Pembelajaran Daring Berbasis Karakter

PANDEMI covid-19 yang belum melandai, membuat guru dan peserta didik masih harus melaksanakan pembelajaran berbasis daring. Sampai kapan kondisi ini akan berlangsung? Kemendikbud memutuskan bahwa pembelajaran daring akan dilaksanakan hingga akhir 2020. Meski banyak yang kecewa, langkah tersebut semata-mata bertujuan untuk mencegah penyebaran virus covid-19 terhadap anak di lingkungan sekolah.

Guru pun otomatis kembali ditantang untuk mencari dan menggali potensi metode pembelajaran yang tertuang dalam rencana pembelajaran. Tantangan itu pun bukan hanya terletak pada bagaimana melakukan proses transfer ilmu berupa wawasan kepada peserta didik, tapi juga menyoal bagaimana pembelajaran daring bisa tetap berorientasi pada pendidikan karakter. 

Secanggih apapun pembelajaran daring, bagaimanapun guru adalah roh dan spirit untuk mencapai tujuan pendidikan. Pembelajaran daring dengan berbagai aplikasi yang menarik takkan dapat menggantikan peran guru sebagai pendidik. Karena pendidikan tidak hanya sekadar transfer of knowledge tetapi juga transfer of values, nilai-nilai moral. Maka dari itu, kini dalam pembelajaran daring, guru dituntut tidak sekadar menyampaikan ilmu pada siswa, tetapi juga menumbuhkembangkan pendidikan karakter.

Tentu tidak mudah. Karena guru tidak bisa mengawasi secara langsung perkembangan karakter anak seperti saat berada di lingkungan sekolah. Penanaman karakter menjadi salah satu integral penting dalam dunia pendidikan terutama dalam rangka menghadirkan sumber daya manusia yang tidak hanya cerdas namun juga ramah, humanis, jujur, disiplin, dan bertanggung jawab. Di tengah kesulitan, guru tetap harus berusaha mencari jalan. 

Hal yang bisa dilakukan agar peserta didik tetap belajar untuk ramah adalah kegiatan yang sederhana ini bermakna mendalam, yakni menyapa dan menanyakan kabar saat awal pembelajaran. Dengan terbiasa pada budaya tegur sapa, peserta didik bisa menjadi salah satu pelopor kerukunan hidup dalam masyarakat di masa mendatang.

Kedua, untuk menumbuhkan rasa humanis, guru bisa mendesain pembelajaran agar memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk merefleksikan nila-nilai kemanusiaan dalam materi ajar yang mereka terima. Misal pada pelajaran sejarah, guru dapat memberikan tugas dengan mengajak peserta didik untuk menemukan dan menggali nilai kemanusiaan yang terdapat dari suatu peristiwa sejarah. Atau guru dapat menyusupkan pesan-pesan moral saat memberikan materi kepada peserta didik dan bisa melalui penayangan video inspiratif di aplikasi pembelajaran.

Plagiarisme
Masa pembelajaran daring ini, pendekatan sistem juga diperlukan untuk menunjang pendidikan karakter. Misalnya persoalan kejujuran peserta didik yang menjadi salah satu polemik terutama terkait potensi plagiarisme yang dilakukan. Beberapa peserta didik betul-betul memanfaatkan pembelajaran daring ini untuk menemukan cara termudah mendapat nilai tinggi melalui kegiatan plagiarisme. 

Guru bisa meminimalisir dengan membuat soal penugasan yang berbasis Higher Order Thinking Skill (HOTS). Selain membuat peserta didik kesulitan untuk mencari kunci jawaban di internet, soal HOTS juga akan menantang peserta didik untuk berpikir kritis dan kompleks.

Guru perlu membentuk desain yang membuat peserta didik terbiasa pada sikap disiplin dan bertanggung jawab; pertama, misalnya dengan menghadirkan semacam kontrak komitmen di awal pertemuan. Salah satunya mengajak peserta didik untuk disiplin dan bertanggung jawab. 

Kedua, misalnya dengan melakukan absen yang disetting dengan waktu. Pada aplikasi-aplikasi untuk pembelajaran, ada menu untuk mengatur waktu agar tertutup otomatis seperti Edmodo atau secara manual ditutup seperti Google Form. Tidak hanya untuk absen, penugasan pun bisa diterapkan hal demikian sehingga peserta didik belajar untuk tepat waktu sebagai bagian dari sikap disiplin dan bertanggungjawab.

Kerja sama orangtua
Guru juga perlu menjalin kerja sama dengan orangtua untuk mengawasi perkembangan karakter peserta didik ketika berada di rumah. Tentu tak bisa dilupakan, peran keluarga adalah sekolah pertama anak dalam hal pendidikan karakter. Karena itu, harus ada sinergitas antara sekolah dan keluarga dalam menumbuhkembangkan karakter anak.

Orangtua bisa mengisi pendidikan karakter untuk anaknya, misal bisa berupa berbagi bakat. Saya melihat tidak sedikit keluarga yang cenderung mengabaikan hal ini. Padahal setiap orang dalam keluarga dari yang paling muda hingga yang paling tua memiliki berbagai karunia bawaan. 

Di sana ada kepandaian, daya tahan tubuh, kepekaan, kerapian, inisiatif, semangat doa, ambisi, kepemimpinan, kasih, kesederhanaan, ketangguhan. Ada rasa keadilan pada anak-anak, kerja keras dari ayah, kebijaksanaan dari ibu, atau kemurahhatian dari orangtua.

Karunia bakat-bakat tersebut acapkali menjadi milik pribadi dan dikenal orang-orang di luar rumah. Kepemimpinan seorang ayah yang sangat dihormati di kantornya perlu dibagikan kepada anak-anaknya. Seorang ibu yang murah hati dan suka berbagi untuk orang-orang di sekitarnya perlu diketahui anak-anaknya. 

Bahkan, berpikir bijak dan toleransi anak-anak kita dalam membahas, merespons, atau menanggapi suatu masalah di masyarakat itu pun tidak jauh dari cara orang tuanya. Keteladanan dan kelisanan menjadi pilihan cara berbagi bakat dan karakter dalam keluarga. Cara bertindak orangtua akan dibaca anak-anak yang diam-diam akan mencontohnya. 

Bekerja dan belajar dari rumah sangat mengandalkan teknologi, tidak sedikit orangtua yang harus bertanya kepada anaknya yang lebih terampil. Situasi ini menguak kemauan belajar dan kerendah-hatian orangtua. Itulah yang dilihat anaknya. Anakpun belajar bermurah hati menolong orang yang membutuhkan.

Tentu saja masih ada cara lain untuk memastikan pendidikan karakter tetap berlangsung selama pelajaran daring. Semua tergantung kreativitas. Satu hal yang pasti adalah semua itu harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.