Pelajaran dari Terusan Suez

PADA pertengahan Maret lalu, selama hampir lebih dari sepekan, Terusan Suez macet. Di jalur pelayaran paling sibuk di dunia itu, ribuan kapal terjebak. Persoalannya sepele. Sebuah kapal kontainer Ever Given melintang karena terjebak di perairan yang sempit dan dangkal. Insiden itu melumpuhkan jaringan pasokan global sehingga memaksa perusahaan kargo memilih menunggu atau mengubah rute melalui ujung utara Afrika. Harga minyak dunia melambung. Total kerugian akibat insiden itu ditaksir mencapai Rp14 triliun.

Kapal kontainer sepanjang 400 meter itu memang akhirnya bisa berlayar kembali pada 29 Maret lalu setelah dilakukan berbagai upaya, termasuk pengerukan. Otoritas pengelola Terusan Suez menyebut angin kencang atau faktor alam bukan satu-satunya penyebab karamnya kapal itu. Mereka menduga adanya kesalahan teknis dan kesalahan manusia. Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi berjanji akan berinvestasi untuk menghindari terulangnya insiden itu. Dia tidak merinci peralatan apa yang akan dibeli. Namun, dalam komentar terpisah kepada media, Kepala Otoritas Terusan Suez Osama Rabie menyatakan perlunya ada kapal keruk dan kapal tunda baru.

Peristiwa yang terjadi di Terusan Suez itu bisa terjadi di mana saja. Terlepas apa pun pemicu utamanya, faktor alam ikut berperan pada insiden yang terjadi di jalur yang menghubungkan Laut Mediterania dan Laut Merah tersebut. Sejumlah pengamat bilang jalur itu kini semakin menyempit dan dangkal. Insiden semacam ini bisa terjadi di mana saja, termasuk Selat Malaka. Dari peristiwa ini, pelajaran yang barangkali bisa dipetik ialah perlunya menjaga kelestarian lingkungan. Sama seperti halnya pendangkalan sungai atau beralihnya fungsi daerah aliran sungai sebagai area permukiman yang menyebabkan banjir. Kerugiannya miliaran.

Belum lama ini sejumlah ekonom dari seluruh dunia menyebut dampak pemanasan global akan jauh lebih besar daripada ongkos untuk mengatasi pengurangan emisi gas rumah kaca. Seperti kita tahu, pemanasan global juga akibat perbuatan atau ulah manusia. Survei internasional yang dipaparkan pada akhir Maret lalu itu menemukan hampir tiga perempat ekonom yang memberikan tanggapan percaya perlu tindakan segera dan drastis untuk membatasi dampak perubahan iklim. Mereka juga memperingatkan biaya kegagalan untuk mengurangi polusi karbon akan dengan cepat membengkak hingga mencapai triliunan dolar setiap tahun. Itu artinya bakal menggerus pendapatan domestik bruto di tiap negara.

Seruan para ekonom itu hendaknya menjadi peringatan bagi semua, termasuk Indonesia. Apalagi negara ini di kelilingi gunung api (ring of fire) yang rawan memicu bencana vulkanis. Belum lagi banjir, tanah longsor, gempa, dan kebakaran hutan. Mitigasi hendaknya diperlukan sedini mungkin untuk mencegah kerugian yang lebih besar. Alam telah memberikan kita banyak hal, termasuk pelajaran tentang pentingnya merawat dan menjaga kelestarian lingkungan. Dari peristiwa yang terjadi di Terusan Suez, seharusnya kita belajar.