

Sektor bisnis berperan signifikan dalam mengatasi jurang kesetaraan gender. Dibutuhkan partisipasi aktif sektor bisnis untuk bekerja sama dan berkolaborasi menumbuhkan kesadaran kolektif mendacai kemajuan kesetaraan gender. Agar apa yang dicita-citakan Kartini menjadi napas kerja bersama untuk memastikan Indonesia menjadi rumah terbaik kaum perempuan.

Jika melihat dari kacamata tata kelola perusahaan, ada 3 tolok ukur yang perlu dijalankan dengan mengacu pada ESG Index-Environmental, Social and Good Governance. Dengan demikian, perusahaan perlu mengacu pada tata kelola lingkungan, sosial, dan pengorganisasian untuk mengukur komitmen keberlanjutan (sustainability) atas investasi bisnis.

Isu gender merupakan bagian dari komponen tata kelola sosial. Bagaimana perusahaan memberlakukan prinsip diversity dan inclusion. Prinsip itu menjadi indikator penting ESG index dari SDGs invest sustainability score card sebagai implementasi investasi yang bertanggung jawab. Diversity and inclusion menjadi salah satu tolok ukur investasi dengan salah satu key metrics: gender gap pay.

Indonesia mewajibkan perusahaan publik melaporkan kinerja ESG melalui Laporan Keberlanjutan sesuai Peraturan OJK No 51/2017. Pembangunan ekonomi memang seharusnya memberi ruang bagi peningkatan kesetaraan gender jangka panjang karena Pembangunan Berkelanjutan memiliki tujuan mulia dalam menjunjung tinggi HAM untuk mencapai kesetaraan gender.

Sektor bisnis memiliki peranan signifikan dalam mendorong gender equality sebagai wujud investasi bisnis yang bertanggung jawab. Laporan kesetaraan gender yang dilakukan perusahaan perlu disampaikan dalam Laporan Keberlanjutan dalam menjalankan usaha.

Gender gap pay masih menjadi salah satu isu yang mengemuka terkait target pencapaian kesetaraan gender sehingga perusahaan perlu memberi perhatian perihal implementasi kebijakan kesetaraan kompensasi. Apakah perusahaan memberikan paket remunerasi (gaji, asuransi, tunjangan) yang sama.

Perusahaan juga perlu menetapkan target pencapaian untuk komposisi gender melalui pemilahan berdasarkan jenis kelamin, membagi  dalam 5 level struktur: eksekutif, manajemen senior, menengah, pengawas, dan staf. Proses seleksi dan rekrutmen juga perlu menjadi perhatian. Apakah perusahaan menetapkan proses perekrutan yang memberi kesempatan sama untuk semua posisi secara terbuka, adil nondiskriminatif.

Hal lain yang perlu dilaporkan ialah bagaimana perusahaan menerapkan kebijakan promosi, pengembangan profesional, dan pendampingan setara dengan perspektif gender, melalui perencanaan suksesi, pelatihan kepemimpinan, serta program pendampingan tanpa mengabaikan pertimbangan kebutuhan dan latar belakang gender.

Pengaturan kerja yang fleksibel juga merupakan kebijakan penting yang perlu menjadi komitmen untuk mendorong produktivitas serta mempertahankan talenta perempuan di dunia kerja. Perempuan membutuhkan fleksibilitas lokasi, waktu, hingga cara kerja. Terutama, seperti masa menyusui, waktu yang leluasa untuk mengasuh anak di usia 1-3 tahun yang merupakan usia emas.

Pelecehan seksual yang rentan terjadi di lingkungan kerja adalah hal lain yang krusial.  Bagaimana perusahaan berkomitmen menyusun kebijakan untuk mencegah dan menangani kasus pelecehan seksual, diskriminasi berbasis gender, hingga kekerasan rumah tangga. Hal ini untuk memastikan perusahaan hadir menyediakan layanan bagi penanganan kasus itu. Terutama, dengan memastikan proses pemulihan dampak psikologis yang bisa berimbas pada produktivitas.

Yang terakhir tapi tak kalah penting ialah bagaimana komitmen top level management dalam mengimplementasikan kebijakan yang mendukung kesetaraan gender. Apakah perusahaan telah mempromosikan keragaman dalam tugas top management dan menjadikannya sebagai key performance indicator sebagai aplikasi akuntabilitas.

Keragaman yang didukung kebijakan formal perusahaan akan menumbuhkan rasa diterima dan dilibatkan bagi setiap individu. Hal itu mendorong produktivitas, membentuk semangat collective leadership. Survei yang dilakukan International Labour Organization terhadap 414 perusahaan Indonesia menemukan fakta 66% perusahaan melaporkan bahwa keragaman mampu meningkatkan produktivitas, inovasi, kreativitas, dan keuntungan perusahaan. Dengan demikian, tidak ada alasan bagi perusahaan untuk tidak segera memulai pekerjaan rumah ini bersama-sama.

Itu karena kesetaraan gender yang diperjuangkan Kartini bermakna bagaimana kita semua memiliki hak setara untuk hidup secara terhormat, merdeka, bebas menentukan pilihan, memanusiakan setiap manusia secara utuh tanpa mempertajam perbedaan, sebagai upaya membentuk kesadaran kolektif dalam memberikan penghormatan bagi setiap manusia, tanpa terkecuali.